MIMPI TIUPAN SULING PAK SANGIDI DAN KICAUAN BURUNG DI POHON KENARI - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Selasa, 10 Maret 2026

MIMPI TIUPAN SULING PAK SANGIDI DAN KICAUAN BURUNG DI POHON KENARI

Di sudut ingatan yang paling tenang, halaman parkir pengunjung Candi Borobudur yang kami kenal sebagai “Parkiran Pereng” bukan sekadar hamparan aspal dan debu. Di sana, waktu seolah melambat. Samar-samar, telinga batin ini kembali menangkap tiupan suling Pak Sangidi yang meliuk tipis. Nadanya menyusup lembut di antara deretan mobil pengunjung dan kerumunan orang yang datang mendekat, seolah menjadi napas yang menghidupkan benda-mandi mati di sekitarnya.

Tak jauh dari situ, sosok “Bekek” hadir dengan bahasa isyaratnya yang khas. Tanpa kata, namun penuh makna, ia menjelaskan bahwa mobil telah dicuci bersih—sebuah pengabdian sederhana di kaki raksasa batu yang agung.

Parkiran Pereng hanya berjarak puluhan meter dari kaki candi. Kala itu, tahun 1960-an terasa begitu nyata. Dunia masih berwarna hijau pekat. Pohon Kenari, Asem, dan pohon Bodi yang menjadi saksi bisu kesakralan Borobudur berdiri rimbun, memayungi jalanan. Di seberang jalan, berdiri rumah Pak Ali Sukiadi dan Pak Abdul Patah, sementara di pinggir irigasi yang airnya masih jernih, warung Mbok Gareng berdiri bersahaja di samping Gedung Kecamatan.

Rumahku, yang bernaung di bawah pohon beringin tua, memiliki halaman belakang dan samping yang menjadi ruang singgah tanpa rencana. Ia ada begitu saja, tumbuh bersama waktu, menerima apa pun yang datang tanpa banyak bertanya. Di sela rimbun daun, Kutilang-kutilang lebih dulu hadir, bergerak lincah di antara pepohonan dan tanah yang tidak rata.

Sesekali, burung Tengkek Udang dengan warna bulunya yang cemerlang meloncat-loncat di halaman sebelum terbang gedandapan menjauh—kek kek kek—memecah kesunyian pagi. Bunyi itu bagaikan improvisasi nada suling Pak Sangidi yang mendadak tinggi, mengingatkan bahwa harmoni tidak perlu diteriakkan untuk bisa dirasakan.

Beberapa pagi belakangan, kerinduan itu mewujud pada sepasang perkutut yang datang beriringan. Mereka hinggap sebentar, mematuk tanah, lalu diam. Dalam diamnya perkutut, ada resonansi bambu suling yang bergetar rendah.

Secara biologis, ia hanyalah burung “ prenjak, emprit  “, burung kecilnya namun jika kita mampu menghayati sikapnya , burung tersebut memberi isyarat tentang laku adap asor “sikap merendah. Ia hidup di wilayah yang bersentuhan dengan manusia tanpa harus menjadi milik manusia. Ia mengambil biji-bijian secukupnya, persis seperti napas panjang seorang peniup suling yang mengambil udara seperlunya untuk melahirkan nada yang menenteramkan.

Inilah "Ngelmu Pring". Seperti bambu bahan suling Pak Sangidi, ia lentur mengikuti angin namun tetap kokoh pada akarnya. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu perlu ditafsirkan dengan rumit, cukup dijalani dengan kesadaran dan kerelaan menerima apa pun yang singgah.

Jika kita menengadah ke arah Candi Borobudur, kita akan sadar bahwa apa yang terjadi di halaman rumah dan Parkiran Pereng adalah cermin dari apa yang terpahat di dinding-dinding batu itu.

Sejatinya, Borobudur adalah narasi agung tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Relief-reliefnya bukan sekadar hiasan religius, melainkan perpustakaan ilmu pengetahuan kehidupan. Di sana, manusia digambarkan hidup berdampingan dengan flora dan fauna dalam sebuah tatanan yang seimbang.

Pesan Borobudur bersifat universal, melampaui sekat-sekat keyakinan:

·         Manusia-Alam: Bahwa kesediaan memberi ruang bagi mahluk lain (seperti perkutut dan kutilang) adalah kunci keberlangsungan hidup.

·         Manusia-Tuhan: Bahwa ketenteraman lahir bukan dari keinginan untuk menonjol atau kesombongan, melainkan dari keselarasan dengan kehendak Sang Pencipta.

Maka, dari jendela kamar saat memandangi perkutut di halaman, rumah ini perlahan berubah menjadi tempat perjumpaan yang suci. Bukan perjumpaan besar yang gegap gempita, melainkan persentuhan sederhana antara kenangan masa lalu, rimbunnya pohon kenari, dan gema suling yang abadi.

Burung-burung itu, bersama gema imajiner suling Pak Sangidi, mengingatkan kita bahwa kita hanyalah nada-nada pendek dalam lagu besar alam semesta. Kehadiran yang tulus tidak pernah ingin menguasai ruang; ia cukup mengisi, memberi harmoni, lalu melepaskan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar