SENGKUNI, SEMAR ,DAN SABDO PALON : MEMBACA BOROBUDUR SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 30 April 2026

SENGKUNI, SEMAR ,DAN SABDO PALON : MEMBACA BOROBUDUR SEBAGAI CERMIN KEHIDUPAN

 

Catatan dari Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 Tahun 2026 dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Prof Totok Rusmanto mengatakan , ada satu kecenderungan yang sering terjadi ketika kita berbicara tentang warisan budaya: kita terpukau pada bentuknya, tetapi lupa membaca maknanya. Kita mengagumi bangunan, tetapi jarang menyelami pesan yang tersembunyi di baliknya. Padahal, sebagaimana mengemuka dalam diskusi Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 yang menghadirkan Totok Rusmanto, Agus Purwanto, Budiana Setiawan, Novita Siswayanti, Ragile Wiratno, Muhamat Dimyati, Bejo Sendy, dengan moderator Sucoro Setrodiharjo, Borobudur tidak cukup dipahami sebagai candi, melainkan sebagai teks kehidupan yang menyimpan refleksi mendalam tentang manusia.

Dalam membaca “teks” ini, muncul dua tokoh yang sangat kuat sebagai kunci tafsir, yaitu Sengkuni dan Semar. Keduanya bukan sekadar karakter dalam kisah, melainkan simbol dari dua kutub yang selalu hadir dalam kehidupan: kelicikan dan kebijaksanaan. Sengkuni sering dipahami sebagai tokoh licik, tetapi sesungguhnya ia lebih dari itu. Ia adalah simbol kecerdasan yang kehilangan arah. Ia mampu membaca situasi, memahami kelemahan, dan menyusun strategi, tetapi semua itu tidak digunakan untuk kebenaran, melainkan untuk kepentingan. Dalam versi India, Sakuni lahir dari luka dan dendam keluarga, tetapi ketika kisah ini masuk ke Jawa dan ditulis ulang menjadi Baratayuda pada masa Jayabaya oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh, maknanya berkembang menjadi lebih politis: ia menjadi simbol ambisi kekuasaan yang tidak segan menggunakan manipulasi, termasuk melalui metafora permainan dadu yang menjatuhkan Pandawa.

Pola seperti ini tidak berhenti di dunia cerita. Ia menjelma dalam sejarah dan realitas. Dalam konteks Jawa, figur seperti Patih Pringgoloyo dapat dibaca sebagai representasi “Sengkuni” dalam dunia nyata, terutama dalam konflik antara Pangeran Mangkubumi dan Pakubuwono II. Kelicikan dalam bentuk adu domba, strategi tersembunyi, dan kepentingan pribadi menjadi bagian dari dinamika kekuasaan. Namun seperti dalam kisahnya, kelicikan tidak pernah benar-benar abadi. Ia mungkin menang sesaat, tetapi pada akhirnya runtuh oleh dirinya sendiri.

Di sinilah budaya Jawa menghadirkan penyeimbangnya: Semar. Tokoh ini tidak ditemukan dalam Mahabharata India, tetapi justru menjadi inti dalam pewayangan Jawa. Semar adalah paradoks: ia tampak sebagai rakyat jelata, tetapi sesungguhnya mengandung dimensi ilahi. Ia tidak berkuasa, tetapi menjadi penuntun kekuasaan. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan kesadaran. Semar adalah simbol bahwa kebijaksanaan sejati tidak selalu berada di atas, tidak selalu tampil megah, tetapi justru hadir dalam kesederhanaan yang membumi. Yang menarik, Semar hadir lebih dahulu dalam tradisi Jawa sebelum Sengkuni dikenal luas, menunjukkan bahwa kebudayaan Jawa telah memiliki fondasi nilai sendiri sebelum mengadopsi pengaruh luar.

Ketika kita mengaitkan hal ini dengan Candi Borobudur, pemahaman kita menjadi semakin luas. Borobudur bukan sekadar bangunan, melainkan representasi perjalanan manusia, dari Kamadhatu menuju Rupadhatu hingga Arupadhatu. Ia menggambarkan perjalanan dari nafsu menuju bentuk, dan akhirnya menuju keheningan tanpa bentuk. Namun menariknya, dalam relief Borobudur tidak ditemukan kisah Mahabharata. Yang ada adalah kisah-kisah Buddhis dan Ramayana. Ini menunjukkan bahwa pada masa tersebut, fokus peradaban belum menempatkan konflik kelicikan seperti Sengkuni sebagai narasi utama. Artinya, kesadaran akan “Sengkuni” sebagai simbol sosial-politik berkembang pada periode berikutnya.

Di sisi lain, struktur Borobudur yang berundak mengisyaratkan bahwa sebelum agama-agama besar berkembang, telah ada kepercayaan lokal yang lebih tua. Ini penting, karena sering kali kita terjebak mencampuradukkan berbagai sistem kepercayaan Hindu Siwa, Buddha Mahayana, Tantrayana, hingga sinkretisme Siwa-Buddha pada masa Rakai Pikatan tanpa memahami konteks sejarahnya. Padahal, budaya Jawa memiliki kemampuan unik untuk tidak sekadar menerima, tetapi mengolah dan menafsirkan ulang setiap pengaruh yang datang.

Dalam konteks inilah, kehadiran Sabdo Palon dan Noyo Genggong menjadi sangat relevan. Mereka bukan sekadar tokoh mitologis, melainkan simbol dari kesadaran yang muncul ketika manusia mulai kehilangan arah. Mereka adalah pengingat bahwa ketika nilai-nilai mulai kabur, ketika kebijaksanaan mulai ditinggalkan, maka akan selalu ada suara yang memanggil untuk kembali. Jika Sengkuni adalah simbol bayangan dan Semar adalah cahaya, maka Sabdo Palon dan Noyo Genggong adalah penjaga keseimbangan di antara keduanya.

Pada akhirnya, semua ini bukan sekadar tentang masa lalu. Ini adalah tentang kita hari ini. Borobudur tidak hanya berdiri sebagai monumen sejarah, tetapi sebagai cermin kehidupan. Di dalamnya, kita bisa melihat perjalanan manusia: jatuh dalam kelicikan, bangkit melalui kesadaran, dan kembali menemukan arah. Sengkuni mengajarkan kita untuk mengenali sisi gelap, Semar mengingatkan kita pada kebijaksanaan, dan Sabdo Palon serta Noyo Genggong memanggil kita untuk tidak melupakan jati diri.

Maka pertanyaannya menjadi sederhana namun mendalam: dalam perjalanan hidup ini, kita sedang mengikuti siapa? Sengkuni, Semar, atau justru sedang menunggu panggilan untuk kembali? Tunggu pada Webinar ke 11 mendatang

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar