Acara Besar yang Membingungkan
Pada Jumat malam, 17 April 2024, Candi Borobudur menjadi tuan rumah
sebuah acara besar. Acara ini bahkan dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan,
Bapak Fadli Zon. Secara resmi, perhelatan ini mengusung nama "Kirab
Budaya Kira Pusaka Nusantara".
Tujuannya sangat mulia dan berkelas:
- Memperingati
Hari Warisan Budaya Dunia (18 April)
- Menyambut
Hari Keris Nasional (19 April)
Jelas sekali, ini adalah event berskala nasional. Ini adalah acara
negara dan acara bangsa, yang pembiayaan serta konsepnya pasti sudah
dipersiapkan secara matang jauh-jauh hari oleh pihak Kementerian.
Namun, anehnya, narasi yang beredar di grup WhatsApp masyarakat justru
berkata lain. Pesan yang tersebar tertulis:
"Terima kasih atas dukungan dalam acara Umbul Do'a Merti
Amurwa Borobudur..."
Hal ini wajar membuat masyarakat bertanya-tanya. Ini sebenarnya acara
siapa? Apakah ini perayaan Hari Warisan Dunia? Apakah ini peringatan Hari
Keris? Atau... ini sekadar acara lokal yang dilabeli "Umbul Dongo"?
Fenomena "Mengubah Nama Besar
Jadi Nama Kecil"
Inilah yang bisa kita sebut sebagai upaya Reduksi Makna. Acara
negara yang seharusnya megah, inklusif, dan terbuka untuk semua, justru
seolah-olah "dipangkas" dan diklaim dengan nama kegiatan lokal.
Tercipta sebuah ilusi seolah-olah acara yang dihadiri oleh figur sekelas
Menteri itu adalah inisiatif atau "karya" dari kelompok tertentu
saja.
Mari kita lihat fakta linimasa di lapangan:
- Desember: Program sudah dicanangkan dari
Pusat.
- Februari: Informasi sudah sampai di
Manajemen Candi (MC) Borobudur.
- H-3 / H-4
Acara: Baru
diberitahukan dan disosialisasikan kepada masyarakat luas.
Pertanyaannya: Kenapa harus serba mendadak? Kenapa tidak disosialisasikan
secara masif sejak bulan Maret?
Kecurigaan pun menguat. Terkesan ada upaya sengaja untuk membatasi
lingkup partisipasi agar hanya kelompok tertentu saja yang terlibat, sehingga
pada akhirnya merekalah yang bisa "mengaku" sebagai penyelenggara
tunggal. Ini bukan sekadar miss-communication; ini terkesan seperti
ajang berebut pencitraan. Siapa yang terlihat paling hebat? Siapa yang terlihat
paling bergerak? Padahal faktanya, idenya dari Pusat dan anggarannya dari
Negara.
Borobudur Bukan Milik Satu Kelompok
atau Satu Tafsir
Kondisi yang membingungkan ini makin memprihatinkan karena mencerminkan
pola serupa di berbagai aspek pengelolaan Borobudur saat ini:
1. Monopoli Tafsir Spiritual Borobudur itu universal; ia adalah milik
semua agama, keyakinan, dan peradaban. Namun belakangan ini, muncul upaya
penafsiran yang seolah-olah mengklaim diri "paling benar". Bahkan,
ada rencana pemasangan Cakra yang terkesan memaksakan satu sudut pandang saja,
seolah-olah hanya kelompok merekalah yang paling memahami nilai rohani
Borobudur.
2. Monopoli Ekonomi dan Manfaat Realita di lapangan sering kali
berbanding terbalik dengan apa yang disajikan di atas panggung. Banyak warga
asli yang kesulitan ekonomi, omzet pedagang kecil menurun drastis, dan sekadar
mencari makan sehari-hari pun sulit. Namun, di atas kertas dan di acara-acara
seremonial, narasi yang dibangun seolah-olah semua orang sudah makmur dan
sejahtera.
Kenyataannya, kue ekonomi Borobudur tampaknya hanya dinikmati oleh
lingkaran dalam yang eksklusif mereka yang dekat dengan kekuasaan atau masuk
dalam kelompok tertentu. Sementara itu, rakyat banyak hanya gigit jari, menjadi
penonton di rumahnya sendiri.
Jangan Bungkus Luka dengan Pencitraan
Kita tidak anti-kemajuan. Kita sangat mendukung setiap upaya untuk
memuliakan Candi Borobudur.
Tapi tolonglah, jangan jadikan event nasional ini sekadar alat
untuk mempercantik citra. Jangan jadikan panggung ini sebagai ajang
"pamer" bahwa segalanya berjalan sempurna, padahal di akar rumput
banyak warga yang kesusahan dan nilai-nilai luhur yang terdistorsi.
Borobudur adalah milik bersama. Ia bukan milik satu kelompok, bukan
eksklusif milik satu Bumdesma, dan bukan monopoli satu tafsir agama saja.
Jika memang berniat mengadakan acara sebesar Hari Warisan Dunia dan Hari
Keris Nasional, laksanakanlah dengan marwah sebagai acara bangsa. Jangan
direduksi menjadi acara kelompok kecil hanya demi kepentingan pencitraan
sesaat.
Rakyat Borobudur tidak butuh seremoni yang indah tapi hampa. Rakyat butuh
keadilan, keterbukaan, dan kedamaian yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar