Sengkuni dan Semar: Cermin Kehidupan dari Epos, Sejarah, hingga Pengelolaan Warisan Budaya - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 29 April 2026

Sengkuni dan Semar: Cermin Kehidupan dari Epos, Sejarah, hingga Pengelolaan Warisan Budaya


Diskusi Sekolah Kehidupan Borobudur ke-10 mengangkat tema “ Pergulatan Antar Wayang ,antara Realitas Dan Idealitas “ yang diselenggarakan dalam rangkaian program 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur menghadirkan refleksi mendalam tentang keterkaitan antara kisah epik, perjalanan sejarah, dan realitas masa kini. Kegiatan ini menghadirkan para pembicara: Prof. Totok Rusmanto (UIN Semarang), Prof. Agus Purwantoro, Dr. Budiana Setiawan, RM Donny Surya Megananda, S.Si., MBA, Novita Siswayanti (BRIN), Muhammad Dimyati (Pondok Pesantren Pabelan),Ki Bejo Sendy Seniman Rinding Malang , serta Ragil Wirat Moko (Kreator Konten), dengan moderator Sucoro, penggagas dan penyelenggara Program 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur. Dipandu oleh Sucoro, forum ini mempertemukan narasumber lintas bidang untuk membaca ulang makna tokoh-tokoh dalam Mahabharata serta relevansinya dalam kehidupan modern, khususnya dalam konteks pelestarian Candi Borobudur.

Dalam pemaparannya, Totok Rusmanto menegaskan bahwa tokoh Sengkuni yang dalam versi India dikenal sebagai Sakuni bukan sekadar karakter fiksi, melainkan simbol abadi tentang kelicikan dan ambisi manusia. Sejak awal kemunculannya dalam epos, tokoh ini telah menjadi peringatan bahwa dalam setiap zaman selalu ada potensi penyimpangan moral. Ketika kisah ini diadaptasi ke Jawa pada masa Prabu Jayabaya, karakter tersebut tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkaya dengan konteks lokal, sehingga semakin relevan dengan dinamika kekuasaan di Nusantara.

Proses adaptasi ini tidak berhenti pada perubahan karakter, tetapi juga melahirkan transformasi budaya melalui tradisi wayang. Dalam versi India, Mahabharata hadir sebagai epos kepahlawanan yang berpusat pada konflik dan dharma. Namun dalam versi Jawa, kisah ini mengalami pendalaman makna dengan penambahan tokoh-tokoh lokal seperti Semar. Kehadiran Semar bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan penggeser sudut pandang: dari heroisme menuju kebijaksanaan hidup. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa tidak hanya menerima, tetapi mengolah dan menyatukan nilai-nilai luar ke dalam kerangka batin mereka sendiri.

Transformasi ini sejalan dengan konsep pendirian Borobudur. Secara spiritual, Borobudur tidak hanya merepresentasikan ajaran Buddhisme, tetapi juga perjalanan batin manusia dari dunia hasrat (Kamadhatu), menuju bentuk (Rupadhatu), hingga mencapai kesadaran tanpa bentuk (Arupadhatu). Dalam kerangka ini, kehadiran konsep Semar dapat dibaca sebagai simbol “kesadaran batin” yang membumi sebuah kebijaksanaan yang tidak selalu tampil agung, tetapi justru hadir dalam kesederhanaan dan keheningan. Dengan demikian, Borobudur dan wayang sama-sama menjadi medium penyatuan: antara ajaran universal dan pengalaman lokal, antara spiritualitas tinggi dan realitas keseharian.

Dalam sejarah Jawa sendiri, figur-figur yang menyerupai Sengkuni benar-benar muncul. Salah satu yang paling menonjol adalah Patih Prengoloyo pada masa Mataram Islam, yang melalui intrik politiknya turut memicu konflik besar hingga terjadinya Perjanjian Giyanti. Kisah hidupnya berakhir tragis, sejalan dengan filosofi Jawa bahwa kejahatan pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri. Hal ini menegaskan bahwa nilai dalam epos bukan sekadar narasi, melainkan cermin yang terus berulang dalam sejarah manusia.

Sebaliknya, Semar hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam bentuk kekuasaan. Ia adalah suara sunyi yang menjaga keseimbangan, penuntun tanpa ambisi, dan representasi dari kearifan yang lahir dari kedalaman rasa. Dalam perspektif ini, Semar dapat dipahami sebagai manifestasi dari kesadaran kolektif masyarakat sebuah nilai yang telah ada bahkan sebelum pengaruh luar datang, dan tetap bertahan sebagai fondasi dalam setiap proses perubahan.

Dalam konteks kekinian, perbincangan ini mengarah pada tantangan pengelolaan Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Permasalahan seperti ketimpangan kesejahteraan masyarakat sekitar, ketidakseimbangan pengelolaan zona, hingga munculnya kebijakan yang tidak selaras dengan prinsip pelestarian menjadi sorotan penting. Dalam hal ini, para pembicara menekankan bahwa tidak semua kekeliruan lahir dari niat jahat seperti Sengkuni, melainkan sering kali bersumber dari ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman terhadap makna yang lebih dalam dari warisan itu sendiri.

Melalui diskusi ini, terlihat bahwa Sengkuni dan Semar bukan sekadar tokoh, melainkan dua kutub dalam diri manusia dan dalam tata kehidupan. Satu mewakili ambisi yang tak terkendali, sementara yang lain menghadirkan kebijaksanaan yang menuntun. Di antara keduanya, manusia dihadapkan pada pilihan dan di situlah nilai-nilai budaya bekerja sebagai penuntun arah.

Program Ruwat Rawat Borobudur menjadi ruang reflektif yang penting untuk menjaga keseimbangan tersebut. Bahwa merawat warisan budaya bukan hanya soal menjaga batu dan bangunan, tetapi juga merawat kesadaran, nilai, dan kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya. Sebab pada akhirnya, seperti halnya Borobudur dan wayang, yang harus terus dijaga bukan hanya bentuknya, tetapi makna hidup yang disampaikannya kepada generasi yang akan datang.

Top of Form

Bottom of Form

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar