BOROBUDUR DALAM LOGIKA ANGKA - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 17 Mei 2026

BOROBUDUR DALAM LOGIKA ANGKA

Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Kampoeng Seni Borobudur | 25–31 Mei 2026

Memasuki tahun ke-24, gerakan Ruwat Rawat Borobudur kembali hadir memperkuat kesadaran bersama terhadap warisan luhur Nusantara. Mengusung tema “Borobudur dalam Logika Angka”, rangkaian kegiatan budaya dan pendidikan ini digelar bertepatan dengan momentum suci Hari Raya Waisak 2026 . Perayaan ini menjadi ruang perjumpaan penting antara spiritualitas, ilmu pengetahuan, seni, lingkungan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga Borobudur sebagai sumber inspirasi kehidupan yang berkelanjutan.

Candi Borobudur bukan sekadar monumen sejarah yang megah. Di balik susunan batu andesit dan keindahan reliefnya, tersimpan cetak biru pengetahuan yang mendalam. Setiap unsur fisik—mulai dari jumlah stupa, arca, panil relief, hingga tingkatan bangunannya menunjukkan keteraturan angka yang mencerminkan nilai matematis, filosofis, sekaligus spiritualitas tinggi para leluhur.

Namun, pemahaman kita, khususnya generasi muda, sering kali masih terbatas pada aspek visual dan sejarah normatif saja. Dimensi pengetahuan yang tersembunyi di balik “logika angka” ini belum banyak diungkap sebagai bagian dari pendidikan kebudayaan yang hidup. Di sisi lain, tantangan pelestarian kawasan, daya dukung lingkungan, dan keberlanjutan cagar budaya di era modern kian kompleks dan membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

Berangkat dari tantangan tersebut, pekan kebudayaan ini menghadirkan berbagai agenda kolaboratif untuk menghidupkan kembali semangat literasi dan kepedulian ekologis. Salah satu agenda utamanya adalah Peluncuran Buku “Borobudur dalam Logika Angka” karya Warung Info Jagad Cleguk, yang membedah rumus keteraturan dan makna filosofis tersembunyi dari arsitektur candi.

Mengambil refleksi kedamaian dan nilai-nilai Tri Suci Waisak, masyarakat dan generasi muda diajak bergerak bersama dalam  Bincang Sekolah Kehidupan, Seminar, dan Kompetisi Opini “Logika Angka”. Melalui ruang dialog ini, peserta ditantang menuangkan gagasan kritis berbasis data untuk memperkuat perlindungan Borobudur sebagai warisan dunia UNESCO sekaligus simbol harmoni dalam keberagaman.

Keindahan logika ini juga diekspresikan secara visual melalui Pameran Seni Rupa “Logika Angka” yang melibatkan kolaborasi seniman profesional dan perupa muda. Seluruh rangkaian ini didukung oleh Pameran Buku Kebudayaan yang menyajikan beragam koleksi jurnal dan publikasi ilmiah Borobudur dari berbagai sudut pandang keilmuan.

Melalui sinergi antara akademisi, seniman, komunitas, pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat luas, kegiatan ini membawa misi besar: menumbuhkan kesadaran ilmiah-spiritual Borobudur, menggali kreativitas generasi muda, dan menjaga keselarasan lingkungan sekitar situs. Di bulan Waisak yang penuh berkah ini, Borobudur kembali menegaskan fungsinya sebagai pusat pengetahuan dan harmoni.

Mari bersama-sama melangkah ke Kampoeng Seni Borobudur. Mari bersama merawat Borobudur, merawat pengetahuan, dan merawat kehidupan. ( Redaksi Sekolah Kehidupan )

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar