Menjemput Wangsit dari Bumi Menoreh: Mengembalikan Arsitektur Kesadaran Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 04 Mei 2026

Menjemput Wangsit dari Bumi Menoreh: Mengembalikan Arsitektur Kesadaran Borobudur

Oleh: Tim Redaksi Sekolah Kehidupan

Candi Borobudur seringkali hadir dalam ingatan kita sebagai tumpukan batu yang megah, sebuah destinasi yang wajib dikunjungi, atau sekadar latar belakang foto yang indah. Namun, di balik kemegahan visualnya, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah kita benar-benar "melihat" Borobudur, atau kita hanya melihat pantulan hasrat kita sendiri di atas batu-batunya?

Memasuki tahun 2026, yang juga menandai 24 Tahun perjalanan Ruwat Rawat Borobudur, kita diajak untuk berhenti sejenak. Lewat Webinar Sekolah Kehidupan ke-11, sebuah dialektika kultural dibuka untuk membedah tema yang sangat dalam: “Memayu Hayuning Borobudur: Belajar Dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, Hingga Laku Raden Mas Panji Sosro Kartono.”

Purwaka: Wangsit yang Muncul dari Bumi Menoreh

Ada sebuah pepatah yang menjadi ruh dalam pertemuan ini: "Tatanan watu iku dudu sekadar pajangan, nanging bisa dadi pepeling lan pepadang." Bahwa tatanan batu bukan sekadar hiasan, melainkan pengingat dan cahaya.

Borobudur, secara filosofis adalah Bhumisambhara Budhara—Gunung Himpunan Kebajikan. Ia adalah sebuah Mandala, sebuah peta suci yang menggambarkan perjalanan batin manusia menuju kesempurnaan. Namun, realita hari ini menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan. Borobudur seringkali ditarik paksa ke dalam ranah Kamadhatu—ruang hasrat. Ia menjadi objek wisata massal dan komoditas ekonomi yang dieksploitasi, hingga seringkali kita lupa akan fungsinya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan spiritualitas dunia.

Kegelisahan inilah yang melahirkan sebuah "wangsit" filosofis dari Bumi Menoreh: Jika pusaka sebesar Borobudur dikelola tanpa kebijaksanaan, ia akan kehilangan jiwanya. Dan ketika sebuah pusat kesadaran kehilangan ruhnya, maka keseimbangan ekologis, sosial, dan budaya di sekitarnya pun akan ikut terganggu.

Tiga Pilar Kebijaksanaan: Semar, Sabdo Palon, dan Sosrokartono

Webinar ini tidak hanya berbicara soal teknis pemugaran batu, melainkan pemugaran kesadaran melalui tiga kacamata kearifan:

  1. Semar Badranaya & Sabdo Palon: Dalam tradisi Jawa, mereka bukan sekadar tokoh dalam cerita, melainkan representasi dari "suara batin" dan kebijaksanaan purba. Mereka adalah pengingat agar manusia tidak tercerabut dari akar nilainya. Kehadiran mereka dalam diskusi ini melambangkan perlunya kita mendengarkan kembali getaran makna yang tak tertulis (unwritten wisdom).
  2. Raden Mas Panji Sosrokartono: Sang "Jenius dari Timur" mengajarkan kita tentang pembangunan manusia dari dalam. Jika Borobudur adalah arsitektur kesadaran yang statis dalam bentuk fisik, maka ajaran Sosrokartono adalah praktik laku kesadaran yang dinamis. Keduanya bertemu pada satu titik: kemajuan lahiriah tidak akan berarti tanpa keseimbangan batiniah.

Misi Besar: Memayu Hayuning Bawono

Webinar ini membawa misi yang disebut sebagai Sedya Utama (Maksud Utama), yang mencakup tiga langkah strategis bagi masa depan Borobudur:

  • Restorasi Filosofis: Kita perlu mengembalikan paradigma bahwa Borobudur adalah universitas terbuka bagi peradaban manusia, bukan sekadar taman rekreasi.
  • Harmonisasi Kebijakan: Mencari jalan tengah yang bijak. Bagaimana pembatasan pengunjung demi konservasi bisa berjalan beriringan dengan hak publik untuk belajar, serta tetap menghidupkan ekonomi kreatif warga sekitar?
  • Pariwisata Berkualitas (Spiritual Tourism): Mengubah orientasi dari sekadar mengejar jumlah kunjungan (mass tourism) menjadi pengejaran kualitas pengalaman dan penghormatan terhadap nilai universal candi.

Masyarakat lokal pun diposisikan sebagai "Pager Mangkok"—sebuah konsep kearifan lokal di mana kesejahteraan dan kesadaran warga menjadi pagar alami yang paling kuat untuk menjaga kesucian dan kelestarian kawasan Borobudur.

Menghimpun Cahaya: Para Narasumber dan Penjaga Budaya

Diskusi ini akan menjadi sangat kaya karena mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, birokrat, hingga praktisi laku kehidupan. Nama-nama besar yang akan berbagi cahaya antara lain:

  • Prof. Dr. M. Baiquni: Akan membedah keterkaitan geografi pariwisata dengan kesejahteraan lokal.
  • Grengseng Pamuji Bupati Magelang : Akan menyampaikan arah kebijakan daerah dalam pengelolaan kawasan Borobudur, terutama dalam memastikan bahwa pembangunan pariwisata tetap berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
  • Syamsul Hadi SH.MM Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Menghadirkan perspektif negara dalam perlindungan nilai-nilai spiritual, kepercayaan lokal, serta pengakuan masyarakat adat sebagai bagian penting dalam menjaga ruh kebudayaan Borobudur.
  • Prof. Totok Rusmanto: Meninjau dimensi arsitektur dan filosofi ruang suci.
  • Prof. Agus Purwantoro: Menyelami aspek estetika dan kekuatan simbol visual Borobudur.
  • Prof. Dwi Purwoko: Menyoroti dinamika sosial dan penguatan nilai di akar rumput.
  • Joe Marbun (Madya): Membawa perspektif advokasi pelestarian cagar budaya secara konsisten.
  • Toni Yunus (Kanjeng Nggung): Menghubungkan spiritualitas nusantara dengan tantangan zaman modern.
  • Dr. Budiana Setiawan: Membedah kaitan antropologis antara tradisi dan kebijakan modern.
  • Novita Siswayanti, M.A.: Membawa relevansi nilai-nilai luhur bagi generasi masa kini.

Pananggap : M Hasbiansyah Zulfahri, Ragile Wiratno,Bejo Sendy,Dr Budi Harmawan, Dr Wiliam Kwan, Dedi Adhuri Phd , Tokoh Budaya Dan Masyarakat Borobudur

Dialektika ini akan dipandu oleh Sucoro Setrodiharjo, sosok budayawan yang selama puluhan tahun konsisten mengawal nafas Ruwat Rawat Borobudur.

Hari    : Minggu ,10 Mei 2026

Waktu : Pkl 19.00 WIB

Narahubung : Sucoro , 085600566885

Penutup: Menjaga Mercusuar Cahaya

Mengelola Borobudur adalah sebuah laku prihatin. Ia menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan wejangan para leluhur dan keberanian untuk mengambil kebijakan yang berpihak pada kelestarian nilai.

Melalui Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 ini, kita berharap Borobudur tidak lagi menjadi tumpukan batu yang bisu, melainkan kembali menjadi mercusuar cahaya bagi dunia.

Mari kita ingat pesan penutup ini:

"Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti." (Segala kekerasan hati dan angkara murka akan luluh oleh kelembutan dan kasih sayang).

Sampai jumpa di ruang dialektika. Mari kita menjadi bagian dari sejarah yang menjaga pusaka peradaban ini dengan penuh kesadaran.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar