Persoalan listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan pengelolaan Candi Borobudur bukanlah sekadar deretan angka dalam laporan keuangan negara atau urusan teknis administratif yang dingin. Di balik kebijakan-kebijakan tersebut, sesungguhnya tersimpan sebuah narasi besar tentang bagaimana bangsa ini mengelola "rumah tangganya". Jika tidak ditangani dengan kebijaksanaan yang melampaui logika pasar, ketiga isu ini berpotensi menjadi benih perpecahan, bahkan bom waktu sosial yang mengancam keutuhan keluarga besar bangsa serta mencederai amanah nilai-nilai luhur Nusantara. Pada hakikatnya, rentetan persoalan ini berakar pada satu titik krusial: terjadinya penyimpangan makna "kepentingan umum" yang perlahan menjauh dari rasa keadilan dan nilai persaudaraan, sebuah pergeseran yang mempertaruhkan marwah dan martabat bangsa di mata rakyatnya sendiri.
Ketimpangan pertama tampak nyata dalam kebijakan
energi kita. Dalam wacana subsidi listrik dan BBM, kebutuhan pokok rakyat kerap
kali diposisikan sebagai komoditas ekonomi yang harus tunduk pada logika pasar
yang kaku. Ironisme muncul ketika beban inefisiensi sistem pengelolaan
dialihkan kepada rakyat kecil melalui narasi yang meminta mereka untuk
"belajar berhemat". Padahal, kita semua tahu bahwa masyarakat miskin
di negeri ini adalah kelompok yang paling khatam soal berhemat. Bagi mereka,
hemat bukanlah sebuah pilihan gaya hidup atau kebijakan pemerintah, melainkan
mekanisme pertahanan diri untuk menyambung nyawa. Ketika akses terhadap energi sebagai
kebutuhan dasar penopang ekonomi rakyat menjadi semakin mahal dan sulit
dijangkau, maka yang terancam sesungguhnya bukan sekadar daya beli, melainkan
fondasi keadilan sosial yang menjadi perekat persatuan kita.
Paradoks ini terasa semakin menyesakkan ketika kita
menoleh pada pengelolaan warisan dunia, Candi Borobudur. Sebagai situs yang
disakralkan dan diagungkan dunia, Borobudur semestinya dijaga sebagai ruang
spiritual dan mercusuar nilai kerohanian yang melintasi batas materi. Namun,
dalam praktiknya selama lebih dari empat dekade, Borobudur justru dikelola
melalui kacamata manajemen modern yang cenderung menjadikannya sebagai sumber
daya ekonomi semata. Ukuran kesejahteraan masyarakat di sekitarnya pun sering
kali hanya diukur secara kuantitatif melalui kumpulan "cuan" dan
harta, sementara kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa warga di sekitar situs
megah itu masih banyak yang hidup dalam kesederhanaan yang getir, bahkan tetap
menyandang gelar masyarakat prasejahtera. Di tanah leluhurnya sendiri, ruang
gerak mereka untuk bertahan hidup melalui usaha kecil justru kian terjepit oleh
kebijakan dan pembatasan akses yang sering kali lebih berpihak pada target
pendapatan negara ketimbang kedaulatan warga.
Saat ini, muncul harapan ketika pemerintah
berencana menghidupkan kembali Borobudur sebagai ruang sakral melalui
pemasangan Chattra di puncaknya. Niat baik ini seharusnya menjadi
momentum untuk mengembalikan ruh Borobudur sebagai ruang kontemplasi. Namun,
niat tersebut kembali diuji oleh benturan antara aspek keaslian arkeologis dan
kekhawatiran akan ancaman terhadap pendapatan ekonomi. Di sinilah letak ujian
pembuktian bagi para pemegang kebijakan. Jika niat baik tersebut ternyata masih
menyimpan motif tersembunyi yang ujungnya hanyalah keuntungan materi, maka kita
telah gagal memaknai ajaran Borobudur itu sendiri. Candi ini mengajarkan
tingkatan kehidupan melalui Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu,
di mana puncak pencapaian spiritual manusia adalah kemampuan untuk melepaskan
beban penderitaan dan keterikatan duniawi. Sungguh sebuah ironi jika
pengelolaan tempat suci ini justru tetap tertahan pada level Kamadhatu hanya
mengejar nafsu ekonomi dan justru menambah beban penderitaan rakyat, alih-alih
melepaskannya.
Ironi ini tidak lagi berhenti pada ranah ekonomi,
melainkan telah menyentuh dimensi kemanusiaan yang paling mendasar.
Keterlibatan lembaga seperti Komnas HAM dalam mengurai persoalan di Borobudur
adalah alarm keras bahwa ada ruang hidup yang terdesak dan suara-suara rakyat
yang terabaikan. Ada paradoks yang sulit dinalar secara jernih: kita
mengagungkan bangunan batu sebagai warisan agung dunia, namun pada saat yang
sama kita seolah menutup mata terhadap martabat manusia yang hidup di
sekitarnya. Padahal, nilai Ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan seharusnya
berjalan beriringan. Memuliakan situs suci tanpa memuliakan manusia yang
menjaganya adalah sebuah kontradiksi moral yang nyata. Mengagungkan Borobudur
namun meminggirkan masyarakatnya berarti kita sedang mengingkari filosofi Memayu
Hayuning Bawana sebuah mandat luhur untuk menjaga harmoni dunia yang kita
junjung tinggi.
Rangkaian persoalan ini menunjukkan bahwa
merumuskan kebijakan publik bukanlah perkara sederhana yang cukup diselesaikan
di atas meja kerja. Kesalahan arah kebijakan dapat berdampak luas dan mendalam
bagi psikologi bangsa. Dalam sistem demokrasi, meski keputusan sering diambil
berdasarkan suara mayoritas, ukuran tersebut tidak selalu menjamin hadirnya
keadilan substantif. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan
dan peraturan perundang-undangan menjadi keharusan yang mendesak. Dalam konteks
ini, peran lembaga perwakilan rakyat seperti DPR dan DPRD menjadi sangat krusial
sebagai benteng terakhir untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar
memiliki ruh keadilan, menjaga nilai persaudaraan, dan selaras dengan cita-cita
kesejahteraan bersama.
Sudah saatnya setiap kebijakan negara kembali pada
khitahnya: menghormati dimensi Ilahiah, memuliakan dimensi kemanusiaan, dan
menghidupkan nilai keadilan sosial. Cara kita memperlakukan rakyat dalam
kebijakan energi dan cara kita mengelola warisan spiritual seperti Borobudur
adalah cermin dari karakter asli bangsa ini. Kebesaran sebuah bangsa tidak akan
pernah diukur dari seberapa banyak devisa yang dikeruk atau seberapa besar
efisiensi anggaran yang dicapai dengan mengorbankan rakyat kecil, melainkan
dari kemampuannya menghadirkan keadilan dan menjaga martabat setiap manusia
yang bernaung di bawah benderanya. Tanpa itu, kita tidak hanya sedang
kehilangan potensi ekonomi, tetapi kita sedang mempertaruhkan marwah bangsa itu
sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar