Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, Magelang 19 Juni 2026 – Di
tengah perbincangan mengenai nasib Pohon Randu Alas yang menjadi ikon Desa
Tuksongo, Kecamatan Borobudur, tersimpan sebuah kenyataan penting yang sering
luput dari perhatian: pohon tua itu hidup di tengah masyarakat yang masih
menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun.
Gambaran mengenai tradisi tersebut disampaikan oleh
Ibu Muthmainnah, warga Desa Tuksongo, dalam wawancara Tim Sekolah
Kehidupan Dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur pada 19 Juni 2026.
Menurutnya, salah satu tradisi yang hingga kini masih lestari adalah Bubur
Suro, tradisi sedekah dan doa bersama yang dilaksanakan setiap bulan Suro,
terutama pada malam 10 Suro.
Tradisi ini bukan sekadar kegiatan kuliner atau
ritual tahunan, melainkan wujud kebersamaan sosial yang telah menjadi bagian
dari identitas masyarakat Tuksongo selama bergenerasi-generasi.
Bubur
Suro: Simbol Keselamatan dan Kebersamaan
Menurut penuturan Ibu Muthmainnah, Bubur Suro
dibuat secara gotong royong menggunakan berbagai bahan hasil bumi dan
rempah-rempah yang mudah dijumpai di sekitar desa. Di antaranya kedelai hitam,
kentang, tahu, tempe, kacang tanah, kacang benguk, kacang polong, serta
berbagai rempah seperti daun salam, laos, bawang merah, kemiri, kunyit, dan
kunci.
Pada malam 10 Suro, warga berkumpul untuk memasak
bubur bersama. Setelah doa keselamatan dipanjatkan, bubur kemudian dibagikan
kepada para tetangga sebagai simbol syukur dan harapan agar seluruh warga
memperoleh rezeki yang halal, kehidupan yang tenteram, serta keselamatan dalam
menjalani kehidupan.
Tradisi tersebut juga mencerminkan semangat berbagi
yang masih kuat di tengah masyarakat Tuksongo. Bubur yang dibuat tidak hanya
dinikmati oleh keluarga yang memasak, tetapi dibagikan kepada warga lain
sebagai bentuk sedekah dan pengikat hubungan sosial.
Bagi masyarakat desa, makanan bukan sekadar
kebutuhan jasmani, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat
rasa kebersamaan.
Tirakatan
dan Sedekah Bulan Suro
Ibu Muthmainnah menjelaskan bahwa bulan Suro di
Tuksongo tidak hanya diisi dengan tradisi Bubur Suro. Berbagai kegiatan sosial
dan spiritual juga dilaksanakan oleh masyarakat.
Pada malam-malam tertentu warga mengadakan
tirakatan bersama yang melibatkan para pemuda desa. Berbagai makanan seperti
ayam bakar, ayam goreng, ayam opor, buah-buahan, dan aneka jajanan pasar
dikumpulkan melalui iuran sukarela warga. Siapa saja yang hadir diperbolehkan
menikmati hidangan tersebut tanpa dipungut biaya.
Tradisi ini menunjukkan bahwa Suro bagi masyarakat
Tuksongo bukanlah perayaan yang bersifat individual, melainkan momentum
memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Selain itu terdapat tradisi bancakan, larakan,
penyediaan ingkung, serta kegiatan-kegiatan keagamaan yang melibatkan takmir
masjid dan warga desa secara luas.
Warga juga melaksanakan mujahadah bersama. Setiap
peserta membawa sumbangan seikhlasnya yang dimasukkan ke dalam kotak amal. Dana
yang terkumpul kemudian digunakan untuk kegiatan sosial, terutama santunan bagi
anak-anak yatim di Desa Tuksongo.
Menurut Ibu Muthmainnah, semangat berbagi kepada
sesama menjadi salah satu nilai utama yang diwariskan dalam tradisi bulan Suro.
Sedekah
untuk Peziarah dan Ahli Kubur
Tradisi sedekah juga terlihat pada peringatan 1
Suro. Pada hari tersebut banyak warga menyiapkan nasi bungkus yang dikenal
dengan istilah "tempelan". Nasi bungkus berisi telur dan mi tersebut
dibagikan kepada para peziarah yang datang ke makam-makam leluhur di sekitar
desa.
Setiap keluarga biasanya menyiapkan beberapa
bungkus sesuai kemampuan masing-masing. Tradisi ini telah berlangsung lama
sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sedekah kepada sesama.
Di beberapa dusun juga terdapat tradisi yang
dikenal sebagai "jatahan". Warga secara bergiliran menyediakan
makanan untuk kegiatan perawatan makam dan kebutuhan para ahli kubur. Praktik
ini menjadi bagian dari budaya gotong royong yang masih hidup di tengah
masyarakat.
Menjelang 10 Suro, suasana desa semakin ramai.
Pasar-pasar pagi dipenuhi pedagang bunga, bahan makanan, dan berbagai kebutuhan
tradisi Suro yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Randu
Alas dalam Ruang Budaya Tuksongo
Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dan berkembang
dalam ruang budaya yang sama dengan keberadaan Pohon Randu Alas Tuksongo.
Selama puluhan bahkan ratusan tahun, Randu Alas
tidak hanya menjadi penanda fisik desa, tetapi juga saksi hidup berbagai
aktivitas sosial masyarakat. Pohon itu berdiri di tengah perjalanan sejarah
desa, menyaksikan pergantian generasi, perubahan zaman, serta berbagai tradisi
yang terus dijaga hingga sekarang.
Karena itulah, ketika muncul rencana penebangan
akibat kondisi pohon yang dinilai kritis dan membahayakan keselamatan warga,
muncul beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian melihatnya dari sisi
keamanan, sementara yang lain memandang Randu Alas sebagai bagian dari
identitas dan memori kolektif desa yang tidak mudah digantikan.
Di kawasan Borobudur, pohon-pohon tua seperti randu
alas, beringin, preh, dan jati sering kali dipandang lebih dari sekadar
vegetasi. Pohon-pohon tersebut menjadi penanda ruang, penjaga cerita, sekaligus
pengikat hubungan masyarakat dengan alam sekitarnya.
Kehadiran Randu Alas selama ini telah menjadi
bagian dari lanskap budaya Tuksongo. Banyak warga menjadikannya titik penanda
desa, tempat berkumpul, sekaligus simbol yang menyimpan berbagai cerita dari
masa ke masa.
Mitos
Randu Alas dan Makna Bulan Suro
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sering dipahami
sebagai waktu untuk melakukan introspeksi, tirakat, dan mendekatkan diri kepada
Tuhan. Di Tuksongo, nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui doa bersama,
sedekah, santunan anak yatim, dan penguatan hubungan sosial antarwarga.
Dalam konteks itulah keberadaan Randu Alas
memperoleh makna yang lebih luas. Pohon tua tersebut tidak hanya hadir sebagai
objek fisik, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang
tumbuh bersama berbagai tradisi Suro yang masih dijalankan hingga kini.
Sebagaimana berbagai mitos yang hidup di sekitar
pohon-pohon tua di kawasan Borobudur, Randu Alas menjadi simbol hubungan antara
manusia, alam, dan sejarah desa. Terlepas dari benar atau tidaknya berbagai
cerita yang berkembang, mitos-mitos tersebut sesungguhnya berfungsi menjaga
penghormatan masyarakat terhadap alam dan lingkungan sekitarnya.
Karena itu, ketika masyarakat berbicara tentang
Randu Alas, yang dibicarakan bukan semata-mata sebuah pohon, melainkan juga
warisan nilai yang menyertainya.
Dari
Bubur Suro Menuju Pewarisan Kesadaran
Tradisi Bubur Suro sesungguhnya mengajarkan
filosofi yang sangat sederhana namun mendalam. Pada masa lalu ketika bahan
makanan terbatas, bubur menjadi makanan yang dapat dinikmati bersama tanpa
membedakan status sosial. Semua warga dapat berkumpul dalam satu ruang
kebersamaan.
Nilai itulah yang hingga kini masih dipertahankan
masyarakat Tuksongo. Melalui sedekah makanan, doa bersama, santunan anak yatim,
dan gotong royong warga, masyarakat terus merawat semangat berbagi dan
kepedulian sosial.
Dalam konteks yang lebih luas, kisah Bubur Suro dan
Randu Alas menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa bangunan,
prasasti, atau benda-benda bersejarah. Warisan budaya juga hidup dalam tradisi,
pengetahuan lokal, ingatan kolektif, serta nilai-nilai yang diwariskan dari
generasi ke generasi.
Sebagaimana Bubur Suro yang terus dimasak setiap
tahun dan Randu Alas yang selama ini menjadi penanda desa, masyarakat Tuksongo
sesungguhnya sedang merawat sesuatu yang lebih penting: kesadaran tentang
kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, kepedulian terhadap sesama, dan
hubungan harmonis dengan alam.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan kawasan
Borobudur, tradisi-tradisi semacam inilah yang menjadi pengingat bahwa kemajuan
tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Justru dari akar itulah tumbuh
identitas, karakter, dan kekuatan masyarakat untuk menghadapi masa depan.
Karena pada akhirnya, yang diwariskan bukan sekadar
pohon, makanan, atau ritual tahunan, melainkan nilai-nilai kehidupan yang
membuat sebuah masyarakat tetap memiliki arah, makna, dan jati dirinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar