Awal tahun 2026 menjadi masa yang tidak mudah bagi denyut pariwisata di sekitar Candi Borobudur. Penurunan jumlah kunjungan tidak lagi sekadar asumsi atau data statistik, tetapi nyata dirasakan langsung oleh para pelaku di lapangan.
Salah satu suara itu datang dari
Pak Iman, seorang sopir Biro Travel Crisna, yang sehari-hari mengantar
wisatawan ke berbagai destinasi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dengan
pengalaman bertahun-tahun di jalan, ia menyaksikan sendiri perubahan drastis
yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam keterangannya, Pak Iman
menuturkan bahwa sejak Desember hingga Januari–Februari 2026, jumlah tamu
menurun tajam. Jika sebelumnya hampir tidak pernah ada hari tanpa kunjungan,
kini justru terjadi hari-hari kosong tanpa tamu sama sekali. “Dulu itu tidak
pernah sepi, selalu ada saja tamu setiap hari. Sekarang bisa kosong,”
ungkapnya.
Menurutnya, kondisi ini sangat
berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tempat-tempat yang selama
ini dikenal stabil dan selalu ramai pun ikut terdampak. Saat ini, tamu yang
masih datang umumnya hanya mereka yang sudah memiliki komitmen perjalanan,
seperti paket yang terikat dengan hotel tertentu.
Lebih jauh, Pak Iman menilai
bahwa perubahan sistem kunjungan di Borobudur menjadi salah satu penyebab utama
menurunnya minat wisatawan. Sistem kunjungan berbasis sesi yang kini diterapkan
dinilai menyulitkan, terutama bagi wisatawan dengan jadwal terbatas.
“Sekarang itu harus ikut sesi.
Kalau telat sedikit saja, harus menunggu sesi berikutnya. Bisa satu jam
sendiri. Padahal tamu sering punya jadwal lain, mau ke bandara atau naik
kereta,” jelasnya.
Ia membandingkan dengan kondisi
sebelumnya, di mana wisatawan bisa langsung masuk sejak pagi hari, menikmati
kawasan candi dengan lebih leluasa, dan dalam waktu sekitar dua jam sudah
merasa cukup puas. Fleksibilitas waktu tersebut kini hilang, digantikan oleh
sistem yang lebih kaku.
Dampaknya cukup signifikan.
Banyak biro perjalanan, menurut Pak Iman, kini mulai menghapus Borobudur dari
paket wisata mereka. “Sekarang banyak yang di-skip. Daripada ribet dan makan
waktu, akhirnya tidak dimasukkan,” katanya.
Selain sistem sesi, persoalan
akses dan tata kelola di dalam kawasan juga menjadi keluhan yang sering ia
dengar dari para tamu. Jarak parkir yang jauh, pintu masuk dan keluar yang
berbeda, serta jalur yang membingungkan membuat pengalaman wisata menjadi
kurang nyaman.
“Kadang tamu bingung, masuk dari
mana, keluar dari mana. Ada yang harus jalan kaki jauh, padahal parkirnya tidak
dekat. Itu sering jadi keluhan,” tambahnya.
Belum lagi soal durasi kunjungan
yang terbatas. Dengan waktu hanya sekitar satu jam di area candi, banyak wisatawan
merasa pengalaman yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang harus
dikeluarkan. Harga tiket yang relatif mahal semakin memperkuat pertimbangan
untuk tidak berkunjung.
Dampak paling terasa, menurut
Pak Iman, terjadi pada segmen rombongan, terutama sekolah. Ia memperkirakan
penurunannya bisa mencapai sekitar 80 persen. Banyak rombongan kini memilih
destinasi lain yang lebih praktis dan tidak memiliki banyak pembatasan.
Situasi ini berbanding terbalik
dengan Candi Prambanan. Di sana, terutama
pada sore hari, kunjungan justru masih tinggi. Bus-bus pariwisata terlihat
memenuhi area parkir, bahkan sering menimbulkan kemacetan.
“Kalau di Prambanan itu sore
masih penuh. Bus banyak. Karena lebih mudah, tidak pakai sesi seperti di
Borobudur,” ujar Pak Iman.
Fenomena ini menunjukkan adanya
pergeseran preferensi dalam industri pariwisata. Ketika satu destinasi dianggap
terlalu rumit dan tidak efisien, maka pilihan akan beralih ke tempat lain yang
lebih fleksibel.
Apa yang disampaikan Pak Iman
bukan sekadar keluhan personal, melainkan cerminan dari realitas yang dihadapi
banyak pelaku wisata di lapangan. Kebijakan pengelolaan yang bertujuan baik seperti
menjaga kelestarian perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap dinamika wisata
dan kebutuhan pengunjung.
Borobudur bukan hanya warisan
budaya dunia, tetapi juga ruang hidup bagi banyak orang. Ketika kunjungan
menurun, dampaknya menjalar ke berbagai lapisan—dari sopir, pemandu wisata,
pelaku UMKM, hingga jaringan usaha yang bergantung pada arus wisata.
Penurunan yang terjadi saat ini
menjadi sinyal penting bahwa perlu ada evaluasi menyeluruh. Sistem sesi, akses
kawasan, hingga pengalaman wisata perlu ditinjau kembali agar tetap menemukan
keseimbangan antara pelestarian dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, Borobudur
bukan hanya tentang menjaga batu-batu bersejarah, tetapi juga tentang menjaga
kehidupan yang tumbuh dan bergantung di sekitarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar