Ritme Musik dalam Kehidupan Logika Angka Borobudur Oleh Sucoro Setrodiharjo - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Selasa, 28 April 2026

Ritme Musik dalam Kehidupan Logika Angka Borobudur Oleh Sucoro Setrodiharjo

 

Jika kita perhatikan lebih dalam, musik rinding yang direvitalisasi oleh pemusik asal Malang seperti Bejo Sandy menyimpan kearifan lokal sekaligus identitas budaya yang kuat. Dari situ, tampak sebuah benang merah yang menghubungkan dua hal yang sekilas berbeda: alunan musik etnis Nusantara dan struktur Candi Borobudur. Keduanya sama-sama berbicara dalam bahasa angka dan pola yang bukan sekadar hitungan teknis, melainkan cara memahami kehidupan yang bergerak, berputar, dan bermakna.

Selama ini, logika angka sering dipahami secara pragmatis: sebagai ukuran, patokan, atau data yang bisa dihitung. Namun bagi leluhur kita, angka adalah bahasa simbolik. Di Borobudur, setiap tingkatan, jumlah stupa, hingga proporsi ruang tidak disusun secara acak. Terdapat pola berulang dan perbandingan yang dirancang dengan cermat. Angka-angka itu menjadi representasi perjalanan spiritual—dari dunia yang penuh keterikatan menuju kesadaran dan pencerahan.

Rumus sederhana: pengalaman + kesadaran = kebijaksanaan menjadi kunci untuk membaca makna tersebut. Di sinilah logika angka Borobudur melampaui hitungan biasa. Angka tidak berhenti sebagai angka, melainkan menjelma menjadi makna ketika dipahami dalam konteksnya. Sayangnya, masih banyak yang memandang Borobudur hanya sebagai objek wisata atau komoditas sejarah, padahal ia adalah cerminan cara pandang hidup yang utuh.

Ritme Musik: Suara dari Pola yang Sama

Jika kita beralih ke dunia music khususnya gamelan sebagai jantung musik etnis Jawab kita akan menemukan pola yang serupa. Ketukan seperti 1–2–3–4, pola buka–tutup, naik–turun, bukan sekadar aturan musikal. Ritme ini mencerminkan gerak alam dan siklus kehidupan: ada waktu untuk bergerak dan berhenti, ada masa tumbuh dan kembali.

Ritme gamelan lahir dari realitas budaya masyarakatnya. Para pencipta dan pemainnya hidup berdampingan dengan alam mengamati siklus musim, tanam dan panen, hingga perjalanan hidup manusia. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam pola bunyi yang teratur namun tetap hidup. Karena itu, tidak mengherankan jika ritme musik ini memiliki keterkaitan filosofis dengan pola yang terwujud dalam Borobudur.

Titik Temu: Ritme Kehidupan

Di sinilah pertemuan itu menjadi nyata. Borobudur adalah perwujudan ritme kehidupan dalam bentuk batu, sedangkan musik etnis adalah perwujudan ritme yang sama dalam bentuk suara. Keduanya menggunakan logika angka sebagai medium, tetapi memiliki tujuan yang sama: menggambarkan bagaimana kehidupan berjalan.

Dengan cara pandang ini, pertanyaan seperti “untuk apa musik ini” atau “ke mana arahnya” menjadi lebih jernih. Musik etnis tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau identitas budaya, melainkan sebagai medium penyampai makna makna yang sejalan dengan nilai-nilai yang tersimpan dalam warisan budaya seperti Borobudur.

Pada akhirnya, tunggu tanggal penampilanya dalam Event Budaya Rakyat 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur di Kampoeng Seni Borobudur 25-31 Mei 2026

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar