Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
Kampoeng Seni Borobudur | 25–31
Mei 2026
Memasuki
tahun ke-24, gerakan Ruwat Rawat Borobudur kembali hadir memperkuat kesadaran
bersama terhadap warisan luhur Nusantara. Mengusung tema “Borobudur dalam
Logika Angka”, rangkaian kegiatan budaya dan pendidikan ini digelar bertepatan
dengan momentum suci Hari Raya Waisak 2026 . Perayaan ini menjadi ruang
perjumpaan penting antara spiritualitas, ilmu pengetahuan, seni, lingkungan,
dan partisipasi masyarakat dalam menjaga Borobudur sebagai sumber inspirasi
kehidupan yang berkelanjutan.
Candi
Borobudur bukan sekadar monumen sejarah yang megah. Di balik susunan batu
andesit dan keindahan reliefnya, tersimpan cetak biru pengetahuan yang mendalam.
Setiap unsur fisik—mulai dari jumlah stupa, arca, panil relief, hingga
tingkatan bangunannya menunjukkan keteraturan angka yang mencerminkan nilai
matematis, filosofis, sekaligus spiritualitas tinggi para leluhur.
Namun,
pemahaman kita, khususnya generasi muda, sering kali masih terbatas pada aspek
visual dan sejarah normatif saja. Dimensi pengetahuan yang tersembunyi di balik
“logika angka” ini belum banyak diungkap sebagai bagian dari pendidikan
kebudayaan yang hidup. Di sisi lain, tantangan pelestarian kawasan, daya dukung
lingkungan, dan keberlanjutan cagar budaya di era modern kian kompleks dan
membutuhkan keterlibatan lintas sektor.
Berangkat
dari tantangan tersebut, pekan kebudayaan ini menghadirkan berbagai agenda
kolaboratif untuk menghidupkan kembali semangat literasi dan kepedulian
ekologis. Salah satu agenda utamanya adalah Peluncuran Buku “Borobudur dalam
Logika Angka” karya Warung Info Jagad Cleguk, yang membedah rumus keteraturan
dan makna filosofis tersembunyi dari arsitektur candi.
Mengambil
refleksi kedamaian dan nilai-nilai Tri Suci Waisak, masyarakat dan generasi
muda diajak bergerak bersama dalam Bincang Sekolah Kehidupan, Seminar, dan
Kompetisi Opini “Logika Angka”. Melalui ruang dialog ini, peserta ditantang
menuangkan gagasan kritis berbasis data untuk memperkuat perlindungan Borobudur
sebagai warisan dunia UNESCO sekaligus simbol harmoni dalam keberagaman.
Keindahan
logika ini juga diekspresikan secara visual melalui Pameran Seni Rupa “Logika
Angka” yang melibatkan kolaborasi seniman profesional dan perupa muda. Seluruh
rangkaian ini didukung oleh Pameran Buku Kebudayaan yang menyajikan beragam
koleksi jurnal dan publikasi ilmiah Borobudur dari berbagai sudut pandang
keilmuan.
Melalui
sinergi antara akademisi, seniman, komunitas, pemerintah, pelaku wisata, dan
masyarakat luas, kegiatan ini membawa misi besar: menumbuhkan kesadaran
ilmiah-spiritual Borobudur, menggali kreativitas generasi muda, dan menjaga
keselarasan lingkungan sekitar situs. Di bulan Waisak yang penuh berkah ini,
Borobudur kembali menegaskan fungsinya sebagai pusat pengetahuan dan harmoni.
Mari
bersama-sama melangkah ke Kampoeng Seni Borobudur. Mari bersama merawat
Borobudur, merawat pengetahuan, dan merawat kehidupan. ( Redaksi Sekolah Kehidupan )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar