MITOS KYAI BRAYUT DAN PENGALAMAN PAK YAHWAN TUKANG PIJIT - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 11 Maret 2026

MITOS KYAI BRAYUT DAN PENGALAMAN PAK YAHWAN TUKANG PIJIT

Sore itu sekitar pukul tiga. Aku melihat Pak Yahwan, tukang pijat langgananku, sedang memijat anakku, Reza. Setelah selesai, aku berkata kepadanya, “Pak Yahwan, nanti setelah Reza saya ya.”
Ia hanya mengangguk sambil tersenyum, “Ya, Pak.”

Benar saja, setelah Reza selesai dipijat, Pak Yahwan kembali memijatku. Seperti biasanya, sambil bekerja ia selalu bercerita. Kadang tentang pengunjung yang datang ke Borobudur, kadang tentang pengalamannya memijat wisatawan yang tidak selalu menghargai jasa para pemijat di sekitar kawasan itu.

Namun sore itu ceritanya terasa berbeda.

Aku sebenarnya sudah sering mendengar kisah tentang berbagai mitos yang hidup di sekitar Candi Borobudur. Banyak pengunjung datang dengan keyakinan tertentu, berharap sesuatu dari tempat yang dianggap sakral itu. Tetapi sekarang, berbagai praktik yang berkaitan dengan sesaji sudah tidak diperbolehkan oleh pengelola membawa bunga, dupa, buah-buahan, bahkan menyentuh beberapa bagian patung pun dilarang demi menjaga kelestarian candi.

Di antara kisah yang sering beredar adalah cerita tentang Relief Kyai Brayut. Relief itu terletak di lorong pertama lantai kedua, sisi barat Candi Borobudur. Terdiri dari empat panel relief yang menggambarkan kisah Jataka tentang pengabdian dan kemakmuran keluarga. Dalam tradisi Jawa, Kyai Brayut digambarkan sebagai sosok ayah yang penuh kasih, berjuang menghidupi banyak anak dan keluarganya simbol keteladanan, kesuburan, dan keberkahan hidup.

Sambil menekan otot-otot punggungku, Pak Yahwan mulai bercerita.

Siang hari itu, katanya, matahari terasa sangat menyengat di kawasan Candi Borobudur. Pak Yahwan baru saja selesai memijat seorang pengunjung asal Bogor yang datang bersama keluarganya. Setelah itu ia duduk sebentar di area parkir sambil menyegarkan diri dengan minum air kelapa.

Hari itu Minggu 1 Maret 2026 Pukul 14.00 , ia melihat seorang wanita mengenakan batik merah tua berdiri di dekat sebuah mobil.

Pak Yahwan langsung mengenalinya.

“Wah, Bu Lestari kan?” sapa Pak Yahwan sambil mendekat.

Wanita itu menoleh dan tersenyum. Ia memang bukan orang baru di tempat itu. Sudah beberapa kali ia datang ke Borobudur.

“Sudah berapa kali ya, Bu, datang ke sini?” tanya Pak Yahwan.

Dengan wajah penuh rasa syukur, wanita itu menjawab pelan,
“Ini yang ke-18 kali, Pak Yahwan.”

Pak Yahwan sedikit terkejut.

“Delapan belas kali?”

“Iya,” kata Bu Lestari. “Delapan belas tahun yang lalu saya datang ke sini dengan sebuah nazar. Saat itu saya belum memiliki anak. Saya berdoa di depan relief Kyai Brayut. Dan Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa saya. Sekarang anak saya sudah berusia delapan belas tahun.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Sejak itu saya berjanji akan datang setiap tahun untuk mengucapkan terima kasih. Sekarang memang tidak boleh membawa sesaji lagi. Dulu saya pernah membawa bunga dan beras, tapi sekarang saya patuhi aturan. Saya hanya datang untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah.”

Pak Yahwan mengangguk perlahan. Cerita seperti ini sebenarnya bukan hal baru baginya. Hampir setiap hari ia mendengar kisah dari pengunjung yang datang dengan harapan memiliki anak, atau kembali setelah doa mereka terkabul.

Namun ia tetap penasaran.

“Ceritakan, Bu. Pak Yahwan juga ingin tahu bagaimana awalnya,” katanya sambil mengajak Bu Lestari duduk di sebuah batu di tepi area parkir.

Bu Lestari mulai bercerita.

“Awalnya saya tidak percaya dengan mitos itu,” katanya pelan. “Suami saya hanya berkata, ‘Tidak ada salahnya mencoba. Kita tetap berdoa kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus menghormati cerita leluhur.’”

Pada kunjungan pertama, katanya, ia datang hanya karena mengikuti saran tetangga. Ia berjalan menyusuri lorong menuju relief Kyai Brayut, melihat gambar kura-kura besar yang di punggungnya terdapat banyak orang, lalu mengucapkan doa sederhana.

Namun tidak terjadi apa-apa.

“Sampai kunjungan kedua, saya mulai merasa putus asa,” lanjutnya. “Saat itu saya duduk lama di depan panel relief yang menggambarkan kura-kura yang rela mengorbankan dirinya untuk orang-orang kelaparan.”

Ia terdiam sejenak.

“Tiba-tiba saya merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh wajah saya. Lalu seperti ada bayangan seorang lelaki tua berpakaian putih yang tersenyum kepada saya.”

Pak Yahwan spontan menghentikan pijatannya sejenak.

“Benarkah, Bu? Pak Yahwan sering duduk di situ, tapi belum pernah merasakan hal seperti itu.”

Bu Lestari tersenyum.

“Saya juga tidak yakin waktu itu. Tapi setelah kunjungan ketiga, saya merasa ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Beberapa minggu kemudian dokter menyatakan saya hamil.”

Sejak saat itu, katanya, setiap tahun ia kembali ke Borobudur.

Dulu ia pernah membawa sedikit beras dan bunga melati untuk diletakkan dengan hormat di dekat relief Kyai Brayut. Ia juga sempat menyentuh batu relief yang sudah licin karena sering disentuh pengunjung.

“Tapi sekarang saya datang bukan untuk meminta,” kata Bu Lestari.
“Saya datang hanya untuk mengucapkan terima kasih dan menepati nazar saya.”

Setelah mengatakan itu, Bu Lestari pamit. Ia berjalan menuju kawasan candi, meninggalkan Pak Yahwan yang masih terpana memikirkan cerita tersebut.

Malam itu, kata Pak Yahwan kepadaku, ia tidak bisa tidur dengan tenang.

Ia teringat kembali berbagai kisah yang pernah ia dengar dari para pengunjung pasangan muda yang berharap punya anak, keluarga yang datang dengan doa, hingga orang-orang yang kembali hanya untuk bersyukur.

Selama ini Pak Yahwan tidak pernah terlalu memikirkan semua itu. Baginya, Borobudur adalah tempat mencari nafkah.

Namun cerita Bu Lestari membuatnya berpikir, mungkin memang ada sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan akal.

Keesokan harinya, ketika ia kembali menawarkan jasa pijat di area parkir pengunjung candi, bayangan cerita Bu Lestari terus terlintas di pikirannya. Relief Kyai Brayut kini tidak lagi sekadar ukiran batu kuno di dinding candi.

Di sana, bagi banyak orang, tersimpan harapan.

Aku yang mendengarkan ceritanya kemudian bertanya,
“Jadi, Pak Yahwan sekarang percaya dengan mitos itu?”

Pak Yahwan tertawa kecil.

“Iya Pak Coro,” jawabnya.
“Saya percaya pada kehebatan Simbah Mbudur yang membangun candi ini. Buktinya sampai sekarang peninggalannya masih memberi rezeki kepada banyak orang.”

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar