Menjaga Borobudur di Tengah Pegulatan Berbagai Tafsir
Candi Borobudur berdiri megah di tengah Lembah
Kedu, bukan sekadar susunan batu, melainkan “kitab raksasa” yang menuliskan
perjalanan hidup manusia. Selama lebih dari seribu tahun, ia menjadi saksi
perubahan zaman dan hingga kini tetap menjadi ruang dialog antara beragam
tafsir: agama dan budaya, masa lalu dan masa kini, keaslian dan perkembangan.
Sarasehan bertajuk Spiritual Borobudur yang
digagas oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka ruang penting
untuk memahami dua wajah spiritual Borobudur. Di satu sisi, ia adalah tempat
ibadah Buddha yang sarat makna religius. Di sisi lain, ia merupakan ruang
budaya yang hidup lahir dari cipta, rasa, dan karsa masyarakat yang memunculkan
beragam tafsir yang tidak tunggal.
Perbedaan tafsir ini tampak nyata, misalnya dalam
wacana pemasangan chattra. Sebagian memandangnya sebagai penguatan makna
religius, sementara yang lain melihatnya berpotensi mengganggu keutuhan karya,
bahkan menimbulkan kekhawatiran terhadap aspek ekonomi dan dominasi tafsir
keagamaan tertentu. Padahal, struktur Borobudur sendiri telah merepresentasikan
perjalanan spiritual yang utuh dari
Kamadhatu hingga Arupadhatu sebuah simbol kesempurnaan, di mana pada puncaknya
tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, karena manusia telah menanggalkan segala
beban penderitaan.
Di tengah perdebatan tersebut, kehidupan budaya
masyarakat sekitar justru terus berjalan. Tradisi Ruwat Rawat, selametan,
hingga praktik spiritual sehari-hari menunjukkan bahwa Borobudur adalah lanskap
hidup. Namun dalam kebijakan, praktik-praktik ini belum sepenuhnya
terakomodasi, meski telah masuk dalam kerangka Objek Pemajuan Kebudayaan.
Tantangan lain adalah keterbatasan akses dan
keterlibatan masyarakat. Selama ini, pengalaman wisata lebih berpusat pada
candi, belum sepenuhnya menyentuh desa-desa sebagai sumber budaya hidup. Peran PT
Taman Wisata Candi Borobudur menjadi penting untuk membuka konektivitas ini,
agar wisatawan dapat merasakan Borobudur secara lebih utuh tidak hanya melihat,
tetapi juga mengalami.
Di sisi lain, komunitas penghayat kepercayaan di
kawasan Borobudur terus tumbuh dengan sistem nilai dan kelembagaannya sendiri.
Tantangan besar terletak pada proses pewarisan, terutama kepada generasi muda
yang membutuhkan pendekatan edukasi dan literasi yang relevan agar nilai-nilai
luhur tidak terputus.
Ke depan, Borobudur perlu diposisikan sebagai
“monumen hidup” ruang yang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan.
Pengembangan wisata berbasis desa dengan pendekatan spiritual dapat menjadi
jalan tengah: menjaga nilai sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Strategi
Pemajuan Kebudayaan
Pemajuan kebudayaan harus berjalan dalam tiga
koridor utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Nilai-nilai budaya
tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan secara kreatif serta dimanfaatkan
secara tepat dan proporsional.
Pendekatan yang dibangun bukan semata-mata transaksional,
melainkan transformasional—mengubah cara pandang masyarakat terhadap budaya
sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar objek ekonomi.
Ruang-ruang ekspresi budaya perlu dibuka lebih
luas, termasuk di kawasan Borobudur. Pemanfaatan zona-zona tertentu untuk
kegiatan budaya dan spiritual dapat menjadi langkah strategis dalam
menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan.
Konsep pemasangan chattra, misalnya, tidak
hanya dimaknai sebagai penyempurnaan fisik candi, tetapi juga dapat dibaca
sebagai simbol kebangkitan Borobudur sebagai monumen hidup—ruang ekspresi,
ruang edukasi, dan ruang interaksi budaya.
Di tengah kebuntuan tafsir, pendekatan yang muncul
justru mencerminkan kearifan mendalam, sejalan dengan pesan Raden Mas Panji
Sosrokartono: “Indonesia ingin maju, perhatikanlah Borobudur.” Falsafah ngluruk
tanpa bala, menang tanpa ngasorake menjadi jalan berjuang tanpa memaksakan,
menang tanpa merendahkan.
Itulah yang tampak dalam proses dialog: tidak ada
yang mendominasi, semua pihak duduk bersama mencari kesepahaman. Hasilnya bukan
sekadar keputusan, melainkan kesadaran bersama bahwa Borobudur adalah milik
semua, dan setiap langkah harus mempertimbangkan keberagaman yang hidup di
dalamnya.
Namun, kesepahaman ini bukanlah akhir, melainkan
awal. Setiap keputusan akan diuji oleh waktu apakah mampu membawa kedamaian,
meningkatkan kesejahteraan, dan tetap menjaga makna hakiki Borobudur.
Karena itu, upaya menjaga Borobudur membutuhkan
kesinambungan dialog yang terus hidup, pengawalan bersama, dan semangat gotong
royong. Tafsir akan terus berkembang, tantangan akan terus muncul, dan di
situlah pentingnya ruang bersama untuk merawat arah.
Keberhasilan mencapai kesepahaman ini bukanlah
akhir perjalanan, justru menjadi awal dari tantangan yang lebih besar.
Keputusan apa pun yang diambil apakah chattra dipasang atau tidak akan
diuji oleh waktu. Penentu keberhasilannya bukanlah hari ini, melainkan masa
depan, ketika dampaknya benar-benar terasa:
- Apakah membawa kedamaian?
- Apakah meningkatkan kesejahteraan masyarakat
sekitar?
Semua ini membutuhkan pengawalan yang
berkelanjutan, kesabaran, dan semangat gotong royong. Persoalan dan tafsir baru
akan terus bermunculan seiring perubahan zaman. Oleh karena itu, Gerakan budaya
Ruwat Rawat Borobudur turut ambil bagian untuk evaluasi dan dialog secara
terus-menerus agar setiap langkah tetap selaras dengan makna hakiki Borobudur.
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar
acara, melainkan gerakan berbasis hati yang lahir dari masyarakat terutama
warga terdampak pembebasan lahan—sebagai wujud ikatan batin dan kesetiaan
terhadap Candi Borobudur. Berawal dari semangat gotong royong menjaga nilai
spiritual sekaligus melindungi fisik candi dari tekanan pariwisata massal
melalui pentas seni dan upacara tradisi, gerakan ini kini memasuki usia ke-24
tahun dan semakin mandiri, dengan fokus pada penguatan pengetahuan melalui
diskusi, kajian, serta penerbitan buku sebagai dokumentasi dan pewarisan
pengalaman panjang untuk generasi mendatang .
Pada akhirnya, menjaga Borobudur bukan hanya soal
melindungi batu-batunya, tetapi merawat makna yang hidup di dalamnya. Dengan
semangat ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, warisan ini tidak
hanya lestari, tetapi juga terus memberi cahaya bagi generasi yang akan datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar