Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur -Magelang 30 Juni
2026 :Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Borobudur menjadi ruang tumbuh
berbagai komunitas, kelompok masyarakat, serta beragam program yang digagas
oleh pemerintah maupun lembaga lainnya. Hampir setiap tahun berlangsung
berbagai kegiatan budaya, festival, diskusi, pertunjukan seni, hingga program
pemberdayaan masyarakat. Pemerintah, terutama Pemerintah Pusat, juga
menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk mendukung berbagai event dan
program di kawasan Borobudur.
Fenomena ini menunjukkan bahwa
Borobudur masih memiliki daya tarik yang kuat sebagai pusat aktivitas budaya
dan sosial. Namun di tengah banyaknya kegiatan yang berlangsung, muncul
pertanyaan mendasar: bagaimana sebenarnya mengukur keberhasilan sebuah event
budaya?
Selama ini ukuran keberhasilan
sering kali berhenti pada aspek-aspek yang mudah dihitung. Misalnya jumlah
peserta, besarnya anggaran yang terserap, banyaknya pemberitaan media,
tingginya jumlah kunjungan wisatawan, atau meriahnya pelaksanaan kegiatan.
Ukuran-ukuran tersebut memang penting, tetapi belum tentu menunjukkan dampak
yang sesungguhnya bagi masyarakat dan masa depan Borobudur.
Pertanyaan yang lebih penting
adalah: apakah kegiatan tersebut berhasil membangun kesadaran kolektif?
Kesadaran kolektif merupakan
fondasi utama bagi keberlanjutan sebuah warisan budaya. Tanpa kesadaran
kolektif, kegiatan budaya hanya menjadi peristiwa yang datang dan pergi.
Setelah acara selesai, masyarakat kembali pada kehidupan sehari-hari tanpa
perubahan cara pandang, tanpa rasa memiliki yang lebih kuat, dan tanpa
tumbuhnya tanggung jawab bersama terhadap masa depan kawasan.
Sebaliknya, ketika sebuah
kegiatan mampu membangun kesadaran kolektif, dampaknya akan terus hidup
meskipun panggung telah dibongkar dan acara telah berakhir. Kesadaran itu akan
tumbuh menjadi rasa memiliki, kepedulian, serta komitmen untuk menjaga dan
mewariskan nilai-nilai yang terkandung di dalam Borobudur.
Dalam perspektif Gerakan Ruwat
Rawat Borobudur, ukuran keberhasilan sebuah kegiatan budaya tidak hanya
terletak pada keberhasilan menyelenggarakan acara, tetapi pada kemampuannya
membangun keselarasan tiga pilar utama kehidupan, yaitu manusia, alam, dan Yang
Maha Kuasa. Dalam konteks pengelolaan warisan budaya Borobudur, ketiga pilar
tersebut juga dapat dimaknai sebagai pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan
yang berjalan secara seimbang.
Ketiga pilar tersebut
sesungguhnya merupakan inti dari berbagai nilai yang hidup dalam tradisi
masyarakat Nusantara dan tercermin dalam warisan Borobudur.
Pilar pertama adalah hubungan
manusia dengan sesama manusia. Sebuah kegiatan budaya seharusnya mampu
memperkuat gotong royong, membangun dialog, mempererat hubungan sosial, serta
mengurangi sekat-sekat yang memecah masyarakat. Jika sebuah kegiatan justru
melahirkan persaingan tidak sehat, konflik kepentingan, atau fragmentasi
sosial, maka perlu dilakukan refleksi terhadap dampak jangka panjang yang
ditimbulkannya.
Pilar kedua adalah hubungan
manusia dengan alam. Borobudur tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh di tengah
bentang alam yang membentuk identitas kawasan selama berabad-abad. Karena itu,
setiap kegiatan budaya perlu mendorong tumbuhnya kesadaran untuk menjaga
lingkungan, menghormati ruang hidup, serta memastikan bahwa pembangunan dan
aktivitas ekonomi tidak merusak keseimbangan alam yang menjadi penyangga
kehidupan masyarakat.
Pilar ketiga adalah hubungan
manusia dengan Yang Maha Kuasa. Pilar ini bukan semata-mata persoalan agama
atau ritual, melainkan menyangkut kesadaran spiritual bahwa kehidupan memiliki
nilai yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan ekonomi dan keuntungan
sesaat. Kesadaran ini melahirkan sikap hormat, kerendahan hati, serta tanggung
jawab moral dalam mengelola warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke
generasi.
Ketika ketiga pilar tersebut
mampu dihadirkan dalam sebuah kegiatan, maka event budaya tidak lagi hanya
menjadi tontonan atau agenda tahunan. Ia berubah menjadi ruang pembelajaran
sosial yang memperkuat karakter masyarakat dan memperdalam pemahaman terhadap
makna Borobudur.
Sayangnya, banyak kegiatan saat
ini masih terjebak pada orientasi jangka pendek. Fokus lebih banyak diberikan
pada pelaksanaan acara daripada proses pembelajaran yang ditinggalkan.
Akibatnya, kegiatan terus bertambah, anggaran terus digelontorkan, tetapi
kesadaran kolektif tidak selalu tumbuh seiring bertambahnya jumlah program.
Inilah tantangan yang perlu
dijawab bersama oleh komunitas, pemerintah, pelaku pariwisata, lembaga
pendidikan, maupun masyarakat kawasan Borobudur. Pertanyaan yang perlu terus
diajukan bukan hanya berapa banyak acara yang telah dilaksanakan, tetapi sejauh
mana acara tersebut berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif dan memperkuat
keselarasan hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia
dengan Yang Maha Kuasa.
Selama lebih dari dua dekade
perjalanan Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, berbagai pengalaman telah menunjukkan
bahwa menjaga keberlanjutan sebuah gerakan tidaklah mudah. Dua puluh empat
tahun bukanlah waktu yang pendek. Berbagai tantangan, perubahan kebijakan,
dinamika sosial, hingga perubahan orientasi pembangunan kawasan telah silih
berganti. Namun dari perjalanan panjang tersebut muncul satu pelajaran penting:
masa depan Borobudur tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan budaya yang
diselenggarakan, melainkan oleh kemampuan seluruh pihak menjadikan setiap
kegiatan sebagai sarana pendidikan pengetahuan dan pendidikan kesadaran.
Sebab pada akhirnya,
keberhasilan sebuah event budaya bukan diukur dari keramaiannya, melainkan dari
jejak kesadaran yang ditinggalkannya. Ketika kesadaran kolektif tumbuh,
masyarakat akan mampu menjaga warisan budaya tanpa harus selalu menunggu
program, proyek, atau instruksi dari pihak lain.
Di situlah sesungguhnya makna
pewarisan berada. Bukan sekadar mewariskan kegiatan, tetapi mewariskan
kesadaran. Bukan sekadar menjaga batu-batu Borobudur, tetapi menjaga
nilai-nilai yang membuat Borobudur tetap hidup dalam perjalanan zaman.
Karena Borobudur berhasil dipugar, tetapi
pewarisannya belum tentu berhasil. Dan keberhasilan pewarisan itulah yang
seharusnya menjadi ukuran tertinggi dari setiap kegiatan budaya yang
diselenggarakan di kawasan Borobudur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar