Pagi hari
pertama Idul Fitri ini, saya sama sekali tidak menyangka akan mendapat sebuah
“weling” dari obrolan sederhana.
“Borobudur
itu dibangun bertingkat,” kata Pak Suwito pelan,
“dari kamadhatu, rupadhatu, sampai arupadhatu. Itu sebenarnya gambaran hidup
manusia… dari nafsu, naik ke kesadaran, sampai akhirnya bening jiwanya… luruh.”
Saya
diam, mencoba mencerna.
“Seperti
kita menapaki Candi Borobudur,” lanjut beliau,
“Ramadhan itu membawa kita dari hiruk nafsu menuju kejernihan hati.”
Beliau
tersenyum, lalu menambahkan,
“Makanya, meski saya sudah tua, saya tetap sowan… menemui teman-teman lama.
Dulu kita sama-sama ‘menapaki’ hidup.”
Lalu
kalimat penutupnya terasa sederhana, tapi dalam:
“Di hari Lebaran ini, semoga kita sampai di puncak kesadaran… saling memaafkan,
kembali suci, dan melihat hidup dengan kebeningan.”
“Nggih…
mohon maaf lahir dan batin,” jawab Pak Suwito lirih, menutup obrolan
Di tengah
dunia yang terus bergerak, manusia memang selalu mencari makna—tentang hidup,
tentang kebenaran, dan tentang apa yang dianggap suci.
Dan di
situ, Borobudur seakan hadir bukan sekadar bangunan batu, tetapi seperti
pustaka kehidupan. Ia tidak hanya berdiri untuk dilihat, tetapi untuk “dibaca”.
Setiap
reliefnya seperti cerita.
Setiap tingkatnya seperti perjalanan kesadaran.
Yang
menarik, Borobudur tidak pernah memaksa orang untuk percaya begitu saja. Ia
justru seperti mengajak: mari pahami, mari renungkan, lalu jalani.
Di
situlah ia terasa sebagai pustaka peradaban, tempat iman dan nalar berjalan
berdampingan.
Kalau
kita melihat kehidupan sekarang, kadang justru sebaliknya. Banyak orang
berhenti bertanya karena takut dianggap kurang beriman.
Padahal,
dari Borobudur kita belajar: menuju kebijaksanaan itu tidak bisa tanpa proses
bertanya. Ketika orang mulai takut bertanya, di situlah nalar pelan-pelan
tersingkir.
Kita jadi
mudah menerima apa saja. Nasihat yang merugikan pun diterima, ketimpangan
dianggap takdir, dan kesulitan hanya dimaknai sebagai ujian tanpa usaha mencari
sebab dan memperbaiki.
Fokusnya
pun bergeser bukan lagi mencari kebenaran, tetapi sekadar menjaga “terlihat
baik”.
Padahal,
tanpa pemahaman, adab bisa menjadi kosong.
Dalam
situasi seperti itu, sesuatu yang diberi label “suci” sering kali tidak lagi
dipertanyakan. Orang lebih takut dianggap menyimpang daripada berani mencari
kebenaran. Akibatnya, ruang dialog mengecil, dan pelan-pelan cara berpikir pun
melemah.
Padahal,
kalau kita kembali belajar dari Borobudur, pesannya jelas:
Tidak ada
puncak tanpa proses.
Tidak ada pemahaman tanpa perjalanan.
Dari
bawah, naik… lalu naik lagi… sampai akhirnya benar-benar mengerti.
Borobudur
tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipercaya, tetapi juga bagaimana
memahami. Ia tidak meniadakan kesucian, tetapi juga tidak menutup ruang
berpikir.
Justru di
antara keduanya, manusia menemukan kebebasan—kebebasan yang sadar dan
bertanggung jawab.
Maka, di
hari yang fitri ini, mungkin kita diingatkan lagi:
Kesucian
bukan alasan untuk berhenti berpikir. Justru yang suci seharusnya memberi
terang, membuka jalan, dan memperdalam pemahaman.
Karena
pada akhirnya, peradaban yang besar bukan hanya yang membuat manusia patuh,
tetapi yang membuat manusia sadar.
Dan
mungkin, di situlah makna terdalam Borobudur sebagai persembahan suci:
Bukan
untuk dipuja tanpa tanya, tetapi untuk dibaca, dipahami, dan dihidupi agar kita
tidak hanya beriman, tetapi juga mengerti.
Mas ,
Sugeng Riyadi Yooo . Jane ya kangen munggah candi , sak orane nek latar kae. Tapi
aku karo Anak Putu . he he he he mbayare Mas ?
Pak
Suwito menutup obrolanya
Selamat Idul
Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar