Diskusi
Sekolah Kehidupan Borobudur ke-10 mengangkat tema “ Pergulatan Antar Wayang
,antara Realitas Dan Idealitas “ yang diselenggarakan dalam rangkaian program 24
Tahun Ruwat Rawat Borobudur menghadirkan refleksi mendalam tentang keterkaitan
antara kisah epik, perjalanan sejarah, dan realitas masa kini. Kegiatan ini
menghadirkan para pembicara: Prof. Totok Rusmanto (UIN Semarang), Prof. Agus
Purwantoro, Dr. Budiana Setiawan, RM Donny Surya Megananda, S.Si., MBA, Novita
Siswayanti (BRIN), Muhammad Dimyati (Pondok Pesantren Pabelan),Ki Bejo Sendy
Seniman Rinding Malang , serta Ragil Wirat Moko (Kreator Konten), dengan moderator
Sucoro, penggagas dan penyelenggara Program 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur.
Dipandu oleh Sucoro, forum ini mempertemukan narasumber lintas bidang untuk
membaca ulang makna tokoh-tokoh dalam Mahabharata serta relevansinya dalam
kehidupan modern, khususnya dalam konteks pelestarian Candi Borobudur.
Dalam pemaparannya, Totok Rusmanto menegaskan bahwa
tokoh Sengkuni yang dalam versi India dikenal sebagai Sakuni bukan sekadar
karakter fiksi, melainkan simbol abadi tentang kelicikan dan ambisi manusia.
Sejak awal kemunculannya dalam epos, tokoh ini telah menjadi peringatan bahwa
dalam setiap zaman selalu ada potensi penyimpangan moral. Ketika kisah ini
diadaptasi ke Jawa pada masa Prabu Jayabaya, karakter tersebut tidak hanya
dipertahankan, tetapi juga diperkaya dengan konteks lokal, sehingga semakin
relevan dengan dinamika kekuasaan di Nusantara.
Proses adaptasi ini tidak berhenti pada perubahan
karakter, tetapi juga melahirkan transformasi budaya melalui tradisi wayang.
Dalam versi India, Mahabharata hadir sebagai epos kepahlawanan yang berpusat
pada konflik dan dharma. Namun dalam versi Jawa, kisah ini mengalami pendalaman
makna dengan penambahan tokoh-tokoh lokal seperti Semar. Kehadiran Semar bukan
sekadar pelengkap cerita, melainkan penggeser sudut pandang: dari heroisme
menuju kebijaksanaan hidup. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa tidak hanya
menerima, tetapi mengolah dan menyatukan nilai-nilai luar ke dalam kerangka
batin mereka sendiri.
Transformasi ini sejalan dengan konsep pendirian
Borobudur. Secara spiritual, Borobudur tidak hanya merepresentasikan ajaran
Buddhisme, tetapi juga perjalanan batin manusia dari dunia hasrat (Kamadhatu),
menuju bentuk (Rupadhatu), hingga mencapai kesadaran tanpa bentuk (Arupadhatu).
Dalam kerangka ini, kehadiran konsep Semar dapat dibaca sebagai simbol
“kesadaran batin” yang membumi sebuah kebijaksanaan yang tidak selalu tampil
agung, tetapi justru hadir dalam kesederhanaan dan keheningan. Dengan demikian,
Borobudur dan wayang sama-sama menjadi medium penyatuan: antara ajaran
universal dan pengalaman lokal, antara spiritualitas tinggi dan realitas
keseharian.
Dalam sejarah Jawa sendiri, figur-figur yang
menyerupai Sengkuni benar-benar muncul. Salah satu yang paling menonjol adalah
Patih Prengoloyo pada masa Mataram Islam, yang melalui intrik politiknya turut
memicu konflik besar hingga terjadinya Perjanjian Giyanti. Kisah hidupnya
berakhir tragis, sejalan dengan filosofi Jawa bahwa kejahatan pada akhirnya
akan menghancurkan dirinya sendiri. Hal ini menegaskan bahwa nilai dalam epos
bukan sekadar narasi, melainkan cermin yang terus berulang dalam sejarah
manusia.
Sebaliknya, Semar hadir sebagai pengingat bahwa
kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam bentuk kekuasaan. Ia adalah suara
sunyi yang menjaga keseimbangan, penuntun tanpa ambisi, dan representasi dari
kearifan yang lahir dari kedalaman rasa. Dalam perspektif ini, Semar dapat
dipahami sebagai manifestasi dari kesadaran kolektif masyarakat sebuah nilai
yang telah ada bahkan sebelum pengaruh luar datang, dan tetap bertahan sebagai
fondasi dalam setiap proses perubahan.
Dalam konteks kekinian, perbincangan ini mengarah
pada tantangan pengelolaan Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Permasalahan
seperti ketimpangan kesejahteraan masyarakat sekitar, ketidakseimbangan pengelolaan
zona, hingga munculnya kebijakan yang tidak selaras dengan prinsip pelestarian
menjadi sorotan penting. Dalam hal ini, para pembicara menekankan bahwa tidak
semua kekeliruan lahir dari niat jahat seperti Sengkuni, melainkan sering kali
bersumber dari ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman terhadap makna yang lebih
dalam dari warisan itu sendiri.
Melalui diskusi ini, terlihat bahwa Sengkuni dan
Semar bukan sekadar tokoh, melainkan dua kutub dalam diri manusia dan dalam
tata kehidupan. Satu mewakili ambisi yang tak terkendali, sementara yang lain
menghadirkan kebijaksanaan yang menuntun. Di antara keduanya, manusia
dihadapkan pada pilihan dan di situlah nilai-nilai budaya bekerja sebagai
penuntun arah.
Program Ruwat Rawat Borobudur menjadi ruang reflektif
yang penting untuk menjaga keseimbangan tersebut. Bahwa merawat warisan budaya
bukan hanya soal menjaga batu dan bangunan, tetapi juga merawat kesadaran,
nilai, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Sebab pada akhirnya,
seperti halnya Borobudur dan wayang, yang harus terus dijaga bukan hanya
bentuknya, tetapi makna hidup yang disampaikannya kepada generasi yang akan
datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar