Menelusuri Jejak Sengkuni: Politik, Intrik, Simbol Budaya Jawa Pesisiran dan Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 07 Mei 2026

Menelusuri Jejak Sengkuni: Politik, Intrik, Simbol Budaya Jawa Pesisiran dan Borobudur

(Merangkum Pemikiran Prof. Totok Roesmanto)

Tokoh Sakuni dalam Mahabharata menunjukkan bahwa sejak ribuan tahun lalu manusia telah menyadari hadirnya kelicikan dan intrik dalam politik kekuasaan. Di Jawa, tokoh ini berkembang menjadi Sengkuni melalui Kakawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh pada masa Raja Jayabaya. Baratayuda bukan sekadar kisah perang, melainkan peringatan bahwa kekuasaan selalu dibayangi tipu daya.

Berbeda dengan versi India yang menekankan konflik antarnegara, versi Jawa mengolah Sengkuni menjadi simbol ambisi politik dan rekayasa kekuasaan. Ia bukan hanya licik karena dendam keluarga, tetapi karena hasrat menjadi patih Astina. Intrik dadu, fitnah, dan adu domba menjadi jalan menuju perang besar Baratayuda.

Dalam sejarah Jawa, watak “Sengkuni” mulai tampak nyata pada masa Majapahit melalui tokoh Mahapati yang menyingkirkan Ronggolawe, Nambi, dan Sora demi jabatan mahapatih. Pola serupa kembali muncul menjelang pecahnya Mataram melalui intrik Patih Pringgalaya pada masa Pakubuwana II. Konflik antara Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi akhirnya melahirkan Perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam peristiwa itu hadir pula tokoh VOC, Nicolaas Hartingh, yang tinggal di Semarang di rumah dinas yang kini dikenal sebagai Wisma Perdamaian. Dari sinilah muncul jejak menarik antara politik kolonial dan simbol arsitektur Jawa.

Tradisi atap limasan sebenarnya berkembang kuat di budaya Jawa Pesisiran Wetan, terutama kawasan Demak dan pantai utara Jawa. Bentuk “limasan renteng” atau limasan bergandengan menunjukkan status sosial dan kekuasaan. Semakin banyak sambungan “endhas”-nya, semakin tinggi martabat pemilik rumah.

Nicolaas Hartingh kemudian membangun rumah dinas dengan limasan renteng hingga tujuh endhas—sesuatu yang sangat jarang dalam tradisi lokal. Bangunan itu dipandang bukan sekadar rumah pejabat VOC, melainkan simbol dominasi politik kolonial atas tanah Jawa. Dari sinilah kemudian muncul pamali di masyarakat Yogyakarta terhadap bentuk “limasan gotong mayit” atau “limasan renteng”. Bentuk limasan bergandengan dianggap membawa bayang-bayang perpecahan dan intrik politik pasca-Giyanti, sehingga dihindari dalam tradisi arsitektur keraton Yogyakarta.

Karena itu, yang dianggap berwatak “Sengkuni” bukan Nicolaas Hartingh secara langsung, melainkan Pringgalaya yang memainkan intrik di balik konflik Mataram. Sementara Pangeran Mangkubumi justru dikenang sebagai perancang tata ruang dan pembangun peradaban: dari Surakarta hingga Yogyakarta. Kontras ini memperlihatkan perbedaan antara politik adu domba dan visi membangun kebudayaan.

Menariknya, sebelum kisah Sengkuni berkembang di Jawa, relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan lebih banyak mengangkat Ramayana daripada Mahabharata. Bahkan tokoh Semar tampaknya telah hadir lebih dahulu sebagai simbol kebijaksanaan rakyat dan akar spiritual lokal Nusantara.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak sekadar menyalin Mahabharata India, melainkan mengolahnya menjadi filsafat lokal yang berpijak pada pengalaman sejarah, politik, dan kebudayaannya sendiri.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar