Hakikat Gong dan Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 10 Mei 2026

Hakikat Gong dan Borobudur


 Mengapa Empu Membuat Gong?

Apakah Empu menciptakan gong hanya untuk menghasilkan bunyi?
Apakah yang diharapkan sekadar dentang nyaring yang menandai irama?
Ataukah sesungguhnya ada pesan batin yang lebih dalam di balik bunyi itu?

Sejak dahulu, seorang Empu tidak menempa gong hanya dengan keterampilan tangan, melainkan dengan perjalanan jiwa. Sebelum logam dipanaskan dan dipukul menjadi bentuk, Empu menjalani puasa, tirakat, dan penyepian diri sesaji , dengan tumpeng, bunga membakar kemenyan. Yang dicari bukan semata kesempurnaan bunyi, melainkan ketenangan hati, kebulatan tekad, dan keselarasan batin antara manusia dengan jagat raya.

Karena itu, gong bukan sekadar alat musik. Ia adalah penanda irama kehidupan sekaligus penanda pulang sebuah panggilan sunyi agar manusia kembali pada keseimbangan batin setelah bergolak dalam kegaduhan dunia. Dentang gong mengingatkan bahwa segala yang bergerak pada akhirnya harus kembali pada titik hening.

Lalu, jika nenek moyang kita pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi mampu menorehkan peradaban besar, apakah sesungguhnya yang hendak mereka wariskan kepada kita?

Pada masa Wangsa Syailendra, ketika tokoh-tokoh seperti Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani hadir dalam sejarah, tampak adanya isyarat besar tentang harmoni dan penyatuan. Perjumpaan nilai Buddha dan Hindu di tanah jawa ,tidak semata menjadi kisah politik kekuasaan, melainkan simbol kebijaksanaan  bahwa perbedaan dapat dirangkul dalam keseimbangan.

Di tengah Pulau Jawa, berdirilah Candi Borobudur sebagai salah satu torehan sejarah besar peradaban Nusantara. Namun, apakah Borobudur hanya sekadar tumpukan batu? Ataukah ia sesungguhnya adalah “gong besar” kebudayaan yang dibangun untuk mengumandangkan kesadaran manusia lintas zaman?

Dahulu, mendaki Borobudur bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin: dari Kamadhatu dunia hasrat, menuju Rupadhatu dunia kesadaran bentuk, hingga Arupadhatu keluasan tanpa keterikatan. Setiap langkah adalah pelajaran hidup, setiap undakan adalah perenungan.

Namun seiring  perjalanan waktu yang panjang, kita patut bertanya:

Apakah bunyi gong itu kini masih seperti yang diharapkan oleh Sang Empu?
Apakah Borobudur masih selaras dengan harapan para leluhur yang membangunnya?

Hari ini, suara gong masih terdengar, tetapi kumandang jiwanya perlahan memudar. Kita mendengar bunyinya, namun telinga batin semakin sulit menangkap pesan yang dikandungnya.

Hari ini kata mendengar turunya pengunjung candi Borobudur , apakah itu petanda surutnya gema “ goong “ ?

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar