Ketika Modal Sosial Gotong Royong Runtuh

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Selama 40 tahun, pengelola mungkin berhasil meraih rapor biru dalam hal pembangunan fisik atau target kunjungan wisatawan. Namun, jika kita menengok pada kondisi masyarakat di kawasan Borobudur, yang terlihat adalah rapot merah modal sosial. Fakta pahit yang harus kita hadapi adalah masyarakat di kawasan ini telah mengalami fragmentasi sosial yang mendalam.

Semangat gotong royong modal sosial yang menjadi akar budaya Nusantara dan seharusnya menjadi fondasi utama dalam menjaga warisan dunia kini kian luntur. Kepercayaan (trust) antarwarga, serta antara warga dengan pengelola, berada pada titik terendah. Masyarakat tidak lagi bergerak sebagai satu kesatuan yang kompak, melainkan sebagai kepingan-kepingan yang saling berserakan.

Mengapa ini bisa terjadi? Fragmentasi ini bukan tanpa sebab. Kondisi masyarakat saat ini kian memprihatinkan karena mereka telah terbelah oleh:

1.      Ketimpangan Akses: Ada kelompok yang mendapatkan karpet merah terhadap kebijakan, sementara kelompok lain harus berjuang di pinggiran.

2.      Distribusi Manfaat yang Tidak Merata: Manfaat ekonomi pariwisata Borobudur sering kali hanya dinikmati oleh segelintir pihak atau mereka yang memiliki modal besar, sementara warga lokal hanya mendapatkan "ampas" dari kebijakan yang ada.

3.      Persaingan Tidak Sehat: Karena akses yang terbatas, masyarakat dipaksa untuk saling berkompetisi memperebutkan remah-remah ekonomi. Dalam ruang yang seharusnya menjadi ladang kebersamaan, kerukunan , kedamaian , kini telah berubah manjadi   arena "rebutan kekuasaan, eksistensi " .

Akibatnya, kohesi sosial rubuh, modal sosial gotong royong runtuh. Masyarakat tidak lagi "akur" atau kompak dalam satu visi yang sama untuk melestarikan , memanfaatkan warisan budaya Borobudur. Mereka sibuk memperjuangkan kepentingan kelompok dan pribadi-pribadi untuk masuk dalam system yang diharapkan  mampu menjamin keadilan bagi semua.

Kondisi ini diperparah oleh pendekatan penguasa kebijakan yang sering kali keliru. Bukannya merangkul kelompok masyarakat yang kritis dengan dialog yang murni, pemangku kebijakan justru sering terjebak dalam pola manajemen konflik.

Alih-alih menyatukan, mereka cenderung menggunakan strategi divide and conquer (pecah belah). Masyarakat sering kali diadu atau dibanding-bandingkan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang "penurut" diberi panggung, sementara kelompok yang kritis dipinggirkan atau dicap sebagai penghambat pembangunan. Fenomena ini menunjukkan ketidakmampuan penguasa kebijakan dalam menerjemahkan makna "adil" yang sesungguhnya. Mereka menciptakan harmoni semu di permukaan, sementara di akar rumput, api kecemburuan dan kemarahan terus membara.

Tanpa Modal Sosial yang kuat yang terdiri dari semangat gotong royong, sinergi multi-stakeholder, kepercayaan, dan kebersamaan upaya membangun kembali Borobudur menjadi ruang yang damai adalah sebuah kemustahilan.

"Saat ini, Borobudur ibarat sebuah pohon raksasa yang megah namun akarnya kian rapuh; karena tanah tempatnya berpijak yaitu masyarakat local telah kering dan terbelah oleh fragmentasi kepentingan. Dalam kondisi ini, pengelola sebenarnya memegang peran krusial sebagai pemersatu untuk memulihkan kedamaian serta mewujudkan kesejahteraan bersama yang berkedaulatan melalui skema kerja sama dan pemberdayaan yang nyata.

Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga, termasuk sektor swasta, sebenarnya telah sering menggulirkan beragam program pemberdayaan masyarakat di kawasan Borobudur. Program-program tersebut umumnya hadir dalam bentuk pelatihan, bantuan modal usaha, hingga pembangunan fisik skala kecil. Idealnya, pengelola yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan ini menjadikan program tersebut sebagai jembatan pemersatu antar-kelompok maupun individu. Sebab, jika perumusan dan pelaksanaannya melibatkan masyarakat secara substantif sebagai stakeholder lokal, maka program tersebut bukan sekadar bantuan materi, melainkan media untuk merekatkan kembali kohesi sosial yang sempat retak."

Sayangnya, dalam perjalanannya, pengelola cenderung lebih merangkul kelompok atau individu tertentu yang dianggap mampu 'meredam' gejolak sesaat. Akibatnya, inti persoalan yang telah merambah pada aspek kemanusiaan yang dirasakan oleh orang banyak terus  mengendap di dalam hati. Ketidakadilan yang terabaikan itu kini menuntut keadilannya sendiri melalui doa-doa sunyi yang terbingkai dalam hukum karma, selaras dengan filosofi luhur yang terpahat pada warisan leluhur itu sendiri. Dan doa-doa sunyi tersebut mengusik perhatian Komnas Ham setelah salah satu kelompok pedagang  mengadukan nasipnya di kantor LBH Yogyakarta . Komnas Ham pun turun tangan untuk membantu menjernihkan persoalan

Kegaduhan yang terus berulang adalah ekspresi dari rasa frustrasi masyarakat yang merasa kehilangan persaudaraan demi kepentingan pembangunan yang tidak inklusif. Tanpa rekonsiliasi sosial, kemegahan Borobudur hanyalah sebuah kepalsuan di atas luka masyarakat yang menganga.

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default