Redaksi Sekolah
Kehidupan
Tuksongo, Borobudur — Malam 10 Suro atau 10
Muharram dalam tradisi Islam dikenal sebagai Hari Asyura. Bagi masyarakat Jawa,
malam ini memiliki makna istimewa karena menjadi momentum untuk memperbanyak
doa, mujahadah, sedekah, serta berbagai amalan yang bertujuan memohon keselamatan
dan keberkahan hidup. Tradisi tersebut hingga kini masih dijaga oleh masyarakat
Tuksongo, Borobudur, sebagai bagian dari warisan budaya dan keagamaan yang
hidup di tengah masyarakat.
Pelaksanaan tirakatan
malam 10 Suro di Tuksongo berlangsung pada Kamis malam (25/6/2026) di Masjid
Darus Salam, Dusun Tuksongo, Borobudur. Acara yang dimulai setelah salat Isya
hingga sekitar pukul 23.30 WIB tersebut dihadiri Kepala Desa Tuksongo, Karin,
beserta perangkat desa, jamaah Masjid Darus Salam, tokoh agama, dan masyarakat
setempat. Suasana khidmat terasa sepanjang acara yang diisi dengan mujahadah,
pembacaan doa Asyura, santunan anak yatim, serta kenduri Bubur Suro sebagai
ungkapan syukur dan permohonan keselamatan bagi masyarakat dan desa.
Menurut Pak Kaum sekaligus
tokoh agama Tuksongo, Kiai Asngari, kegiatan utama malam Suro diawali dengan
mujahadah dan doa bersama sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Allah
SWT, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Dalam doa-doa tersebut
masyarakat memohon dijauhkan dari berbagai marabahaya dan bala bencana, serta
diberikan keberkahan bagi keluarga dan keturunan agar menjadi anak-anak yang
saleh dan salehah.
“Intinya meminta
keselamatan dunia dan akhirat, dijauhkan dari bala, serta diberikan keberkahan
bagi seluruh warga,”
jelasnya.
Salah satu bagian
penting dalam tradisi ini adalah penyajian ambeng, yaitu hidangan yang
disusun di atas alas daun pisang. Ambeng diletakkan dalam wadah berbentuk segi
empat yang terbuat dari anyaman bambu. Di atas daun pisang tersebut tersaji
nasi beserta berbagai lauk seperti mi, tempe, tahu, ingkung ayam, kerupuk,
pete, dan lentho. Setelah doa bersama selesai, ambeng dinikmati secara
bersama-sama oleh warga dengan cara makan menggunakan tangan sebagai simbol
kebersamaan dan persaudaraan.
Mujahadah biasanya
dipimpin oleh beberapa tokoh agama, sekitar tiga hingga tujuh orang yang secara
bergantian memimpin pembacaan doa dan wirid. Salah satu doa yang dibaca adalah
doa Asyura yang oleh masyarakat dikaitkan dengan berbagai peristiwa penting
dalam sejarah para nabi, termasuk kisah Nabi Nuh AS yang diselamatkan dari
banjir besar.
Selain aspek spiritual,
tradisi malam Suro di Tuksongo juga mengandung nilai kemanusiaan yang kuat.
Masyarakat secara rutin melaksanakan sedekah dan santunan kepada anak-anak
yatim. Bantuan tersebut telah dijadwalkan secara bergilir sehingga dapat
menjangkau seluruh penerima yang telah didata oleh masyarakat. Santunan
diberikan sebagai bentuk kepedulian sosial dan tanggung jawab bersama terhadap
sesama warga.
Tradisi ini juga
melibatkan partisipasi seluruh masyarakat. Setiap RT biasanya menyiapkan tiga
ambeng sehingga dalam satu pelaksanaan dapat terkumpul sekitar dua puluh empat
ambeng. Hal tersebut menunjukkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang
masih terpelihara di tengah masyarakat.
Dalam sajian Bubur Suro
juga terdapat berbagai makanan pelengkap seperti serundeng, telur iris, jenang
sumsum, dan bubur berwarna kuning. Berbagai sajian tersebut menjadi bagian dari
tradisi yang diwariskan turun-temurun serta mengandung harapan akan
keselamatan, keberkahan, dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Kiai Asngari menambahkan
bahwa tradisi ini memiliki keterkaitan dengan semangat merti desa, yaitu
ikhtiar bersama untuk menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan desa.
Karena itu, Bubur Suro tidak hanya dipahami sebagai tradisi makan bersama,
tetapi juga sebagai sarana memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama
manusia, serta lingkungan tempat mereka hidup.
Bagi masyarakat Tuksongo
dan kawasan Borobudur pada umumnya, tradisi Bubur Suro tidak berdiri sendiri
sebagai ritual keagamaan tahunan. Tradisi ini tumbuh di tengah lanskap budaya
yang sejak lama dihuni berbagai lapisan kepercayaan, pengetahuan lokal, dan
tradisi spiritual masyarakat. Dalam ingatan kolektif warga, dikenal pula
tokoh-tokoh leluhur seperti Mbah Sujak dan Mbah Kerto Sengojo yang sering
dikaitkan dengan ajaran Kapitayan, sebuah tradisi spiritual Nusantara yang
menekankan penghormatan kepada Sang Pencipta, keselarasan hidup, dan laku kebajikan.
Meski berkembang dalam
konteks keyakinan yang berbeda, nilai-nilai yang hidup dalam tradisi Kapitayan
maupun tradisi Islam masyarakat Borobudur memiliki sejumlah titik temu,
terutama dalam semangat menjaga harmoni kehidupan, menghormati leluhur, memperkuat
persaudaraan, dan memohon keselamatan bagi masyarakat. Nilai-nilai tersebut
hingga kini masih dapat ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakat, termasuk
dalam pelaksanaan Bubur Suro di Tuksongo.
Dalam perspektif yang
lebih luas, tradisi semacam ini menunjukkan bahwa Borobudur bukan hanya sebuah
candi, melainkan sebuah kawasan budaya yang terus hidup melalui praktik-praktik
sosial, spiritual, dan kemanusiaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah berbagai perubahan zaman, tradisi Bubur Suro menjadi salah satu ruang
tempat masyarakat merawat ingatan, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan
hubungan antara manusia, alam, leluhur, serta Sang Pencipta.
Melalui tradisi yang
diwariskan dari generasi ke generasi ini, masyarakat Tuksongo terus merawat
nilai-nilai spiritual, gotong royong, dan kepedulian sosial. Tradisi Bubur Suro
menjadi pengingat bahwa pewarisan budaya tidak hanya menyangkut benda dan situs
bersejarah, tetapi juga pewarisan nilai, kesadaran, dan cara hidup yang menjaga
keberlangsungan masyarakat. Dalam konteks Borobudur, tradisi seperti inilah
yang menunjukkan bahwa pewarisan sesungguhnya bukan hanya pewarisan batu,
melainkan pewarisan kesadaran yang terus hidup di tengah masyarakat.
Novita Siswayanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar