Borobudur yang Kian Sepi: Membaca Ulang Arah Pengelolaan dan Dampaknya bagi Kehidupan Wisata - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 03 Mei 2026

Borobudur yang Kian Sepi: Membaca Ulang Arah Pengelolaan dan Dampaknya bagi Kehidupan Wisata


 Awal tahun 2026 menjadi masa yang tidak mudah bagi denyut pariwisata di sekitar Candi Borobudur. Penurunan jumlah kunjungan tidak lagi sekadar asumsi atau data statistik, tetapi nyata dirasakan langsung oleh para pelaku di lapangan.

Salah satu suara itu datang dari Pak Iman, seorang sopir Biro Travel Crisna, yang sehari-hari mengantar wisatawan ke berbagai destinasi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dengan pengalaman bertahun-tahun di jalan, ia menyaksikan sendiri perubahan drastis yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam keterangannya, Pak Iman menuturkan bahwa sejak Desember hingga Januari–Februari 2026, jumlah tamu menurun tajam. Jika sebelumnya hampir tidak pernah ada hari tanpa kunjungan, kini justru terjadi hari-hari kosong tanpa tamu sama sekali. “Dulu itu tidak pernah sepi, selalu ada saja tamu setiap hari. Sekarang bisa kosong,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tempat-tempat yang selama ini dikenal stabil dan selalu ramai pun ikut terdampak. Saat ini, tamu yang masih datang umumnya hanya mereka yang sudah memiliki komitmen perjalanan, seperti paket yang terikat dengan hotel tertentu.

Lebih jauh, Pak Iman menilai bahwa perubahan sistem kunjungan di Borobudur menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat wisatawan. Sistem kunjungan berbasis sesi yang kini diterapkan dinilai menyulitkan, terutama bagi wisatawan dengan jadwal terbatas.

“Sekarang itu harus ikut sesi. Kalau telat sedikit saja, harus menunggu sesi berikutnya. Bisa satu jam sendiri. Padahal tamu sering punya jadwal lain, mau ke bandara atau naik kereta,” jelasnya.

Ia membandingkan dengan kondisi sebelumnya, di mana wisatawan bisa langsung masuk sejak pagi hari, menikmati kawasan candi dengan lebih leluasa, dan dalam waktu sekitar dua jam sudah merasa cukup puas. Fleksibilitas waktu tersebut kini hilang, digantikan oleh sistem yang lebih kaku.

Dampaknya cukup signifikan. Banyak biro perjalanan, menurut Pak Iman, kini mulai menghapus Borobudur dari paket wisata mereka. “Sekarang banyak yang di-skip. Daripada ribet dan makan waktu, akhirnya tidak dimasukkan,” katanya.

Selain sistem sesi, persoalan akses dan tata kelola di dalam kawasan juga menjadi keluhan yang sering ia dengar dari para tamu. Jarak parkir yang jauh, pintu masuk dan keluar yang berbeda, serta jalur yang membingungkan membuat pengalaman wisata menjadi kurang nyaman.

“Kadang tamu bingung, masuk dari mana, keluar dari mana. Ada yang harus jalan kaki jauh, padahal parkirnya tidak dekat. Itu sering jadi keluhan,” tambahnya.

Belum lagi soal durasi kunjungan yang terbatas. Dengan waktu hanya sekitar satu jam di area candi, banyak wisatawan merasa pengalaman yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan. Harga tiket yang relatif mahal semakin memperkuat pertimbangan untuk tidak berkunjung.

Dampak paling terasa, menurut Pak Iman, terjadi pada segmen rombongan, terutama sekolah. Ia memperkirakan penurunannya bisa mencapai sekitar 80 persen. Banyak rombongan kini memilih destinasi lain yang lebih praktis dan tidak memiliki banyak pembatasan.

Situasi ini berbanding terbalik dengan Candi Prambanan. Di sana, terutama pada sore hari, kunjungan justru masih tinggi. Bus-bus pariwisata terlihat memenuhi area parkir, bahkan sering menimbulkan kemacetan.

“Kalau di Prambanan itu sore masih penuh. Bus banyak. Karena lebih mudah, tidak pakai sesi seperti di Borobudur,” ujar Pak Iman.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi dalam industri pariwisata. Ketika satu destinasi dianggap terlalu rumit dan tidak efisien, maka pilihan akan beralih ke tempat lain yang lebih fleksibel.

Apa yang disampaikan Pak Iman bukan sekadar keluhan personal, melainkan cerminan dari realitas yang dihadapi banyak pelaku wisata di lapangan. Kebijakan pengelolaan yang bertujuan baik seperti menjaga kelestarian perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap dinamika wisata dan kebutuhan pengunjung.

Borobudur bukan hanya warisan budaya dunia, tetapi juga ruang hidup bagi banyak orang. Ketika kunjungan menurun, dampaknya menjalar ke berbagai lapisan—dari sopir, pemandu wisata, pelaku UMKM, hingga jaringan usaha yang bergantung pada arus wisata.

Penurunan yang terjadi saat ini menjadi sinyal penting bahwa perlu ada evaluasi menyeluruh. Sistem sesi, akses kawasan, hingga pengalaman wisata perlu ditinjau kembali agar tetap menemukan keseimbangan antara pelestarian dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, Borobudur bukan hanya tentang menjaga batu-batu bersejarah, tetapi juga tentang menjaga kehidupan yang tumbuh dan bergantung di sekitarnya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar