Tim Redaksi Sekolah Kehidupan Borobudur
Warung Info Borobudur: Dalam
suasana yang khidmat, nilai-nilai spiritualitas Nusantara kembali dibedah dalam
gelaran Webinar Sekolah Kehidupan ke-11, Minggu (10/5/2026) malam. Acara yang
merupakan bagian dari rangkaian perayaan 24 tahun Ruwat Rawat Borobudur ini menghadirkan
Keynote speaker Prof Dr M Baiquni UGM,Syamsul Hadi SH.MM Direktur KMA Kementerian
Kebudayaan . Narasumber utama Toni Yunus, seorang Pemerhati Sastra Jendra, yang
memaparkan visi spiritual Borobudur di hadapan 129 peserta melalui ruang
virtual.
Diskusi yang
dimulai pukul 19.00 WIB ini dipandu oleh moderator Sucoro Setrodiharjo. Dalam
paparannya, Toni Yunus menekankan bahwa di tengah masifnya pembangunan
infrastruktur fisik, Candi Borobudur harus tetap mampu menjalankan fungsi
utamanya sebagai panduan spiritual: mengajarkan "jalan sunyi" menuju
kebijaksanaan.
Spiritualitas
sebagai Mandala Kesadaran Toni Yunus memandang Borobudur bukan sekadar tumpukan
batu bersejarah, melainkan sebuah mandala spiritual yang hidup. "Borobudur
adalah cermin kesadaran manusia yang dibangun dengan nilai-nilai kejiwaan
mendalam. Esensi spiritual ini tidak bisa dilepaskan darinya," ungkapnya.
Di era
modern yang didominasi oleh pencitraan dan haus popularitas, Toni mengajak
generasi muda untuk meneladani sosok Semar Bodronoyo. Melalui kacamata Sastra
Jendra, Semar digambarkan bukan sebagai raja atau kesatria, melainkan sosok
paling bijaksana yang mengedepankan kerendahan hati. Pesan "Urip iku urup" (hidup
itu menyala) menjadi inti dari kekuatan spiritual sejati di mana manusia hadir
untuk menerangi dan bermanfaat bagi sesama, bukan sekadar mencari panggung
kekuasaan.
Pesan Sabdo
Palon dan Warisan Sosrokartono Toni juga menyentuh nilai filosofis dari sosok
Sabdo Palon yang ia sebut sebagai "Ruh Nusantara". Baginya, legenda
Sabdo Palon bukanlah ramalan mistis untuk menakut-nakuti, melainkan pengingat
agar manusia tidak tercerabut dari akar budaya dan kehilangan keseimbangan
jiwanya di tengah krisis moral dan kerusakan alam.
Hal ini
diperkuat dengan ajaran Raden Mas Panji Sosrokartono yang sangat dikagumi Toni.
Ajaran "sugih tanpa bondo,
digdaya tanpa asih, menang tanpa ngasorake" (kaya tanpa harta, sakti
tanpa bantuan, menang tanpa merendahkan) menjadi pondasi penting bahwa ilmu
tanpa welas asih akan kehilangan makna. "Kita harus kuat dan menang tanpa
harus merendahkan orang lain," tegas Toni.
Transformasi
untuk Masa Depan Merespon tantangan zaman, Toni Yunus melontarkan refleksi
mendalam: "Jika Borobudur
dibangun hari ini, pesan apa yang ingin ia sampaikan kepada manusia
modern?" Menurutnya, Borobudur menawarkan solusi bagi kesehatan mental
(mental health) dan over-stimulasi digital melalui
konsep hening, kontemplasi, dan mindfulness.
Proses menaiki tingkat-tingkat candi dianalogikan sebagai proses healing atau kenaikan level
kesadaran manusia.
Konsep "Memayu
Hayuning Borobudur" yang menjadi tema besar diskusi ini dimaknai sebagai
upaya menjaga keindahan lahir dan batin peradaban. Toni memperingatkan bahwa
yang runtuh lebih dahulu dalam sebuah bangsa seringkali bukanlah bangunan
fisiknya, melainkan kesadaran manusianya. Oleh karena itu, pembangunan
mental-spiritual melalui lingkup kecil seperti pelestarian nilai Borobudur
menjadi sangat krusial.
Simbolisme
Sesaji yang Membebaskan Di akhir sesi, Toni Yunus bersama moderator Sucoro
meluruskan persepsi tentang simbol-simbol tradisi seperti sesaji. Baginya, sesaji
bukanlah praktik untuk mengundang kekuatan gaib yang menakutkan, melainkan
simbol keikhlasan dan doa. Tumpeng dan pernak-pernik lainnya adalah bahasa
simbolik untuk menggambarkan tekad (mempeng) dan pertolongan (pitulungan) dari Yang Maha Kuasa.
Webinar
Sekolah Kehidupan kali ini berhasil memberikan perspektif baru bahwa Borobudur
tidak meminta kita kembali ke masa lalu, melainkan mengajak kita membawa
kebijaksanaan leluhur untuk menjawab tantangan masa depan. Borobudur adalah
batu yang dibangun dengan kesadaran, dan melalui kesadaran pulalah kita
melestarikannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar