Tim Redaksi Sekolah Kehidupan
Umat Buddha tengah menyambut Hari Raya Tri Suci
Waisak 2570 B.E. pada 31 Mei 2026 dengan tema “Dharma Menjaga Perdamaian
Dunia.” Tema ini mengingatkan bahwa Dharma bukan sekadar ajaran yang
diperingati secara seremonial, melainkan laku hidup yang menghadirkan
kedamaian, keseimbangan, kepedulian sosial, serta keharmonisan hubungan manusia
dengan sesama, alam, dan semesta kehidupan.
Di saat yang sama, lebih dari dua puluh empat
tahun, gerakan Ruwat Rawat Borobudur terus berjalan sebagai ikhtiar menjaga
hakikat Borobudur, bukan sekadar benda cagar budaya atau destinasi wisata,
tetapi sebagai pusat nilai spiritual yang menyimpan pesan besar tentang
keseimbangan hidup dan peradaban. Namun, meskipun sama-sama berbicara tentang
spiritualitas dan kesadaran, Waisak dan gerakan Ruwat Rawat Borobudur selama
ini belum bertemu dalam satu narasi
bersama.
Padahal keduanya memiliki titik temu yang sangat
mendasar: spiritualitas sebagai fondasi kehidupan.
Bagi gerakan Ruwat Rawat Borobudur, persoalan
Borobudur tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan fisik, ekonomi,
atau pariwisata semata. Borobudur membutuhkan keseimbangan dalam tata kelolanya
melalui tiga pilar utama: pelestarian warisan budaya, kesejahteraan
masyarakat, dan kelestarian lingkungan, yang seluruhnya bertumpu pada spiritualitas
sebagai basis pengelolaan. Sebab ketika aspek spiritual tercerabut, maka
pembangunan mudah terjebak pada orientasi material semata, sementara ruh dan
makna Borobudur perlahan memudar.
Borobudur bukan hanya berdiri di tengah lanskap
Magelang. Secara simbolik dan geografis, ia berada di tengah Pulau Jawa,
seolah menjadi poros kesadaran yang sejak dahulu mengingatkan pentingnya
keseimbangan antara manusia, alam, dan Yang Maha Hidup. Dalam pembacaan gerakan
Ruwat Rawat Borobudur, posisi ini bukan kebetulan geografis, melainkan
mengandung pesan peradaban: bahwa pusat bukan tempat dominasi, tetapi titik
harmoni.
Kesadaran ini memiliki jejak panjang dalam
spiritualitas Nusantara, termasuk nilai Kapitayan, sebuah laku spiritual
kuno yang menempatkan kesadaran terhadap Yang Tunggal sebagai dasar kehidupan.
Dalam Kapitayan, manusia diajak menjaga keselarasan antara jagad kecil (diri
manusia) dan jagad besar (alam semesta), antara kebutuhan lahiriah dan
kebeningan batin. Nilai ini tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun,
justru menjadi ruang perjumpaan berbagai jalan spiritual yang tumbuh di
Nusantara.
Di sinilah semangat Waisak menemukan resonansinya.
Tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia” tidak hanya berbicara tentang
hubungan antarumat manusia, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup
secara menyeluruh. Rangkaian Vesākha Sānanda 2570 B.E. mulai dari
pendalaman Dhamma, gerakan ekoteologi, penguatan welas asih sosial, gerakan
hening, hingga perjalanan spiritual menuju Borobudur sesungguhnya sejalan
dengan semangat Ruwat Rawat Borobudur yang mengajak masyarakat kembali melihat
Borobudur sebagai ruang pembelajaran kesadaran.
Karena itu, Waisak 2570 B.E. dapat menjadi momentum
penting untuk menyambungkan dua arus spiritual yang selama ini berjalan
sendiri-sendiri: spiritualitas Dharma dan spiritualitas kebudayaan Borobudur.
Sebab merawat Borobudur sejatinya bukan hanya menjaga batu, tetapi merawat
keseimbangan kehidupan antara manusia dan alam, pembangunan dan kebudayaan,
materialitas dan spiritualitas.
Ketika dunia menghadapi krisis lingkungan, konflik
sosial, dan kegelisahan batin akibat perubahan zaman yang begitu cepat,
Borobudur dapat kembali dibaca sebagai penjaga kesadaran di tengah Pulau
Jawa, tempat manusia belajar tentang keseimbangan. Dan di tengah peringatan
Waisak, pesan itu terasa semakin relevan: bahwa perdamaian dunia tidak lahir
hanya dari kemajuan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi dari manusia yang
kembali menemukan keseimbangan dirinya.
Mungkin sudah saatnya Waisak dan gerakan Ruwat
Rawat Borobudur tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat
dipertemukan dalam satu kesadaran bersama: menjadikan spiritualitas sebagai
dasar merawat peradaban, menjaga keseimbangan tiga pilar kehidupan, dan
menghidupkan kembali Borobudur sebagai sumber nilai bagi masa depan dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar