Redaksi Sekolah Kehidupan
Finlandia dan Singapura sering dijadikan contoh
negara yang berhasil mencapai kemajuan meskipun tidak memiliki kekayaan sumber
daya alam yang luar biasa maupun warisan peradaban monumental yang menjadi
simbol dunia seperti Borobudur, Angkor Wat, atau Piramida Giza.
Finlandia berada di pinggir utara Eropa, sementara
Singapura hanyalah negara-kota kecil di Asia Tenggara. Keduanya tidak dikenal
karena monumen besar atau kekayaan alam yang melimpah. Namun hari ini keduanya
diakui dunia karena kualitas pendidikan, tata kelola pemerintahan, inovasi, dan
kualitas hidup masyarakatnya.
Keberhasilan mereka tidak dibangun di atas tambang,
monumen, atau sumber daya alam semata. Mereka memilih berinvestasi pada
manusia. Pendidikan, riset, penguatan institusi, dan pembangunan karakter
bangsa menjadi fondasi yang ditanam secara konsisten selama puluhan tahun.
Mereka memahami bahwa masa depan tidak ditentukan
oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan manusia mengelola apa yang
dimiliki.
Pelajaran inilah yang layak menjadi bahan refleksi
dalam melihat arah pengelolaan Warisan Dunia Borobudur hari ini.
Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam
yang melimpah, tetapi juga mewarisi Candi Borobudur, salah satu mahakarya
peradaban dunia yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Namun pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi
sekadar bagaimana menjaga batu-batu Borobudur tetap berdiri, melainkan
bagaimana menjadikan Borobudur sebagai sarana membangun manusia.
Selama ini keberhasilan pengelolaan Borobudur
banyak diukur melalui konservasi fisik, pembangunan kawasan, dan jumlah
kunjungan wisatawan. Semua itu penting. Namun ada aspek yang sering kurang
mendapat perhatian, yaitu pewarisan kesadaran.
Kita berhasil memugar candi,
tetapi belum tentu berhasil menyiapkan masyarakat pewarisnya.
Kita banyak berbicara tentang destinasi, tetapi
belum cukup berbicara tentang regenerasi nilai dan makna.
Padahal warisan dunia tidak akan bertahan hanya
karena batu-batunya terawat. Warisan dunia akan tetap hidup apabila ada
masyarakat yang memahami, merasa memiliki, dan secara sadar mewariskannya
kepada generasi berikutnya.
Finlandia dan Singapura membuktikan bahwa kemajuan
lahir dari investasi jangka panjang pada manusia. Borobudur seharusnya juga
menjadi pusat investasi kesadaran, pendidikan budaya, dan pembangunan
masyarakat.
Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar pengelolaan
Warisan Dunia Borobudur bukan lagi sekadar menjaga batu-batu peninggalan masa
lalu. Tantangan terbesarnya adalah membangun manusia yang mampu memahami,
merawat, dan mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Jika Finlandia dan Singapura mampu menjadi bangsa
maju tanpa memiliki Borobudur, maka pertanyaan yang patut kita renungkan
adalah: mengapa Indonesia yang memiliki Borobudur belum sepenuhnya
menjadikannya sebagai sarana membangun kualitas manusia dan kesadaran
peradaban?
Karena sesungguhnya masa depan Borobudur tidak
hanya ditentukan oleh kekuatan batu yang diwariskan leluhur.
Masa depan Borobudur akan
ditentukan oleh kualitas manusia yang mewarisinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar