Oleh: Tim
Redaksi Sekolah Kehidupan
Candi
Borobudur seringkali hadir dalam ingatan kita sebagai tumpukan batu yang megah,
sebuah destinasi yang wajib dikunjungi, atau sekadar latar belakang foto yang
indah. Namun, di balik kemegahan visualnya, tersimpan sebuah pertanyaan
mendasar: Apakah kita benar-benar "melihat" Borobudur, atau kita
hanya melihat pantulan hasrat kita sendiri di atas batu-batunya?
Memasuki
tahun 2026, yang juga menandai 24 Tahun perjalanan Ruwat Rawat Borobudur,
kita diajak untuk berhenti sejenak. Lewat Webinar Sekolah Kehidupan ke-11,
sebuah dialektika kultural dibuka untuk membedah tema yang sangat dalam: “Memayu
Hayuning Borobudur: Belajar Dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, Hingga
Laku Raden Mas Panji Sosro Kartono.”
Purwaka:
Wangsit yang Muncul dari Bumi Menoreh
Ada
sebuah pepatah yang menjadi ruh dalam pertemuan ini: "Tatanan watu iku
dudu sekadar pajangan, nanging bisa dadi pepeling lan pepadang." Bahwa
tatanan batu bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat dan cahaya.
Borobudur,
secara filosofis adalah Bhumisambhara Budhara—Gunung Himpunan Kebajikan.
Ia adalah sebuah Mandala, sebuah peta suci yang menggambarkan perjalanan
batin manusia menuju kesempurnaan. Namun, realita hari ini menunjukkan
pergeseran yang mengkhawatirkan. Borobudur seringkali ditarik paksa ke dalam
ranah Kamadhatu—ruang hasrat. Ia menjadi objek wisata massal dan
komoditas ekonomi yang dieksploitasi, hingga seringkali kita lupa akan
fungsinya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan spiritualitas dunia.
Kegelisahan
inilah yang melahirkan sebuah "wangsit" filosofis dari Bumi Menoreh:
Jika pusaka sebesar Borobudur dikelola tanpa kebijaksanaan, ia akan kehilangan
jiwanya. Dan ketika sebuah pusat kesadaran kehilangan ruhnya, maka keseimbangan
ekologis, sosial, dan budaya di sekitarnya pun akan ikut terganggu.
Tiga
Pilar Kebijaksanaan: Semar, Sabdo Palon, dan Sosrokartono
Webinar
ini tidak hanya berbicara soal teknis pemugaran batu, melainkan pemugaran
kesadaran melalui tiga kacamata kearifan:
- Semar Badranaya & Sabdo
Palon:
Dalam tradisi Jawa, mereka bukan sekadar tokoh dalam cerita, melainkan
representasi dari "suara batin" dan kebijaksanaan purba. Mereka
adalah pengingat agar manusia tidak tercerabut dari akar nilainya.
Kehadiran mereka dalam diskusi ini melambangkan perlunya kita mendengarkan
kembali getaran makna yang tak tertulis (unwritten wisdom).
- Raden Mas Panji
Sosrokartono:
Sang "Jenius dari Timur" mengajarkan kita tentang pembangunan
manusia dari dalam. Jika Borobudur adalah arsitektur kesadaran yang
statis dalam bentuk fisik, maka ajaran Sosrokartono adalah praktik laku
kesadaran yang dinamis. Keduanya bertemu pada satu titik: kemajuan
lahiriah tidak akan berarti tanpa keseimbangan batiniah.
Misi
Besar: Memayu Hayuning Bawono
Webinar
ini membawa misi yang disebut sebagai Sedya Utama (Maksud Utama), yang
mencakup tiga langkah strategis bagi masa depan Borobudur:
- Restorasi Filosofis: Kita perlu mengembalikan
paradigma bahwa Borobudur adalah universitas terbuka bagi peradaban
manusia, bukan sekadar taman rekreasi.
- Harmonisasi Kebijakan: Mencari jalan tengah yang
bijak. Bagaimana pembatasan pengunjung demi konservasi bisa berjalan
beriringan dengan hak publik untuk belajar, serta tetap menghidupkan
ekonomi kreatif warga sekitar?
- Pariwisata Berkualitas
(Spiritual Tourism): Mengubah orientasi dari sekadar mengejar
jumlah kunjungan (mass tourism) menjadi pengejaran kualitas
pengalaman dan penghormatan terhadap nilai universal candi.
Masyarakat
lokal pun diposisikan sebagai "Pager Mangkok"—sebuah konsep
kearifan lokal di mana kesejahteraan dan kesadaran warga menjadi pagar alami
yang paling kuat untuk menjaga kesucian dan kelestarian kawasan Borobudur.
Menghimpun
Cahaya: Para Narasumber dan Penjaga Budaya
Diskusi
ini akan menjadi sangat kaya karena mempertemukan berbagai perspektif, mulai
dari akademisi, birokrat, hingga praktisi laku kehidupan. Nama-nama besar yang
akan berbagi cahaya antara lain:
- Prof. Dr. M. Baiquni: Akan membedah keterkaitan
geografi pariwisata dengan kesejahteraan lokal.
- Grengseng Pamuji Bupati Magelang : Akan menyampaikan arah kebijakan
daerah dalam pengelolaan kawasan Borobudur, terutama dalam memastikan
bahwa pembangunan pariwisata tetap berpihak pada keberlanjutan lingkungan
dan kesejahteraan masyarakat lokal.
- Syamsul Hadi SH.MM Direktur Kepercayaan
Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Menghadirkan perspektif
negara dalam perlindungan nilai-nilai spiritual, kepercayaan lokal, serta
pengakuan masyarakat adat sebagai bagian penting dalam menjaga ruh
kebudayaan Borobudur.
- Prof. Totok Rusmanto: Meninjau dimensi arsitektur
dan filosofi ruang suci.
- Prof. Agus Purwantoro: Menyelami aspek estetika
dan kekuatan simbol visual Borobudur.
- Prof. Dwi Purwoko: Menyoroti dinamika sosial
dan penguatan nilai di akar rumput.
- Joe Marbun (Madya): Membawa perspektif advokasi
pelestarian cagar budaya secara konsisten.
- Toni Yunus (Kanjeng Nggung): Menghubungkan spiritualitas
nusantara dengan tantangan zaman modern.
- Dr. Budiana Setiawan: Membedah kaitan
antropologis antara tradisi dan kebijakan modern.
- Novita Siswayanti, M.A.: Membawa relevansi
nilai-nilai luhur bagi generasi masa kini.
Pananggap
: M Hasbiansyah
Zulfahri, Ragile
Wiratno,Bejo Sendy,Dr Budi Harmawan, Dr Wiliam Kwan, Dedi Adhuri Phd , Tokoh
Budaya Dan Masyarakat Borobudur
Dialektika
ini akan dipandu oleh Sucoro Setrodiharjo, sosok budayawan yang selama
puluhan tahun konsisten mengawal nafas Ruwat Rawat Borobudur.
Hari : Minggu ,10 Mei 2026
Waktu : Pkl 19.00 WIB
Narahubung
: Sucoro , 085600566885
Penutup:
Menjaga Mercusuar Cahaya
Mengelola
Borobudur adalah sebuah laku prihatin. Ia menuntut kerendahan hati untuk
mendengarkan wejangan para leluhur dan keberanian untuk mengambil kebijakan
yang berpihak pada kelestarian nilai.
Melalui
Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 ini, kita berharap Borobudur tidak lagi menjadi
tumpukan batu yang bisu, melainkan kembali menjadi mercusuar cahaya bagi dunia.
Mari kita
ingat pesan penutup ini:
"Sura
Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti." (Segala kekerasan hati dan
angkara murka akan luluh oleh kelembutan dan kasih sayang).
Sampai
jumpa di ruang dialektika. Mari kita menjadi bagian dari sejarah yang menjaga
pusaka peradaban ini dengan penuh kesadaran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar