Kronik 40 Tahun Kesunyian Dari Pemugaran ke Peminggiran

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Titik Balik 1983, Megah Fisik,Tapi  Sepi Makna

Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Tahun 1983 tercatat dalam sejarah sebagai puncak kejayaan teknokratis. Pemugaran besar-besaran yang didukung oleh UNESCO berhasil menyelamatkan Borobudur dari keruntuhan fisik. Dunia berdecak kagum; batu-batu yang sebelumnya berserakan kembali tersusun presisi. Namun, di balik keberhasilan teknis itu, sebuah "tembok" tak kasat mata mulai dibangun.

Pascakeberhasilan pemugaran, tata kelola Borobudur memasuki era baru yang bersifat sentralistik. Fokus pemerintah saat itu adalah menjadikan Borobudur sebagai ikon pariwisata nasional dan dunia. Melalui pembentukan badan pengelola khusus, otoritas atas kawasan ini mulai ditarik ke pusat. Inilah awal dari 40 tahun kesunyian dialog sebuah masa di mana suara masyarakat lokal perlahan-lahan diredam demi kepentingan stabilitas dan citra pariwisata.

Seiring berjalannya waktu, Borobudur tidak lagi dipandang sebagai sebuah tempat ibadah atau situs budaya yang hidup, melainkan sebuah "Kawasan Strategis". Terminologi ini membawa konsekuensi besar: pengelolaan yang bersifat korporat. Fokus utama bergeser dari pelestarian nilai menjadi manajemen aset.

Dalam kurun waktu empat dekade ini, lahir kebijakan-kebijakan yang memperlakukan kawasan Borobudur layaknya sebuah theme park (taman hiburan). Zonasi dibuat dengan ketat. Meski secara konservasi zonasi ini penting, namun secara sosiologis, zonasi tersebut menciptakan sekat-sekat fisik dan mental yang memisahkan warga desa dengan candinya sendiri. Masyarakat yang dulunya memiliki akses natural terhadap ruang spiritual ini, kini harus berhadapan dengan gerbang, tiket, dan aturan birokrasi yang asing.

Kegaduhan yang kita saksikan saat ini bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari rasa tidak puas yang terpendam selama 40 tahun karena kurangnya ruang komunikasi.

Selama empat dekade, pola komunikasi yang terbangun bersifat satu arah (top-down). Pemerintah dan pengelola datang kepada masyarakat bukan untuk berdialog atau meminta masukan, melainkan untuk "sosialisasi" sebuah istilah halus untuk memberitahukan keputusan yang sudah final.

·         Masyarakat diminta mendukung, tanpa pernah dilibatkan sejak perencanaan.

·         Masyarakat diminta bersiap menjadi "tuan rumah", tanpa pernah ditanya apa kebutuhan mereka sebagai "pemilik rumah".

Akibatnya, muncul rasa keterasingan kolektif. Masyarakat melihat kemegahan hotel-hotel baru dan angka kunjungan yang jutaan, namun mereka merasa hanya menjadi penonton di pinggir jalan.

Selama 40 tahun ini, struktur sosial masyarakat Borobudur mengalami perubahan drastis. Dari masyarakat agraris dan spiritual yang guyub, mereka dipaksa bertransformasi menjadi masyarakat jasa pariwisata yang kompetitif. Sayangnya, transformasi ini tidak dibarengi dengan penguatan modal sosial yang cukup.

Tanpa adanya keterlibatan dalam kebijakan, masyarakat bergerak secara sporadis untuk mencari remah-remah keuntungan dari pariwisata. Hal ini memicu persaingan antar-kelompok yang tidak sehat, yang nantinya akan kita bedah sebagai fragmentasi sosial. Kesunyian komunikasi dari pihak pengelola selama empat dekade telah menciptakan ruang kosong yang kini diisi oleh prasangka, kecurigaan, dan akhirnya, kegaduhan.

Borobudur tetap berdiri megah dalam bisunya, namun di bawah kakinya, ketegangan sosiologis telah mencapai titik jenuh. Empat puluh tahun "kesunyian" telah cukup untuk menciptakan bom waktu yang siap meledak dalam bentuk protes dan konflik yang kita lihat hari ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default