Catatan dari Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 Tahun 2026 dalam
rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
Prof Totok Rusmanto mengatakan , ada satu
kecenderungan yang sering terjadi ketika kita berbicara tentang warisan budaya:
kita terpukau pada bentuknya, tetapi lupa membaca maknanya. Kita mengagumi
bangunan, tetapi jarang menyelami pesan yang tersembunyi di baliknya. Padahal,
sebagaimana mengemuka dalam diskusi Webinar Sekolah Kehidupan ke-10 yang
menghadirkan Totok Rusmanto, Agus Purwanto, Budiana Setiawan, Novita
Siswayanti, Ragile Wiratno, Muhamat Dimyati, Bejo Sendy, dengan moderator
Sucoro Setrodiharjo, Borobudur tidak cukup dipahami sebagai candi, melainkan
sebagai teks kehidupan yang menyimpan refleksi mendalam tentang manusia.
Dalam membaca “teks” ini, muncul dua tokoh yang
sangat kuat sebagai kunci tafsir, yaitu Sengkuni dan Semar. Keduanya bukan
sekadar karakter dalam kisah, melainkan simbol dari dua kutub yang selalu hadir
dalam kehidupan: kelicikan dan kebijaksanaan. Sengkuni sering dipahami sebagai
tokoh licik, tetapi sesungguhnya ia lebih dari itu. Ia adalah simbol kecerdasan
yang kehilangan arah. Ia mampu membaca situasi, memahami kelemahan, dan
menyusun strategi, tetapi semua itu tidak digunakan untuk kebenaran, melainkan
untuk kepentingan. Dalam versi India, Sakuni lahir dari luka dan dendam
keluarga, tetapi ketika kisah ini masuk ke Jawa dan ditulis ulang menjadi
Baratayuda pada masa Jayabaya oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh, maknanya
berkembang menjadi lebih politis: ia menjadi simbol ambisi kekuasaan yang tidak
segan menggunakan manipulasi, termasuk melalui metafora permainan dadu yang
menjatuhkan Pandawa.
Pola seperti ini tidak berhenti di dunia cerita. Ia
menjelma dalam sejarah dan realitas. Dalam konteks Jawa, figur seperti Patih
Pringgoloyo dapat dibaca sebagai representasi “Sengkuni” dalam dunia nyata,
terutama dalam konflik antara Pangeran Mangkubumi dan Pakubuwono II. Kelicikan
dalam bentuk adu domba, strategi tersembunyi, dan kepentingan pribadi menjadi
bagian dari dinamika kekuasaan. Namun seperti dalam kisahnya, kelicikan tidak
pernah benar-benar abadi. Ia mungkin menang sesaat, tetapi pada akhirnya runtuh
oleh dirinya sendiri.
Di sinilah budaya Jawa menghadirkan penyeimbangnya:
Semar. Tokoh ini tidak ditemukan dalam Mahabharata India, tetapi justru menjadi
inti dalam pewayangan Jawa. Semar adalah paradoks: ia tampak sebagai rakyat
jelata, tetapi sesungguhnya mengandung dimensi ilahi. Ia tidak berkuasa, tetapi
menjadi penuntun kekuasaan. Ia tidak memaksakan kehendak, tetapi menghadirkan
kesadaran. Semar adalah simbol bahwa kebijaksanaan sejati tidak selalu berada
di atas, tidak selalu tampil megah, tetapi justru hadir dalam kesederhanaan
yang membumi. Yang menarik, Semar hadir lebih dahulu dalam tradisi Jawa sebelum
Sengkuni dikenal luas, menunjukkan bahwa kebudayaan Jawa telah memiliki fondasi
nilai sendiri sebelum mengadopsi pengaruh luar.
Ketika kita mengaitkan hal ini dengan Candi
Borobudur, pemahaman kita menjadi semakin luas. Borobudur bukan sekadar
bangunan, melainkan representasi perjalanan manusia, dari Kamadhatu menuju
Rupadhatu hingga Arupadhatu. Ia menggambarkan perjalanan dari nafsu menuju
bentuk, dan akhirnya menuju keheningan tanpa bentuk. Namun menariknya, dalam
relief Borobudur tidak ditemukan kisah Mahabharata. Yang ada adalah kisah-kisah
Buddhis dan Ramayana. Ini menunjukkan bahwa pada masa tersebut, fokus peradaban
belum menempatkan konflik kelicikan seperti Sengkuni sebagai narasi utama.
Artinya, kesadaran akan “Sengkuni” sebagai simbol sosial-politik berkembang
pada periode berikutnya.
Di sisi lain, struktur Borobudur yang berundak
mengisyaratkan bahwa sebelum agama-agama besar berkembang, telah ada
kepercayaan lokal yang lebih tua. Ini penting, karena sering kali kita terjebak
mencampuradukkan berbagai sistem kepercayaan Hindu Siwa, Buddha Mahayana,
Tantrayana, hingga sinkretisme Siwa-Buddha pada masa Rakai Pikatan tanpa
memahami konteks sejarahnya. Padahal, budaya Jawa memiliki kemampuan unik untuk
tidak sekadar menerima, tetapi mengolah dan menafsirkan ulang setiap pengaruh
yang datang.
Dalam konteks inilah, kehadiran Sabdo Palon dan
Noyo Genggong menjadi sangat relevan. Mereka bukan sekadar tokoh mitologis,
melainkan simbol dari kesadaran yang muncul ketika manusia mulai kehilangan
arah. Mereka adalah pengingat bahwa ketika nilai-nilai mulai kabur, ketika
kebijaksanaan mulai ditinggalkan, maka akan selalu ada suara yang memanggil
untuk kembali. Jika Sengkuni adalah simbol bayangan dan Semar adalah cahaya,
maka Sabdo Palon dan Noyo Genggong adalah penjaga keseimbangan di antara
keduanya.
Pada akhirnya, semua ini bukan sekadar tentang masa
lalu. Ini adalah tentang kita hari ini. Borobudur tidak hanya berdiri sebagai
monumen sejarah, tetapi sebagai cermin kehidupan. Di dalamnya, kita bisa
melihat perjalanan manusia: jatuh dalam kelicikan, bangkit melalui kesadaran,
dan kembali menemukan arah. Sengkuni mengajarkan kita untuk mengenali sisi
gelap, Semar mengingatkan kita pada kebijaksanaan, dan Sabdo Palon serta Noyo
Genggong memanggil kita untuk tidak melupakan jati diri.
Maka pertanyaannya menjadi sederhana namun
mendalam: dalam perjalanan hidup ini, kita sedang mengikuti siapa? Sengkuni,
Semar, atau justru sedang menunggu panggilan untuk kembali? Tunggu pada Webinar
ke 11 mendatang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar