Riyanto
Tingal Kulon, Wanurejo Borobudur
Latar Belakang
Borobudur menjadi sebuah ikon kehidupan yang telah
membawa sebuah kegembiraan, sebuah kebahagiaan menciptakan rasa optimisme
menatap masa depan bagi masyarakat Borobudur
Namun semua kini menjadi bayang2 hitam yang membawa
keresahan, kekhawatiran dan rasa pesimisme.
Kebijakan yang tidak bijak telah mengubah Borobudur
menjadi milik sekelompok atau golongan tertentu, bukan lagi milik masyarakat
secara umum. Peraturan dan tata kelola yang tidak mengakomodasi kepentingan
masyarakat untuk berperan aktif membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi
masyarakat secara umum telah berdampak negatif bagi pedagang dan lingkungan di
sekitarnya.
Borobudur yang universal itu , kini seolah-olah hanya
menjadi milik sekelompok atau golongan.
Sebuah ruang eksklusif yang tak terjamah Itu tertuang di dalam peraturan
dan tata kelola yang tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat untuk berperan
aktif membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat secara umum tidak
ter kotak-kotak untuk kepentingan personal atau kelompok . Ini berimbas juga
bagi pedagang dan lingkungan di sekitarnya
Perubahan kebijakan tata kelola Borobudur telah
membawa dampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Pola perubahan kebijakan ini
telah mengubah tata ruang di zona 2, yang berdampak pada pedagang dan terminal
wisata yang harus bergeser ke sebelah barat candi Borobudur dengan konsep
Kampung Seni Borobudur (KSB). Namun, demikian konsep ini ternyata tidak
inspiratif dan tanpa kajian yang matang, sehingga menimbulkan persoalan bagi masyarakat utamanya para pedagang.
Perubahan kebijakan ini telah membawa dampak ekonomi
yang luar biasa bagi masyarakat, terutama pedagang dan lingkungan di sekitar
zona 2 luar. Penurunan pendapatan pedagang pada titik terendah dan hilangnya
mata pencaharian bagi masyarakat di sekitar zona 2 luar, terutama di Jalan
Medang Kamolan, merupakan contoh nyata dari dampak ekonomi yang terjadi.
Dampak Sosial
Selain dampak ekonomi, perubahan kebijakan ini juga
telah membawa dampak sosial yang signifikan. Konflik di antara pedagang dan
ketidakpuasan terhadap kebijakan pengurangan kuota kunjungan naik candi
Borobudur serta tata ruang Kampung Seni Borobudur yang tidak representatif
untuk pedagang membuat penghasilan menurun drastis.
Untuk menyelesaikan dampak yang terjadi, diperlukan
pemikiran dan strategi pengelola dan pemangku kebijakan. Beberapa solusi yang
dapat dilakukan adalah:
1. Meninjau
ulang kuota kunjungan naik candi Borobudur
2. Meninjau
ulang tata ruang di KSB
3. Evaluasi
kuota kunjungan naik candi Borobudur menjadi sebuah harga mati
4. Evaluasi kebijakan secara menyeluruh termasuk evaluasi kebijakan pemberdayaan masyarakat
Pembatasan Kunjungan
Pelestarian candi Borobudur sebagai cagar budaya
penting sekali, namun hal tersebut harusnya tidak mereduksi kepentingan
masyarakat, terutama untuk kehidupan ekonomi masyarakat. Pembatasan bisa
dilakukan secara bertahap sampai ruang-ruang kehidupan masyarakat tercipta.
Pengembangan kawasan dititikberatkan pada penciptaan destinasi-destinasi baru sebagai penyangga aset candi Borobudur. Sebuah strategi harus dijalankan karena saat ini Borobudur tidak lagi menjadi prioritas kunjungan.contoh pengembangan pariwisata yang telah dilakukan oleh kelompok VW
Strategi Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, pemangku kebijakan perlu
memastikan kehidupan warga terdampak kebijaklan yang telah dilakukan . Contoh
kebijakan penutupan pintu 1-2 yang mematikan usahan masyarakat di jalan
Medangkamolan . Satu strategi mungkin dengan penetapan voucher belanja bagi
wisatawan dan ini menjadi sebuah kebijakan pengelola untuk menghidupkan
pendapatan pedagang dan membuka pintu di akses timur.
Ketidakkonsistenan pengelola dalam penetapan data
pedagang menjadi satu sebab konflik di tubuh pedagang, dengan di antaranya
belum tersedianya lapak bagi mereka. Verifikasi ulang dan identifikasi yang
lebih transparan untuk pedagang sangat diperlukan sehingga bisa memastikan
semua pedagang bisa terakomodasi.
Disinilah dituntut pemangku kebijakan untuk melakukan intervensi, bersikap netral, dan adil. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang dampak perubahan kebijakan tata kelola Borobudur terhadap masyarakat dan solusi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Harapan
Menciptakan ruang konsep terpadu dengan masyarakat.
Pengelola bersama dan memberi ruang stakeholder di Borobudur membuat sebuah
konsep kesejahteraan untuk masyarakat sehingga Borobudur betul-betul bisa
dinikmati dan bermanfaat untuk kepentingan masyarakat yang mengarah pada
kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat

ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق