Borobudur — Dalam Webinar Bincang Kehidupan ke 12 Th 2026 yang
diselanggarakan dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Drs. Hendrie Adjie
Kusworo dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan sebuah perspektif
mendalam mengenai makna pariwisata yang melampaui pengertian konvensional
sebagai aktivitas perjalanan atau industri ekonomi semata. Menurutnya, pariwisata
sejatinya merupakan ruang perjumpaan dan relasi kehidupan, tempat manusia,
alam, warisan budaya, teknologi, bahkan ingatan kolektif saling membentuk satu
sama lain.Narasumber lain Dr Budi Sarwono Sanata Dharma, Rochmat Hidayat
Praktisi Pariwisata, Agus Bendrat tentang turunya pengunjung serta Pemusik
Rinding Bejo Sandy
Dalam paparannya, Henrie Adjie Kusworo mengangkat pertanyaan mendasar:
“Apa yang bisa diakomodasi oleh pariwisata?” Pertanyaan ini menjadi penting,
terutama dalam konteks kawasan warisan dunia seperti Borobudur yang selama ini
sering diposisikan hanya sebagai objek kunjungan wisata.
Menurut Hendrie, pendekatan seperti itu perlu diperluas. Pariwisata
tidak cukup dipahami hanya sebagai mobilitas manusia atau transaksi ekonomi,
tetapi harus dilihat sebagai medan relasional (relational field) antara
berbagai unsur kehidupan.
Pariwisata sebagai Medan
“Becoming-With”
Hendrie menjelaskan bahwa pariwisata adalah ruang becoming-with,
yaitu proses menjadi bersama. Dalam ruang ini, tidak hanya terjadi hubungan
antara wisatawan dan masyarakat lokal (tamu dan tuan rumah), tetapi juga
keterhubungan dengan unsur lebih-dari-manusia (more-than-human) seperti alam,
hewan, situs budaya, teknologi, leluhur, memori sejarah, dan nilai-nilai
spiritual.
“Pariwisata bukanlah perjalanan individu yang datang lalu menikmati
tempat secara pasif. Pariwisata adalah proses perjumpaan yang membentuk
pengalaman bersama, bahkan membentuk identitas baru,” demikian inti pemikiran
yang disampaikan dalam forum tersebut.
Dengan perspektif ini, Borobudur tidak lagi dipahami sekadar destinasi
wisata, melainkan ruang hidup kebudayaan, tempat terjadi dialog antara masa
lalu, masa kini, dan masa depan.
Tiga Gagasan Penting dalam
Pariwisata
Dalam pemaparannya, Hendrie Adjie Kusworo menegaskan tiga proposisi
penting mengenai pariwisata.
1. Pariwisata adalah medan
relasi, bukan kumpulan entitas terpisah
Pariwisata bukan sekadar kumpulan objek candi, hotel, wisatawan,
pedagang, atau pemerintah yang berdiri sendiri-sendiri. Semua unsur itu saling
terkait dan memengaruhi.
Dalam konteks Borobudur, misalnya, pengalaman wisata tidak hanya
ditentukan oleh kemegahan candi, tetapi juga oleh keberadaan masyarakat
sekitar, tradisi lokal, lingkungan alam, tata kelola kawasan, hingga narasi
yang dibangun tentang makna Borobudur itu sendiri.
Artinya, pengelolaan wisata harus berbasis ekosistem relasi, bukan hanya
orientasi jumlah kunjungan.
2. Pariwisata adalah proses
“becoming”, bukan kondisi tetap
Hendrie juga menekankan bahwa identitas dalam pariwisata bersifat
dinamis. Pariwisata adalah proses menjadi, bukan sesuatu yang selesai dan
tetap.
Wisatawan berubah karena pengalaman yang mereka alami. Masyarakat lokal
pun berubah melalui interaksi dengan pengunjung. Bahkan situs budaya ikut
memperoleh makna baru melalui interpretasi zaman.
Karena itu, pengelolaan Borobudur perlu diarahkan bukan hanya pada aspek
pelestarian fisik, tetapi juga pewarisan makna, nilai, dan pengalaman lintas
generasi.
3. Aktor pariwisata tidak hanya
manusia
Gagasan ketiga yang cukup menarik adalah pandangan bahwa pelaku dalam
pariwisata tidak hanya manusia.
Hendrie mengingatkan bahwa alam, lanskap, candi, teknologi digital,
sejarah, bahkan memori kolektif masyarakat merupakan bagian dari aktor yang
turut membentuk pengalaman wisata.
Dalam konteks Borobudur, relief, batu candi, lanskap Menoreh, tradisi
masyarakat, spiritualitas, hingga suasana keheningan pagi hari memiliki peran
yang sama pentingnya dalam membangun pengalaman pengunjung.
Pandangan ini membuka cara berpikir baru bahwa pengelolaan wisata tidak
bisa hanya berfokus pada manusia dan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan
relasi antara manusia, alam, dan warisan budaya.
Relevansi untuk Masa Depan
Borobudur
Paparan Drs. Hendrie Adjie Kusworo menjadi refleksi penting di tengah
berbagai perdebatan mengenai arah pengelolaan Borobudur. Selama ini, diskursus
sering terjebak pada tarik-menarik antara kepentingan konservasi dan pariwisata
ekonomi.
Padahal, seperti ditegaskan Hendrie, Borobudur membutuhkan pendekatan
yang lebih utuh: pariwisata yang mengakomodasi hubungan, nilai, pengalaman, dan
keberlanjutan kehidupan bersama.
Dengan pendekatan ini, Borobudur dapat diposisikan bukan sekadar sebagai
destinasi wisata dunia, tetapi sebagai ruang belajar kehidupan, peradaban, dan
harmoni antara manusia dengan semesta.
Paparan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan Borobudur bukan
hanya soal jumlah wisatawan, tetapi tentang bagaimana warisan agung ini tetap
hidup dalam kesadaran generasi penerus bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar