“Hakikat
Gong dan Borobudur: Dentang Kesadaran di Tengah Pergantian Zaman”
Redaksi Sekolah Kehidupan
Di tengah perubahan zaman, ruang dialog yang
menghadirkan refleksi, pengetahuan, dan kebijaksanaan menjadi semakin penting.
Webinar sebagai forum pembelajaran daring hadir sebagai sarana yang relevan
karena memungkinkan pertemuan gagasan tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Dalam semangat tersebut, Webinar Sekolah Kehidupan
ke-12 Tahun 2026 diselenggarakan dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, sebuah
gerakan budaya berbasis hati nurani yang tumbuh dari rasa handarbeni
masyarakat untuk mendorong terwujudnya keseimbangan antara pelestarian,
perlindungan, dan pemanfaatan Borobudur, melalui tradisi, laku budaya,
pendidikan publik, serta penguatan kesadaran bersama.
Webinar
mengangkat tema:“Hakikat Gong dan Borobudur:
Dentang Kesadaran di Tengah Pergantian Zaman”
Tema ini menjadi semakin relevan ketika umat Buddha
tengah menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 B.E., 31 Mei 2026, dengan tema “Dharma
Menjaga Perdamaian Dunia.” Spirit Waisak mengingatkan bahwa Dharma bukan
sekadar ajaran yang diperingati secara seremonial, melainkan laku hidup yang
menghadirkan kedamaian, keseimbangan, kepedulian sosial, serta keharmonisan
hubungan manusia dengan sesama, alam, dan semesta kehidupan.
Di saat yang sama, selama lebih dari dua puluh
empat tahun, gerakan Ruwat Rawat Borobudur terus berjalan sebagai ikhtiar
menjaga hakikat Borobudur bukan sekadar benda cagar budaya atau destinasi
wisata, melainkan ruang spiritual dan peradaban yang menyimpan pesan
keseimbangan hidup, harmoni, dan kesadaran manusia. Meski tumbuh dari ruang
yang berbeda, Waisak dan Ruwat Rawat Borobudur sejatinya memiliki titik temu
mendasar: spiritualitas, kesadaran, dan upaya merawat harmoni kehidupan.
Borobudur tidak hanya dapat dipahami sebagai
warisan dunia, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran hidup. Struktur, relief,
serta perjalanan simbolik dari Kamadhatu, Rupadhatu, hingga Arupadhatu
menghadirkan pesan mengenai perjalanan manusia menuju keseimbangan batin dan kebijaksanaan.
Dalam tradisi Nusantara, gong bukan sekadar alat
bunyi, melainkan simbol harmoni dan panggilan kesadaran. Seorang empu menempa
gong bukan hanya melalui keterampilan, tetapi juga laku batin demi menghadirkan
keselarasan. Dalam pemaknaan ini, Borobudur dapat dipandang sebagai “gong
besar” peradaban Nusantara warisan yang tidak hanya dilihat, tetapi direnungkan
makna dan nilai kehidupannya.
Di tengah dinamika pengelolaan kawasan,
perkembangan pariwisata, perubahan lingkungan, hingga beragam pandangan
mengenai masa depan Borobudur, diperlukan ruang dialog yang arif, terbuka, dan
berkeadaban guna menjaga keseimbangan antara pelestarian, pemanfaatan,
spiritualitas, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Narasumber
dan Pembahas
Webinar ini menghadirkan Keynote Speaker Basuki
Teguh Yuwono, yang akan memberikan perspektif kebijakan kebudayaan dan posisi
Borobudur dalam pembangunan peradaban bangsa.
Sebagai narasumber hadir Dr. Budi Sarwono dari Universitas
Sanata Dharma, yang memperkaya perspektif kemanusiaan dan pendidikan nilai; Drs.
Hendrie Adji Kusworo (Ajie Kusworo) dari UGM, yang mengulas hubungan Borobudur
dengan lingkungan, kawasan, dan keberlanjutan; perwakilan dari Direktorat
Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha yang menghadirkan perspektif spiritualitas
Borobudur; Bejo Sendy yang membahas makna gong dan harmoni bunyi Nusantara;
serta Rochmad Hidayat yang mengulas tantangan keberlanjutan kawasan budaya dan
pariwisata.
Diskusi diperkaya oleh para pembahas, yaitu Prof.
M. Baiquni yang memiliki perhatian pada pembangunan berkelanjutan dan
lingkungan; Prof. Totok Roesmanto pada aspek arsitektur dan pelestarian budaya;
serta Hasbi Ansyah Zulfahri yang memberikan perspektif kebijakan kebudayaan.
Hadir pula Joe Marbun Madja, Dr. Budiana Setiawan, Eri Kusuma Wardhani, Novita
Siswayanti, Ragile Wiratno, Dr. Yoga Wantoro, Lasmito Ad, dan Prof. Suhadi.
Webinar dimoderatori oleh Sucoro Setro Diharjo dari Ruwat Rawat Borobudur.
Tujuan
dan Harapan
Webinar ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang
Borobudur sebagai ruang peradaban, menggali makna filosofis gong dan Borobudur
sebagai simbol harmoni, membangun dialog reflektif mengenai tantangan
pelestarian di tengah perubahan zaman, sekaligus memperkuat semangat handarbeni
masyarakat dalam menjaga Borobudur secara berkelanjutan.
Melalui forum ini diharapkan tumbuh kesadaran
bersama untuk menjaga Borobudur tidak hanya secara fisik, tetapi juga nilai
filosofis dan spiritualnya, sekaligus memperkuat kolaborasi masyarakat,
akademisi, budayawan, dan generasi muda dalam merawat warisan peradaban bagi
masa depan.
Borobudur tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga
untuk dipahami, dirawat, dan dihidupi nilai-nilai kebijaksanaannya di tengah
pergantian zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar