(Merangkum Pemikiran Prof. Totok Roesmanto)
Tokoh
Sakuni dalam Mahabharata menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu manusia
telah menyadari hadirnya kelicikan dan intrik dalam politik kekuasaan. Di Jawa,
tokoh ini berkembang menjadi Sengkuni melalui Kakawin Baratayuda karya Empu
Sedah dan Empu Panuluh pada masa Raja Jayabaya.
Baratayuda bukan sekadar kisah perang, melainkan peringatan bahwa kekuasaan
selalu dibayangi tipu daya.
Berbeda
dengan versi India yang menekankan konflik antarnegara, versi Jawa mengolah
Sengkuni menjadi simbol ambisi politik dan rekayasa kekuasaan. Ia bukan hanya
licik karena dendam keluarga, tetapi karena hasrat menjadi patih Astina. Intrik
dadu, fitnah, dan adu domba menjadi jalan menuju perang besar Baratayuda.
Dalam
sejarah Jawa, watak “Sengkuni” mulai tampak nyata pada masa Majapahit melalui
tokoh Mahapati yang menyingkirkan Ronggolawe, Nambi, dan Sora demi jabatan
mahapatih. Pola serupa kembali muncul menjelang pecahnya Mataram melalui intrik
Patih Pringgalaya pada masa Pakubuwana II.
Konflik antara Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi
akhirnya melahirkan Perjanjian Giyanti
yang memecah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.
Dalam
peristiwa itu hadir pula tokoh VOC, Nicolaas
Hartingh, yang tinggal di Semarang di rumah dinas yang kini dikenal
sebagai Wisma Perdamaian. Dari sinilah
muncul jejak menarik antara politik kolonial dan simbol arsitektur Jawa.
Tradisi
atap limasan sebenarnya berkembang kuat di budaya Jawa Pesisiran Wetan,
terutama kawasan Demak dan pantai utara Jawa. Bentuk “limasan renteng” atau
limasan bergandengan menunjukkan status sosial dan kekuasaan. Semakin banyak
sambungan “endhas”-nya, semakin tinggi martabat pemilik rumah.
Nicolaas
Hartingh kemudian membangun rumah dinas dengan limasan renteng hingga tujuh
endhas—sesuatu yang sangat jarang dalam tradisi lokal. Bangunan itu dipandang
bukan sekadar rumah pejabat VOC, melainkan simbol dominasi politik kolonial
atas tanah Jawa. Dari sinilah kemudian muncul pamali di masyarakat Yogyakarta
terhadap bentuk “limasan gotong mayit” atau “limasan renteng”. Bentuk limasan
bergandengan dianggap membawa bayang-bayang perpecahan dan intrik politik
pasca-Giyanti, sehingga dihindari dalam tradisi arsitektur keraton Yogyakarta.
Karena
itu, yang dianggap berwatak “Sengkuni” bukan Nicolaas Hartingh secara langsung,
melainkan Pringgalaya yang memainkan intrik di balik konflik Mataram. Sementara
Pangeran Mangkubumi justru dikenang
sebagai perancang tata ruang dan pembangun peradaban: dari Surakarta hingga
Yogyakarta. Kontras ini memperlihatkan perbedaan antara politik adu domba dan visi
membangun kebudayaan.
Menariknya,
sebelum kisah Sengkuni berkembang di Jawa, relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan lebih banyak mengangkat Ramayana
daripada Mahabharata. Bahkan tokoh Semar tampaknya telah hadir lebih dahulu
sebagai simbol kebijaksanaan rakyat dan akar spiritual lokal Nusantara.
Hal ini menunjukkan bahwa budaya Jawa
tidak sekadar menyalin Mahabharata India, melainkan mengolahnya menjadi
filsafat lokal yang berpijak pada pengalaman sejarah, politik, dan
kebudayaannya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar