NGLURUK TANPA BALA , MENANG TANPA NGASORAKE - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 04 Mei 2026

NGLURUK TANPA BALA , MENANG TANPA NGASORAKE


 Menjaga Borobudur di Tengah Pegulatan Berbagai Tafsir

Candi Borobudur berdiri megah di tengah Lembah Kedu, bukan sekadar susunan batu, melainkan “kitab raksasa” yang menuliskan perjalanan hidup manusia. Selama lebih dari seribu tahun, ia menjadi saksi perubahan zaman dan hingga kini tetap menjadi ruang dialog antara beragam tafsir: agama dan budaya, masa lalu dan masa kini, keaslian dan perkembangan.

Sarasehan bertajuk Spiritual Borobudur yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka ruang penting untuk memahami dua wajah spiritual Borobudur. Di satu sisi, ia adalah tempat ibadah Buddha yang sarat makna religius. Di sisi lain, ia merupakan ruang budaya yang hidup lahir dari cipta, rasa, dan karsa masyarakat yang memunculkan beragam tafsir yang tidak tunggal.

Perbedaan tafsir ini tampak nyata, misalnya dalam wacana pemasangan chattra. Sebagian memandangnya sebagai penguatan makna religius, sementara yang lain melihatnya berpotensi mengganggu keutuhan karya, bahkan menimbulkan kekhawatiran terhadap aspek ekonomi dan dominasi tafsir keagamaan tertentu. Padahal, struktur Borobudur sendiri telah merepresentasikan perjalanan spiritual yang utuh  dari Kamadhatu hingga Arupadhatu sebuah simbol kesempurnaan, di mana pada puncaknya tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, karena manusia telah menanggalkan segala beban penderitaan.

Di tengah perdebatan tersebut, kehidupan budaya masyarakat sekitar justru terus berjalan. Tradisi Ruwat Rawat, selametan, hingga praktik spiritual sehari-hari menunjukkan bahwa Borobudur adalah lanskap hidup. Namun dalam kebijakan, praktik-praktik ini belum sepenuhnya terakomodasi, meski telah masuk dalam kerangka Objek Pemajuan Kebudayaan.

Tantangan lain adalah keterbatasan akses dan keterlibatan masyarakat. Selama ini, pengalaman wisata lebih berpusat pada candi, belum sepenuhnya menyentuh desa-desa sebagai sumber budaya hidup. Peran PT Taman Wisata Candi Borobudur menjadi penting untuk membuka konektivitas ini, agar wisatawan dapat merasakan Borobudur secara lebih utuh tidak hanya melihat, tetapi juga mengalami.

Di sisi lain, komunitas penghayat kepercayaan di kawasan Borobudur terus tumbuh dengan sistem nilai dan kelembagaannya sendiri. Tantangan besar terletak pada proses pewarisan, terutama kepada generasi muda yang membutuhkan pendekatan edukasi dan literasi yang relevan agar nilai-nilai luhur tidak terputus.

Ke depan, Borobudur perlu diposisikan sebagai “monumen hidup” ruang yang tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan. Pengembangan wisata berbasis desa dengan pendekatan spiritual dapat menjadi jalan tengah: menjaga nilai sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Strategi Pemajuan Kebudayaan

Pemajuan kebudayaan harus berjalan dalam tiga koridor utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Nilai-nilai budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan secara kreatif serta dimanfaatkan secara tepat dan proporsional.

Pendekatan yang dibangun bukan semata-mata transaksional, melainkan transformasional—mengubah cara pandang masyarakat terhadap budaya sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar objek ekonomi.

Ruang-ruang ekspresi budaya perlu dibuka lebih luas, termasuk di kawasan Borobudur. Pemanfaatan zona-zona tertentu untuk kegiatan budaya dan spiritual dapat menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan.

Konsep pemasangan chattra, misalnya, tidak hanya dimaknai sebagai penyempurnaan fisik candi, tetapi juga dapat dibaca sebagai simbol kebangkitan Borobudur sebagai monumen hidup—ruang ekspresi, ruang edukasi, dan ruang interaksi budaya.

Di tengah kebuntuan tafsir, pendekatan yang muncul justru mencerminkan kearifan mendalam, sejalan dengan pesan Raden Mas Panji Sosrokartono: “Indonesia ingin maju, perhatikanlah Borobudur.” Falsafah ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake menjadi jalan berjuang tanpa memaksakan, menang tanpa merendahkan.

Itulah yang tampak dalam proses dialog: tidak ada yang mendominasi, semua pihak duduk bersama mencari kesepahaman. Hasilnya bukan sekadar keputusan, melainkan kesadaran bersama bahwa Borobudur adalah milik semua, dan setiap langkah harus mempertimbangkan keberagaman yang hidup di dalamnya.

Namun, kesepahaman ini bukanlah akhir, melainkan awal. Setiap keputusan akan diuji oleh waktu apakah mampu membawa kedamaian, meningkatkan kesejahteraan, dan tetap menjaga makna hakiki Borobudur.

Karena itu, upaya menjaga Borobudur membutuhkan kesinambungan dialog yang terus hidup, pengawalan bersama, dan semangat gotong royong. Tafsir akan terus berkembang, tantangan akan terus muncul, dan di situlah pentingnya ruang bersama untuk merawat arah.

Keberhasilan mencapai kesepahaman ini bukanlah akhir perjalanan, justru menjadi awal dari tantangan yang lebih besar. Keputusan apa pun yang diambil apakah chattra dipasang atau tidak akan diuji oleh waktu. Penentu keberhasilannya bukanlah hari ini, melainkan masa depan, ketika dampaknya benar-benar terasa:

  • Apakah membawa kedamaian?
  • Apakah meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar?

Semua ini membutuhkan pengawalan yang berkelanjutan, kesabaran, dan semangat gotong royong. Persoalan dan tafsir baru akan terus bermunculan seiring perubahan zaman. Oleh karena itu, Gerakan budaya Ruwat Rawat Borobudur turut ambil bagian untuk evaluasi dan dialog secara terus-menerus agar setiap langkah tetap selaras dengan makna hakiki Borobudur.

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar acara, melainkan gerakan berbasis hati yang lahir dari masyarakat terutama warga terdampak pembebasan lahan—sebagai wujud ikatan batin dan kesetiaan terhadap Candi Borobudur. Berawal dari semangat gotong royong menjaga nilai spiritual sekaligus melindungi fisik candi dari tekanan pariwisata massal melalui pentas seni dan upacara tradisi, gerakan ini kini memasuki usia ke-24 tahun dan semakin mandiri, dengan fokus pada penguatan pengetahuan melalui diskusi, kajian, serta penerbitan buku sebagai dokumentasi dan pewarisan pengalaman panjang untuk generasi mendatang .

Pada akhirnya, menjaga Borobudur bukan hanya soal melindungi batu-batunya, tetapi merawat makna yang hidup di dalamnya. Dengan semangat ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, warisan ini tidak hanya lestari, tetapi juga terus memberi cahaya bagi generasi yang akan datang.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar