Mengapa Empu Membuat Gong?
Apakah Empu menciptakan gong hanya untuk
menghasilkan bunyi?
Apakah yang diharapkan sekadar dentang nyaring yang menandai irama?
Ataukah sesungguhnya ada pesan batin yang lebih dalam di balik bunyi itu?
Sejak dahulu, seorang Empu tidak menempa gong hanya
dengan keterampilan tangan, melainkan dengan perjalanan jiwa. Sebelum logam
dipanaskan dan dipukul menjadi bentuk, Empu menjalani puasa, tirakat, dan
penyepian diri sesaji , dengan tumpeng, bunga membakar kemenyan. Yang dicari
bukan semata kesempurnaan bunyi, melainkan ketenangan hati, kebulatan tekad,
dan keselarasan batin antara manusia dengan jagat raya.
Karena itu, gong bukan sekadar alat musik. Ia
adalah penanda irama kehidupan sekaligus penanda pulang sebuah
panggilan sunyi agar manusia kembali pada keseimbangan batin setelah bergolak
dalam kegaduhan dunia. Dentang gong mengingatkan bahwa segala yang bergerak
pada akhirnya harus kembali pada titik hening.
Lalu, jika nenek moyang kita pada abad ke-8 hingga
ke-9 Masehi mampu menorehkan peradaban besar, apakah sesungguhnya yang hendak
mereka wariskan kepada kita?
Pada masa Wangsa
Syailendra, ketika tokoh-tokoh seperti Rakai
Pikatan dan Pramodhawardhani hadir
dalam sejarah, tampak adanya isyarat besar tentang harmoni dan penyatuan.
Perjumpaan nilai Buddha dan Hindu di tanah jawa ,tidak semata menjadi kisah
politik kekuasaan, melainkan simbol kebijaksanaan bahwa perbedaan dapat dirangkul dalam
keseimbangan.
Di tengah Pulau Jawa, berdirilah Candi Borobudur sebagai salah satu torehan
sejarah besar peradaban Nusantara. Namun, apakah Borobudur hanya sekadar
tumpukan batu? Ataukah ia sesungguhnya adalah “gong besar” kebudayaan yang
dibangun untuk mengumandangkan kesadaran manusia lintas zaman?
Dahulu, mendaki Borobudur bukan sekadar perjalanan
fisik. Ia adalah perjalanan batin: dari Kamadhatu dunia hasrat, menuju
Rupadhatu dunia kesadaran bentuk, hingga Arupadhatu keluasan tanpa keterikatan.
Setiap langkah adalah pelajaran hidup, setiap undakan adalah perenungan.
Namun seiring perjalanan waktu yang panjang, kita patut bertanya:
Apakah bunyi gong itu kini masih seperti
yang diharapkan oleh Sang Empu?
Apakah Borobudur masih selaras dengan harapan para leluhur yang
membangunnya?
Hari ini, suara gong masih terdengar, tetapi
kumandang jiwanya perlahan memudar. Kita mendengar bunyinya, namun telinga
batin semakin sulit menangkap pesan yang dikandungnya.
Hari ini kata mendengar turunya pengunjung candi
Borobudur , apakah itu petanda surutnya gema “ goong “ ?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar