Di sudut ingatan yang paling tenang, halaman
parkir pengunjung Candi Borobudur yang kami kenal sebagai “Parkiran Pereng”
bukan sekadar hamparan aspal dan debu. Di sana, waktu seolah melambat.
Samar-samar, telinga batin ini kembali menangkap tiupan suling Pak Sangidi yang
meliuk tipis. Nadanya menyusup lembut di antara deretan mobil pengunjung dan
kerumunan orang yang datang mendekat, seolah menjadi napas yang menghidupkan
benda-mandi mati di sekitarnya.
Tak jauh dari situ, sosok “Bekek”
hadir dengan bahasa isyaratnya yang khas. Tanpa kata, namun penuh makna, ia
menjelaskan bahwa mobil telah dicuci bersih—sebuah pengabdian sederhana di kaki
raksasa batu yang agung.
Parkiran Pereng hanya berjarak puluhan meter dari
kaki candi. Kala itu, tahun 1960-an terasa begitu nyata. Dunia masih berwarna
hijau pekat. Pohon Kenari, Asem, dan pohon Bodi yang menjadi saksi bisu
kesakralan Borobudur berdiri rimbun, memayungi jalanan. Di seberang jalan,
berdiri rumah Pak Ali Sukiadi dan Pak Abdul Patah, sementara di pinggir irigasi
yang airnya masih jernih, warung Mbok Gareng berdiri bersahaja di samping
Gedung Kecamatan.
Rumahku, yang bernaung di
bawah pohon beringin tua, memiliki halaman belakang dan samping yang menjadi
ruang singgah tanpa rencana. Ia ada begitu saja, tumbuh bersama waktu, menerima
apa pun yang datang tanpa banyak bertanya. Di sela rimbun daun, Kutilang-kutilang
lebih dulu hadir, bergerak lincah di antara pepohonan dan tanah yang tidak
rata.
Sesekali, burung Tengkek
Udang dengan warna bulunya yang cemerlang meloncat-loncat di halaman sebelum
terbang gedandapan menjauh—kek kek kek—memecah kesunyian
pagi. Bunyi itu bagaikan improvisasi nada suling Pak Sangidi yang mendadak
tinggi, mengingatkan bahwa harmoni tidak perlu diteriakkan untuk bisa
dirasakan.
Beberapa pagi belakangan, kerinduan itu mewujud
pada sepasang perkutut yang datang beriringan. Mereka hinggap sebentar, mematuk
tanah, lalu diam. Dalam diamnya perkutut, ada resonansi bambu suling yang
bergetar rendah.
Secara biologis, ia hanyalah
burung “ prenjak, emprit “, burung kecilnya
namun jika kita mampu menghayati sikapnya , burung tersebut memberi isyarat tentang
laku adap asor “sikap merendah. Ia hidup di wilayah yang bersentuhan dengan manusia
tanpa harus menjadi milik manusia. Ia mengambil biji-bijian secukupnya, persis
seperti napas panjang seorang peniup suling yang mengambil udara seperlunya
untuk melahirkan nada yang menenteramkan.
Inilah "Ngelmu
Pring". Seperti bambu bahan suling Pak Sangidi, ia lentur mengikuti angin
namun tetap kokoh pada akarnya. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak selalu perlu
ditafsirkan dengan rumit, cukup dijalani dengan kesadaran dan kerelaan menerima
apa pun yang singgah.
Jika kita menengadah ke arah Candi Borobudur,
kita akan sadar bahwa apa yang terjadi di halaman rumah dan Parkiran Pereng
adalah cermin dari apa yang terpahat di dinding-dinding batu itu.
Sejatinya, Borobudur adalah
narasi agung tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan. Relief-reliefnya bukan
sekadar hiasan religius, melainkan perpustakaan ilmu pengetahuan kehidupan. Di
sana, manusia digambarkan hidup berdampingan dengan flora dan fauna dalam
sebuah tatanan yang seimbang.
Pesan Borobudur bersifat
universal, melampaui sekat-sekat keyakinan:
·
Manusia-Alam: Bahwa kesediaan memberi ruang bagi
mahluk lain (seperti perkutut dan kutilang) adalah kunci keberlangsungan hidup.
·
Manusia-Tuhan: Bahwa ketenteraman lahir bukan
dari keinginan untuk menonjol atau kesombongan, melainkan dari keselarasan
dengan kehendak Sang Pencipta.
Maka, dari jendela kamar saat memandangi perkutut
di halaman, rumah ini perlahan berubah menjadi tempat perjumpaan yang suci.
Bukan perjumpaan besar yang gegap gempita, melainkan persentuhan sederhana
antara kenangan masa lalu, rimbunnya pohon kenari, dan gema suling yang abadi.
Burung-burung itu, bersama
gema imajiner suling Pak Sangidi, mengingatkan kita bahwa kita hanyalah
nada-nada pendek dalam lagu besar alam semesta. Kehadiran yang tulus tidak
pernah ingin menguasai ruang; ia cukup mengisi, memberi harmoni, lalu
melepaskan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar