PELENCURAN BUKU “ DILEMA BOROBUDUR “ REFLEKSI KRITIS PENGELOLAAN CANDI DARI MASA-KE MASA - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 12 Maret 2026

PELENCURAN BUKU “ DILEMA BOROBUDUR “ REFLEKSI KRITIS PENGELOLAAN CANDI DARI MASA-KE MASA

Refleksi kritis mengenai perjalanan panjang pengelolaan Candi Borobudur kembali mengemuka melalui peluncuran buku “Dilema Borobudur: Di antara Revolusi dan Rekonstruksi.” Buku ini resmi diluncurkan di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional CWS Magelang pada Kamis (12/3/2026), dalam sebuah forum diskusi yang mempertemukan peneliti, akademisi, budayawan, serta perwakilan pemerintah daerah.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini diinisiasi oleh Yayasan Brayat Penangkaran bekerja sama dengan lembaga riset nasional. Selain peluncuran buku, acara juga diisi diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah kecamatan, peneliti lintas disiplin, hingga akademisi seni dan budaya. Forum ini menjadi ruang dialog untuk menelaah kembali berbagai persoalan yang melingkupi pengelolaan Borobudur, dari konservasi, pariwisata, hingga dimensi spiritual dan sosial masyarakat.

Penggagas buku, Sucoro Setrodiharjo, mengungkapkan bahwa gagasan penulisan buku ini sebenarnya telah lama mengendap, sejak sekitar tahun 2008–2009. Ia mengamati adanya tarik-menarik kepentingan dalam pengelolaan Borobudur—antara agama, komersialisasi pariwisata, dan dinamika sosial budaya masyarakat. Buku ini menjadi karya kolaboratifnya yang ke-13. Selama puluhan tahun, ia juga mendokumentasikan perubahan kawasan Borobudur melalui kliping, foto, video, dan catatan lapangan yang kini tersimpan dalam puluhan buku dokumentasi.

Dalam paparannya, Sucoro juga menyinggung hubungan simbolik antara alam dan dinamika sosial budaya di kawasan Borobudur. Ia mencontohkan kisah pohon beringin putih yang mati bersamaan dengan kebijakan penggabungan desa yang menghilangkan nama “Ringin Putih”. Bagi Sucoro, peristiwa itu menjadi simbol bagaimana perubahan kebijakan sering kali berkelindan dengan memudarnya ingatan kolektif masyarakat terhadap ruang hidup mereka.

Ketua panitia, Novita Siswayanti, menjelaskan bahwa buku ini disusun dari berbagai sumber, mulai dari webinar, wawancara, hingga perjalanan riset ke masyarakat sekitar Borobudur. Isu mengenai Randu Alas menjadi salah satu pemicu awal penelitian, yang kemudian berkembang menjadi kajian yang lebih luas tentang nilai historis, filosofis, dan budaya yang terkandung dalam lanskap sosial Borobudur. Menurutnya, pohon-pohon tua di kawasan itu dapat dibaca sebagai “prasasti sosial” yang menyimpan jejak sejarah masyarakat.

Diskusi panel yang menyertai peluncuran buku berlangsung dinamis. Camat Borobudur, Subiyanto, menyoroti dua momentum penting pascapandemi, yakni pengembangan Balai Ekonomi Desa berbasis pariwisata serta rencana pengembangan wisata religi dengan target hingga 20 juta wisatawan spiritual. Ia menegaskan bahwa pengembangan pariwisata harus berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pandemi, menurutnya, telah menunjukkan betapa rentannya ekonomi warga yang bergantung pada sektor pariwisata.

Pandangan akademis juga disampaikan oleh Agus Purwantoro dari Universitas Sebelas Maret. Ia memberikan apresiasi terhadap gagasan buku tersebut sekaligus masukan kritis terkait aspek teknis penulisan buku antologi agar dapat memenuhi standar akademik dan menjadi rujukan ilmiah yang lebih kuat. Meski demikian, ia menilai tema-tema yang diangkat dalam buku ini sangat aktual dan relevan dengan dinamika pengelolaan Borobudur saat ini.

Sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional juga memaparkan potensi kolaborasi lintas bidang. Andi Bhermana menyoroti tantangan alih fungsi lahan di kawasan Borobudur, sementara Afi Nursafingi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara spiritualitas, budaya, dan komersialisasi agar narasi Borobudur tetap berkesinambungan lintas generasi.

Melalui forum ini, muncul pula sejumlah rekomendasi strategis, antara lain perlunya penyusunan masterplan terpadu berbasis riset, penguatan kelembagaan kolaboratif, serta skema distribusi manfaat pariwisata yang lebih adil bagi sekitar 20 desa di Kecamatan Borobudur. Diskusi berkala dan riset multidisiplin mengenai kearifan lokal, dampak lingkungan, serta dokumentasi nilai historis kawasan juga dianggap penting untuk terus dikembangkan.

Pemerintah Kabupaten Magelang menyambut baik momentum peluncuran buku ini sebagai ruang sinergi antara pemerintah, lembaga riset, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat arah kebijakan pelestarian dan pemanfaatan Borobudur yang berkelanjutan serta berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Lebih dari sekadar karya literasi, buku “Dilema Borobudur: Di antara Revolusi dan Rekonstruksi” diharapkan menjadi pemantik kesadaran kolektif untuk merawat Borobudur sebagai warisan peradaban dunia yang harus dijaga dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab bersama.

Acara ditutup dengan harapan agar semangat kolaborasi dan refleksi kritis yang lahir dari diskusi ini dapat terus berlanjut, serta diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang berdampak pada pelestarian Borobudur dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

— Latifah

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar