Di antara hal-hal sederhana
yang menemani hari, secangkir teh hangat,di meja yang akrab, dan
lembaran-lembaran kisah kehidupan kita belajar bahwa waktu tidak hanya
berjalan, tetapi juga mengajak kita untuk merenung.
Hari Raya Idul Fitri 1447 H
datang bukan sekadar sebagai perayaan, melainkan sebagai ruang sunyi untuk
kembali mengenali diri. Setelah perjalanan panjang menahan diri, menata niat,
dan belajar tentang makna kesabaran, kini kita sampai pada satu titik penting
kesadaran bahwa menjadi manusia adalah tentang terus memperbaiki, bukan menjadi
sempurna.
Keluarga Sucoro Setrodiharjo dengan tulus mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Di hari yang fitri ini, kami
memohon maaf lahir dan batin atas kata yang mungkin melukai, sikap yang tanpa
sadar menyakiti, maupun langkah yang pernah menjauhkan. Semoga kita semua
diberi kelapangan hati untuk saling memaafkan, bukan hanya di bibir, tetapi
hingga ke dalam nurani.
Lebaran adalah tentang
kedamaian. Kedamaian yang tidak selalu hadir dari luar, tetapi tumbuh dari
dalam diri dari kemampuan untuk menerima, memahami, dan berdamai dengan diri
sendiri. Dari sana, kedamaian itu mengalir kepada sesama, menghangatkan
hubungan, dan menguatkan ikatan kemanusiaan.
Di hadapan sebuah buku “Sinau
Maca Kahanan”belajar membaca keadaan—kita seakan diingatkan bahwa hidup
bukan hanya tentang memahami dunia luar, tetapi juga tentang kepekaan membaca
isi hati sendiri. Kapan harus berbicara, kapan harus diam. Kapan melangkah, dan
kapan menepi. Dari sanalah tumbuh kebijaksanaan yang sederhana namun dalam.
Sebagaimana nilai-nilai luhur
yang tumbuh di tanah Borobudur yang mengajarkan keseimbangan antara batin dan
kehidupan sehari-hari kita diingatkan bahwa perjalanan manusia adalah
perjalanan naik perlahan, setapak demi setapak, menuju kesadaran yang lebih
jernih. Dalam kesunyian, kita belajar mendengar diri sendiri. Dalam
kebersamaan, kita belajar memaknai sesama.
Lebaran juga menjadi pengingat
bahwa setiap manusia membawa ceritanya masing-masing. Ada luka yang disimpan,
ada harapan yang diperjuangkan. Maka memaafkan bukan hanya tentang orang lain,
tetapi juga tentang membebaskan diri dari beban yang selama ini kita genggam.
Semoga hari kemenangan ini
menjadi awal bagi kesadaran yang lebih dalam: bahwa hidup bukan sekadar tentang
apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita memaknai setiap perjumpaan,
setiap perbedaan, dan setiap kesempatan untuk berbuat baik.
Mari kita jaga hati tetap
jernih, langkah tetap rendah, dan niat tetap lurus.
Semoga kedamaian senantiasa menyertai kita, hari ini dan hari-hari setelahnya.
Selamat Lebaran.
Mohon maaf lahir dan batin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar