Pariwisata Bukan Sekadar Kunjungan: Drs. Henrie Adjie Kusworo UGM Soroti Pariwisata sebagai Ruang Relasi “Becoming-With” - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 20 Mei 2026

Pariwisata Bukan Sekadar Kunjungan: Drs. Henrie Adjie Kusworo UGM Soroti Pariwisata sebagai Ruang Relasi “Becoming-With”

Borobudur — Dalam Webinar Bincang Kehidupan ke 12 Th 2026 yang diselanggarakan dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Drs. Hendrie Adjie Kusworo dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan sebuah perspektif mendalam mengenai makna pariwisata yang melampaui pengertian konvensional sebagai aktivitas perjalanan atau industri ekonomi semata. Menurutnya, pariwisata sejatinya merupakan ruang perjumpaan dan relasi kehidupan, tempat manusia, alam, warisan budaya, teknologi, bahkan ingatan kolektif saling membentuk satu sama lain.Narasumber lain Dr Budi Sarwono Sanata Dharma, Rochmat Hidayat Praktisi Pariwisata, Agus Bendrat tentang turunya pengunjung serta Pemusik Rinding Bejo Sandy

Dalam paparannya, Henrie Adjie Kusworo mengangkat pertanyaan mendasar: “Apa yang bisa diakomodasi oleh pariwisata?” Pertanyaan ini menjadi penting, terutama dalam konteks kawasan warisan dunia seperti Borobudur yang selama ini sering diposisikan hanya sebagai objek kunjungan wisata.

Menurut Hendrie, pendekatan seperti itu perlu diperluas. Pariwisata tidak cukup dipahami hanya sebagai mobilitas manusia atau transaksi ekonomi, tetapi harus dilihat sebagai medan relasional (relational field) antara berbagai unsur kehidupan.

Pariwisata sebagai Medan “Becoming-With”

Hendrie menjelaskan bahwa pariwisata adalah ruang becoming-with, yaitu proses menjadi bersama. Dalam ruang ini, tidak hanya terjadi hubungan antara wisatawan dan masyarakat lokal (tamu dan tuan rumah), tetapi juga keterhubungan dengan unsur lebih-dari-manusia (more-than-human) seperti alam, hewan, situs budaya, teknologi, leluhur, memori sejarah, dan nilai-nilai spiritual.

“Pariwisata bukanlah perjalanan individu yang datang lalu menikmati tempat secara pasif. Pariwisata adalah proses perjumpaan yang membentuk pengalaman bersama, bahkan membentuk identitas baru,” demikian inti pemikiran yang disampaikan dalam forum tersebut.

Dengan perspektif ini, Borobudur tidak lagi dipahami sekadar destinasi wisata, melainkan ruang hidup kebudayaan, tempat terjadi dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Tiga Gagasan Penting dalam Pariwisata

Dalam pemaparannya, Hendrie Adjie Kusworo menegaskan tiga proposisi penting mengenai pariwisata.

1. Pariwisata adalah medan relasi, bukan kumpulan entitas terpisah

Pariwisata bukan sekadar kumpulan objek candi, hotel, wisatawan, pedagang, atau pemerintah yang berdiri sendiri-sendiri. Semua unsur itu saling terkait dan memengaruhi.

Dalam konteks Borobudur, misalnya, pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh kemegahan candi, tetapi juga oleh keberadaan masyarakat sekitar, tradisi lokal, lingkungan alam, tata kelola kawasan, hingga narasi yang dibangun tentang makna Borobudur itu sendiri.

Artinya, pengelolaan wisata harus berbasis ekosistem relasi, bukan hanya orientasi jumlah kunjungan.

2. Pariwisata adalah proses “becoming”, bukan kondisi tetap

Hendrie juga menekankan bahwa identitas dalam pariwisata bersifat dinamis. Pariwisata adalah proses menjadi, bukan sesuatu yang selesai dan tetap.

Wisatawan berubah karena pengalaman yang mereka alami. Masyarakat lokal pun berubah melalui interaksi dengan pengunjung. Bahkan situs budaya ikut memperoleh makna baru melalui interpretasi zaman.

Karena itu, pengelolaan Borobudur perlu diarahkan bukan hanya pada aspek pelestarian fisik, tetapi juga pewarisan makna, nilai, dan pengalaman lintas generasi.

3. Aktor pariwisata tidak hanya manusia

Gagasan ketiga yang cukup menarik adalah pandangan bahwa pelaku dalam pariwisata tidak hanya manusia.

Hendrie mengingatkan bahwa alam, lanskap, candi, teknologi digital, sejarah, bahkan memori kolektif masyarakat merupakan bagian dari aktor yang turut membentuk pengalaman wisata.

Dalam konteks Borobudur, relief, batu candi, lanskap Menoreh, tradisi masyarakat, spiritualitas, hingga suasana keheningan pagi hari memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun pengalaman pengunjung.

Pandangan ini membuka cara berpikir baru bahwa pengelolaan wisata tidak bisa hanya berfokus pada manusia dan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan relasi antara manusia, alam, dan warisan budaya.

Relevansi untuk Masa Depan Borobudur

Paparan Drs. Hendrie Adjie Kusworo menjadi refleksi penting di tengah berbagai perdebatan mengenai arah pengelolaan Borobudur. Selama ini, diskursus sering terjebak pada tarik-menarik antara kepentingan konservasi dan pariwisata ekonomi.

Padahal, seperti ditegaskan Hendrie, Borobudur membutuhkan pendekatan yang lebih utuh: pariwisata yang mengakomodasi hubungan, nilai, pengalaman, dan keberlanjutan kehidupan bersama.

Dengan pendekatan ini, Borobudur dapat diposisikan bukan sekadar sebagai destinasi wisata dunia, tetapi sebagai ruang belajar kehidupan, peradaban, dan harmoni antara manusia dengan semesta.

Paparan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan Borobudur bukan hanya soal jumlah wisatawan, tetapi tentang bagaimana warisan agung ini tetap hidup dalam kesadaran generasi penerus bangsa.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar