LEBARAN, DAN OBROLAN YANG BIKIR MIKIR - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 21 Maret 2026

LEBARAN, DAN OBROLAN YANG BIKIR MIKIR

 

Pagi hari pertama Idul Fitri ini, saya sama sekali tidak menyangka akan mendapat sebuah “weling” dari obrolan sederhana.

“Borobudur itu dibangun bertingkat,” kata Pak Suwito pelan,
“dari kamadhatu, rupadhatu, sampai arupadhatu. Itu sebenarnya gambaran hidup manusia… dari nafsu, naik ke kesadaran, sampai akhirnya bening jiwanya… luruh.”

Saya diam, mencoba mencerna.

“Seperti kita menapaki Candi Borobudur,” lanjut beliau,
“Ramadhan itu membawa kita dari hiruk nafsu menuju kejernihan hati.”

Beliau tersenyum, lalu menambahkan,
“Makanya, meski saya sudah tua, saya tetap sowan… menemui teman-teman lama. Dulu kita sama-sama ‘menapaki’ hidup.”

Lalu kalimat penutupnya terasa sederhana, tapi dalam:
“Di hari Lebaran ini, semoga kita sampai di puncak kesadaran… saling memaafkan, kembali suci, dan melihat hidup dengan kebeningan.”

“Nggih… mohon maaf lahir dan batin,” jawab Pak Suwito lirih, menutup obrolan

Di tengah dunia yang terus bergerak, manusia memang selalu mencari makna—tentang hidup, tentang kebenaran, dan tentang apa yang dianggap suci.

Dan di situ, Borobudur seakan hadir bukan sekadar bangunan batu, tetapi seperti pustaka kehidupan. Ia tidak hanya berdiri untuk dilihat, tetapi untuk “dibaca”.

Setiap reliefnya seperti cerita.
Setiap tingkatnya seperti perjalanan kesadaran.

Yang menarik, Borobudur tidak pernah memaksa orang untuk percaya begitu saja. Ia justru seperti mengajak: mari pahami, mari renungkan, lalu jalani.

Di situlah ia terasa sebagai pustaka peradaban, tempat iman dan nalar berjalan berdampingan.

Kalau kita melihat kehidupan sekarang, kadang justru sebaliknya. Banyak orang berhenti bertanya karena takut dianggap kurang beriman.

Padahal, dari Borobudur kita belajar: menuju kebijaksanaan itu tidak bisa tanpa proses bertanya. Ketika orang mulai takut bertanya, di situlah nalar pelan-pelan tersingkir.

Kita jadi mudah menerima apa saja. Nasihat yang merugikan pun diterima, ketimpangan dianggap takdir, dan kesulitan hanya dimaknai sebagai ujian tanpa usaha mencari sebab dan memperbaiki.

Fokusnya pun bergeser bukan lagi mencari kebenaran, tetapi sekadar menjaga “terlihat baik”.

Padahal, tanpa pemahaman, adab bisa menjadi kosong.

Dalam situasi seperti itu, sesuatu yang diberi label “suci” sering kali tidak lagi dipertanyakan. Orang lebih takut dianggap menyimpang daripada berani mencari kebenaran. Akibatnya, ruang dialog mengecil, dan pelan-pelan cara berpikir pun melemah.

Padahal, kalau kita kembali belajar dari Borobudur, pesannya jelas:

Tidak ada puncak tanpa proses.
Tidak ada pemahaman tanpa perjalanan.

Dari bawah, naik… lalu naik lagi… sampai akhirnya benar-benar mengerti.

Borobudur tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipercaya, tetapi juga bagaimana memahami. Ia tidak meniadakan kesucian, tetapi juga tidak menutup ruang berpikir.

Justru di antara keduanya, manusia menemukan kebebasan—kebebasan yang sadar dan bertanggung jawab.

Maka, di hari yang fitri ini, mungkin kita diingatkan lagi:

Kesucian bukan alasan untuk berhenti berpikir. Justru yang suci seharusnya memberi terang, membuka jalan, dan memperdalam pemahaman.

Karena pada akhirnya, peradaban yang besar bukan hanya yang membuat manusia patuh, tetapi yang membuat manusia sadar.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Borobudur sebagai persembahan suci:

Bukan untuk dipuja tanpa tanya, tetapi untuk dibaca, dipahami, dan dihidupi agar kita tidak hanya beriman, tetapi juga mengerti.

Mas , Sugeng Riyadi Yooo . Jane ya kangen munggah candi , sak orane nek latar kae. Tapi aku karo Anak Putu . he he he he mbayare Mas ?

Pak Suwito menutup obrolanya

Selamat Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar