BOROBUDUR: PERADABAN RAKSASA YANG SUNYI DARI TOKOH POLITIK - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 11 April 2026

BOROBUDUR: PERADABAN RAKSASA YANG SUNYI DARI TOKOH POLITIK

 

Oleh: Sucoro Setrodiharjo

Siapa yang tidak kenal Borobudur? Monumen batu megah ini adalah bukti nyata kejeniusan nenek moyang yang melampaui zamannya. Ia adalah ensiklopedia terbuka, perpustakaan alam, dan puncak dari cara berpikir kolektif yang luar biasa. Di sini tersimpan ilmu, nilai, dan dialektika kehidupan yang begitu dalam.

Namun, jika kita menengok lebih dekat, ada satu pertanyaan besar yang menggantung dan jarang terucap: Di manakah jejak para pemimpinnya?

 

Ironi Sebuah Tanah Istimewa

Secara sejarah dan "darah", wilayah Borobudur jelas memiliki trah yang istimewa. Tanah ini pernah melahirkan pemikiran besar yang membangun peradaban dunia. Tapi anehnya, jika kita menelusuri catatan sejarah modern dan politik, kita dihadapkan pada satu fakta yang mencengangkan:

Hampir tidak pernah tercatat, putra daerah dari wilayah Kecamatan Borobudur yang duduk menduduki jabatan strategis.

Belum ada yang menjadi Gubernur, belum ada yang menjadi Bupati, apalagi Menteri. Di tengah kemegahan candi yang menjadi simbol kekuasaan dan kebijaksanaan masa lalu, wilayah ini justru mengalami apa yang bisa kita sebut sebagai "Krisis Tokoh" atau "Kesunyian Politik".

 

Terjebak dalam "Lubang Hitam" Kepemilikan

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tanah yang begitu kaya akan nilai budaya justru "mandul" melahirkan pemimpin formal?

Seringkali, perhatian kita justru teralihkan dari esensi utama. Kita terlalu sibuk berdebat soal "Siapa yang punya?" dan "Siapa yang mengelola?". Padahal, ketika kita terlalu fokus pada kepemilikan, kita akan masuk ke dalam "lubang hitam" birokrasi dan kepentingan sempit. Kita lupa bertanya pada hal yang paling mendasar:

"Cara berpikir macam apa yang sebenarnya melahirkan kehebatan Borobudur ini?"

Borobudur tidak lahir dari hasrat kepemilikan individu atau ambisi kekuasaan semata. Candi ini lahir dari visi yang melampaui ego, dari semangat gotong royong, dan dari kesadaran kolektif masyarakat yang luar biasa. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya menjadi DNA masyarakat Borobudur.

 

Apakah Kesederhanaan Menjadi Penghalang?

Mungkin inilah jawabannya. Masyarakat Borobudur hidup dengan kearifan lokal yang mengutamakan musyawarah, kesederhanaan, dan kerja nyata. Mereka lebih akrab dengan budaya ngalap berkah dan menjaga warisan leluhur, daripada berlomba mengejar jabatan politik.

Nilai-nilai luhur yang diwariskan justru mengajarkan untuk tidak terikat pada tahta dan kekuasaan duniawi. Akibatnya, potensi kepemimpinan yang ada justru lebih banyak tersalurkan ke dalam penguatan sosial dan budaya, bukan ke dalam arena politik formal.

 

Panggilan untuk Membangkitkan Memori Kolektif

Kita tidak bisa terus diam melihat fakta ini. Borobudur bukan sekadar objek wisata atau batu-batu tua. Ia adalah cerminan cara berpikir bangsa yang besar.

Sudah saatnya kita tidak hanya membicarakan Borobudur sebagai aset yang harus dikelola atau diperebutkan. Kita harus kembali pada akarnya: Membangkitkan kembali cara berpikir yang melahirkan Borobudur.

Jika cara berpikir itu kembali hidup, jika semangat kolektif dan visi yang melampaui zaman itu kembali bangkit, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, dari tanah yang suci ini, akan lahir kembali tokoh-tokoh besar yang tidak hanya memimpin wilayah, tapi juga memimpin pemikiran.

Borobudur terlalu besar untuk hanya menjadi saksi bisu. Ia harus menjadi inspirasi lahirnya kembali pemimpin-pemimpin sejati.

"Borobudur mengajarkan kita bahwa kekuatan terbesar bukanlah terletak pada siapa yang memegang kekuasaan, tapi pada bagaimana kita mampu berpikir dan bekerja bersama melampaui ego sendiri."

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar