Jika kita perhatikan lebih
dalam, musik rinding yang direvitalisasi
oleh pemusik asal Malang seperti Bejo Sandy
menyimpan kearifan lokal sekaligus identitas budaya yang kuat. Dari situ,
tampak sebuah benang merah yang menghubungkan dua hal yang sekilas berbeda:
alunan musik etnis Nusantara dan struktur Candi
Borobudur. Keduanya sama-sama berbicara dalam bahasa angka dan pola yang
bukan sekadar hitungan teknis, melainkan cara memahami kehidupan yang bergerak,
berputar, dan bermakna.
Selama
ini, logika angka sering dipahami secara pragmatis: sebagai ukuran, patokan,
atau data yang bisa dihitung. Namun bagi leluhur kita, angka adalah bahasa
simbolik. Di Borobudur, setiap tingkatan, jumlah stupa, hingga proporsi ruang
tidak disusun secara acak. Terdapat pola berulang dan perbandingan yang
dirancang dengan cermat. Angka-angka itu menjadi representasi perjalanan
spiritual—dari dunia yang penuh keterikatan menuju kesadaran dan pencerahan.
Rumus
sederhana: pengalaman + kesadaran =
kebijaksanaan menjadi kunci untuk membaca makna tersebut. Di sinilah
logika angka Borobudur melampaui hitungan biasa. Angka tidak berhenti sebagai
angka, melainkan menjelma menjadi makna ketika dipahami dalam konteksnya.
Sayangnya, masih banyak yang memandang Borobudur hanya sebagai objek wisata
atau komoditas sejarah, padahal ia adalah cerminan cara pandang hidup yang
utuh.
Ritme Musik: Suara dari Pola yang Sama
Jika
kita beralih ke dunia music khususnya gamelan sebagai jantung musik etnis Jawab
kita akan menemukan pola yang serupa. Ketukan seperti 1–2–3–4, pola buka–tutup,
naik–turun, bukan sekadar aturan musikal. Ritme ini mencerminkan gerak alam dan
siklus kehidupan: ada waktu untuk bergerak dan berhenti, ada masa tumbuh dan
kembali.
Ritme
gamelan lahir dari realitas budaya masyarakatnya. Para pencipta dan pemainnya
hidup berdampingan dengan alam mengamati siklus musim, tanam dan panen, hingga
perjalanan hidup manusia. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam pola bunyi
yang teratur namun tetap hidup. Karena itu, tidak mengherankan jika ritme musik
ini memiliki keterkaitan filosofis dengan pola yang terwujud dalam Borobudur.
Titik Temu: Ritme Kehidupan
Di
sinilah pertemuan itu menjadi nyata. Borobudur adalah perwujudan ritme
kehidupan dalam bentuk batu, sedangkan musik etnis adalah perwujudan ritme yang
sama dalam bentuk suara. Keduanya menggunakan logika angka sebagai medium,
tetapi memiliki tujuan yang sama: menggambarkan bagaimana kehidupan berjalan.
Dengan
cara pandang ini, pertanyaan seperti “untuk apa musik ini” atau “ke mana
arahnya” menjadi lebih jernih. Musik etnis tidak hanya berfungsi sebagai
hiburan atau identitas budaya, melainkan sebagai medium penyampai makna makna
yang sejalan dengan nilai-nilai yang tersimpan dalam warisan budaya seperti
Borobudur.
Pada akhirnya, tunggu tanggal
penampilanya dalam Event Budaya Rakyat 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur di Kampoeng
Seni Borobudur 25-31 Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar