Ada satu pertanyaan sederhana yang muncul pada Webinar Sekolah Kehidupan ke 10 Th 2026 . ini terasa begitu mengganjal: Apakah Candi Borobudur masih menjadi milik kita?
Pertanyaan ini tidak muncul dari ruang seminar yang
dingin atau forum resmi pemerintah. Ia lahir dari percakapan jujur pada Webinar
Sekolah Kehidupan , dari desas-desus warga lokal, dan dari para peziarah yang
datang bukan untuk berswafoto, melainkan untuk mencari ketenangan batin.
Antara
Keagungan Batu dan Pergeseran Makna
Bagi banyak orang, Borobudur sebenarnya sudah
"selesai". Ia tidak butuh polesan tambahan untuk menjadi agung. Dalam
diamnya, dalam susunan batu yang sarat filosofi, ia sudah memberikan segalanya.
Kesempurnaannya justru terletak pada keheningan itu.
Namun, belakangan ini kita melihat tren berbeda.
Berbagai proyek "penyempurnaan" mulai masuk mulai dari penambahan
elemen fisik hingga penataan ulang kawasan yang sangat masif. Bagi pemangku
kebijakan, ini mungkin progres. Tapi bagi mereka yang mencintai Borobudur
dengan rasa, ini adalah pergeseran makna.
Ketika keaslian mulai "disentuh" demi
kepentingan tertentu, jarak pun tercipta. Jarak antara situs dan manusianya.
Jarak antara warisan sejarah dan pemilik sahnya: rakyat.
Metafora
"Sengkuni" dalam Birokrasi
Salah satu kegelisahan terbesar masyarakat saat ini
adalah: Siapa sebenarnya yang mengatur alur cerita Borobudur?
Masyarakat seringkali hanya berhadapan dengan
petugas lapangan atau sistem birokrasi yang kaku. Jarang sekali mereka bisa
duduk satu meja dengan pengambil keputusan yang sesungguhnya. Di sinilah
metafora Sengkuni menjadi relevan.
Sengkuni bukan sekadar tokoh antagonis, ia adalah
simbol kecerdikan yang bekerja di balik bayang-bayang. Ia mengatur arah tanpa
terlihat, mengendalikan tanpa tampak. Ketika keputusan-keputusan besar diambil
tanpa melibatkan rasa dan suara warga sekitar, wajar jika muncul kecurigaan
bahwa ada "skenario" yang sedang disusun tanpa partisipasi bersama.
"Ruang yang dulu hidup, kini
sunyi. Warga yang dulu bagian dari ekosistem, kini perlahan tersisih dari peran
utamanya."
Mengubah
Keresahan Menjadi Kesadaran
Jika hari ini ada masyarakat yang marah atau vokal
bersuara, itu bukan tanda kebencian. Justru sebaliknya itu adalah tanda cinta
yang belum padam. Kita marah karena kita merasa memiliki. Kita bersuara
karena kita peduli.
Borobudur bukan hanya milik kementerian atau
pengelola. Ia adalah milik peradaban. Namun, rasa memiliki (sense of
belonging) tidak bisa dipaksakan lewat aturan. Ia tumbuh dari:
- Keterlibatan nyata
(bukan sekadar sosialisasi satu arah).
- Transparansi tujuan
(apa yang sebenarnya ingin dicapai?).
- Kejelasan manfaat
bagi rakyat kecil, bukan hanya korporasi.
Tanpa ini semua, gerakan apa pun hanya akan menjadi
kerumunan tanpa arah.
Menjaga
Bukan Berarti Menguasai
Mungkin yang kita butuhkan saat ini bukan lebih
banyak beton atau lift, melainkan lebih banyak kesadaran.
- Menjaga tidak selalu berarti menambah.
- Merawat tidak selalu berarti mengubah.
- Keagungan Borobudur bukan pada seberapa mewah
fasilitasnya, tapi pada seberapa dalam ia bermakna bagi jiwa manusia yang
mendatanginya.
Jika hubungan antara manusia dan candi terputus,
Borobudur hanya akan menjadi tumpukan batu mati. Namun jika hubungan itu dijaga
dengan kejujuran, ia akan tetap hidup sebagai jiwa bangsa.
Ruwat Rawat Borobudur yang berangkat dari ketulusan
hati pastilah akan bertemu dengan sahabat sejatinya , seiring dengan kembalinya ruh Borobudur ke tangan rakyatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar