Oleh: Sucoro Setrodiharjo
Siapa yang tidak kenal Borobudur?
Monumen batu megah ini adalah bukti nyata kejeniusan nenek moyang yang
melampaui zamannya. Ia adalah ensiklopedia terbuka, perpustakaan alam, dan
puncak dari cara berpikir kolektif yang luar biasa. Di sini tersimpan ilmu,
nilai, dan dialektika kehidupan yang begitu dalam.
Namun, jika kita menengok lebih
dekat, ada satu pertanyaan besar yang menggantung dan jarang terucap: Di manakah
jejak para pemimpinnya?
Ironi Sebuah Tanah Istimewa
Secara sejarah dan "darah",
wilayah Borobudur jelas memiliki trah yang istimewa. Tanah ini pernah
melahirkan pemikiran besar yang membangun peradaban dunia. Tapi anehnya, jika
kita menelusuri catatan sejarah modern dan politik, kita dihadapkan pada satu
fakta yang mencengangkan:
Hampir tidak pernah tercatat, putra
daerah dari wilayah Kecamatan Borobudur yang duduk menduduki jabatan strategis.
Belum ada yang menjadi Gubernur,
belum ada yang menjadi Bupati, apalagi Menteri. Di tengah kemegahan candi yang
menjadi simbol kekuasaan dan kebijaksanaan masa lalu, wilayah ini justru
mengalami apa yang bisa kita sebut sebagai "Krisis Tokoh" atau
"Kesunyian Politik".
Terjebak dalam "Lubang
Hitam" Kepemilikan
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa tanah yang begitu kaya akan nilai budaya justru "mandul"
melahirkan pemimpin formal?
Seringkali, perhatian kita justru
teralihkan dari esensi utama. Kita terlalu sibuk berdebat soal "Siapa
yang punya?" dan "Siapa yang mengelola?". Padahal,
ketika kita terlalu fokus pada kepemilikan, kita akan masuk ke dalam
"lubang hitam" birokrasi dan kepentingan sempit. Kita lupa bertanya
pada hal yang paling mendasar:
"Cara berpikir macam apa yang
sebenarnya melahirkan kehebatan Borobudur ini?"
Borobudur tidak lahir dari hasrat
kepemilikan individu atau ambisi kekuasaan semata. Candi ini lahir dari visi
yang melampaui ego, dari semangat gotong royong, dan dari kesadaran kolektif
masyarakat yang luar biasa. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya menjadi DNA
masyarakat Borobudur.
Apakah Kesederhanaan Menjadi
Penghalang?
Mungkin inilah jawabannya. Masyarakat
Borobudur hidup dengan kearifan lokal yang mengutamakan musyawarah,
kesederhanaan, dan kerja nyata. Mereka lebih akrab dengan budaya ngalap
berkah dan menjaga warisan leluhur, daripada berlomba mengejar jabatan
politik.
Nilai-nilai luhur yang diwariskan
justru mengajarkan untuk tidak terikat pada tahta dan kekuasaan duniawi.
Akibatnya, potensi kepemimpinan yang ada justru lebih banyak tersalurkan ke
dalam penguatan sosial dan budaya, bukan ke dalam arena politik formal.
Panggilan untuk Membangkitkan Memori
Kolektif
Kita tidak bisa terus diam melihat
fakta ini. Borobudur bukan sekadar objek wisata atau batu-batu tua. Ia adalah
cerminan cara berpikir bangsa yang besar.
Sudah saatnya kita tidak hanya
membicarakan Borobudur sebagai aset yang harus dikelola atau diperebutkan. Kita
harus kembali pada akarnya: Membangkitkan kembali cara berpikir yang
melahirkan Borobudur.
Jika cara berpikir itu kembali hidup,
jika semangat kolektif dan visi yang melampaui zaman itu kembali bangkit, bukan
tidak mungkin suatu saat nanti, dari tanah yang suci ini, akan lahir kembali
tokoh-tokoh besar yang tidak hanya memimpin wilayah, tapi juga memimpin pemikiran.
Borobudur terlalu besar untuk hanya
menjadi saksi bisu. Ia harus menjadi inspirasi lahirnya kembali
pemimpin-pemimpin sejati.
"Borobudur mengajarkan kita
bahwa kekuatan terbesar bukanlah terletak pada siapa yang memegang kekuasaan,
tapi pada bagaimana kita mampu berpikir dan bekerja bersama melampaui ego
sendiri."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar