SILATURAHMI BERSAMA DPRD KABUPATEN MAGELANG: RUWAT RAWAT BOROBUDUR DORONG PEWARISAN NILAI DAN KETERLIBATAN MASYARAKAT - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 17 Juni 2026

SILATURAHMI BERSAMA DPRD KABUPATEN MAGELANG: RUWAT RAWAT BOROBUDUR DORONG PEWARISAN NILAI DAN KETERLIBATAN MASYARAKAT


 Borobudur - Magelang, 17 Juni 2026 — Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur (RRB) kembali melanjutkan ikhtiarnya dalam memperkuat kesadaran pewarisan Borobudur melalui kegiatan Silaturahmi dan Berbagi Pengalaman bersama Komisi II DPRD Kabupaten Magelang yang berlangsung di Ruang Rapat DPRD Kabupaten Magelang, Rabu (17/6).

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Magelang Harno, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang Fahrudin, anggota DPRD Kabupaten Magelang Cipto dan Budiyono, serta Joko dari Fraksi Golkar. Hadir pula perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika, Bappeda, Bidang Kebudayaan, Dinas Pariwisata, pegiat budaya, akademisi, komunitas masyarakat, dan sejumlah pemerhati Borobudur.Malalui jaringan zoom hadir Direktur KMA Kementerian Kebudayaan, Prof Andrye Notowijoyo Kemenko PMK,Tim Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Dr Dundien Zainudien, Prof Dwipurwoko, Dr Budiana Setiawan, dan Novita Siswayanti , Pelestari Museum RM Donny Megananda Daniel Hakiki Lenstra Gp , Tuti Lorenz Pelestarai Budaya tinggal di Eropa , Mr Gata ICOMOS  

Kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring itu berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh keterbukaan. Berbagai pihak menyampaikan pandangan, pengalaman, sekaligus harapan mengenai masa depan Borobudur dan masyarakat di sekitarnya.

Borobudur Tidak Hanya Soal Batu dan Pariwisata

Dalam kesempatan tersebut, Pendiri Yayasan Brayat Panangkaran dan Sekolah Kehidupan, Sucoro Setrodiharjo, menyampaikan bahwa selama puluhan tahun mengikuti dinamika Borobudur, ia melihat adanya pergeseran cara pandang terhadap candi warisan dunia tersebut.

Menurutnya, pada masa lalu Borobudur lebih banyak dipahami sebagai ruang kontemplasi, perenungan, dan pendewasaan diri. Namun seiring berkembangnya industri pariwisata, perhatian publik semakin terpusat pada aspek ekonomi dan kunjungan wisata.

“Borobudur memang membutuhkan perawatan dan pelestarian fisik. Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu pewarisan nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Jika hanya bangunannya yang dijaga, sementara kesadarannya hilang, maka pewarisan Borobudur belum tentu berhasil,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Gerakan Ruwat Rawat Borobudur selama 24 tahun terakhir meyakini bahwa kekuatan Borobudur tidak hanya terletak pada kemegahan bangunannya, tetapi juga pada nilai-nilai budaya, spiritualitas, kebijaksanaan hidup, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam yang tumbuh di sekitarnya.

Masyarakat Perlu Menjadi Subjek, Bukan Sekadar Penonton

Pandangan serupa disampaikan oleh Pandu Setiaji dari Komunitas Menoreh. Ia menyoroti pentingnya menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengelolaan dan pewarisan Borobudur.

Menurutnya, hingga saat ini masih banyak desa dan komunitas budaya di sekitar Borobudur yang belum memperoleh ruang yang memadai untuk terlibat sebagai kreator budaya maupun pelestari warisan.

“Masyarakat jangan hanya menjadi pelengkap kegiatan wisata. Mereka harus diberi ruang sebagai pelaku utama yang ikut merawat dan menghidupkan nilai-nilai Borobudur,” ujarnya.

Pandu juga membagikan pengalaman berbagai kegiatan berbasis riset dan partisipasi masyarakat, termasuk Festival Jogo Kali yang berupaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan dan budaya secara bersama-sama.

Borobudur sebagai Ruang Spiritual dan Pengetahuan

Diskusi juga mengangkat pentingnya mengembalikan keseimbangan fungsi Borobudur sebagai ruang spiritual, ruang kebudayaan, sekaligus ruang pengetahuan.

Sejumlah peserta menilai bahwa Borobudur memiliki nilai-nilai universal yang dapat dipelajari oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun kelompok tertentu. Nilai-nilai tersebut mencakup hubungan manusia dengan alam, tata kehidupan masyarakat, pertanian, gotong royong, hingga filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi.

Borobudur dipandang bukan hanya milik Kabupaten Magelang atau Indonesia, melainkan bagian dari warisan peradaban dunia yang menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diwariskan.

Dukungan DPRD terhadap Keterlibatan Masyarakat

Perwakilan DPRD Kabupaten Magelang menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan dalam forum tersebut.

Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain pentingnya revitalisasi nilai spiritual Borobudur, penguatan komunikasi antar-pemangku kepentingan, peningkatan keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan kawasan, serta perlunya ruang yang lebih besar bagi Pemerintah Kabupaten Magelang dalam tata kelola kawasan Borobudur.

DPRD juga menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dan menjembatani berbagai aspirasi masyarakat terkait masa depan Borobudur.

Membangun Kolaborasi untuk Masa Depan Borobudur

Perwakilan pemerintah daerah yang hadir menjelaskan bahwa saat ini tengah dikembangkan berbagai upaya untuk memperkuat pembangunan berbasis budaya, masyarakat, dan lingkungan. Salah satunya melalui forum kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku wisata, komunitas budaya, serta masyarakat.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk menyusun arah pengembangan Borobudur yang lebih berkelanjutan, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Pewarisan Adalah Tugas Bersama

Silaturahmi ini menegaskan kembali bahwa pelestarian Borobudur tidak cukup dilakukan melalui perawatan fisik semata. Yang tidak kalah penting adalah menjaga dan mewariskan nilai-nilai yang membuat Borobudur tetap hidup dalam kesadaran masyarakat.

Borobudur tidak berdiri sendiri. Kemegahannya lahir dari hubungan yang harmonis antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas yang berkembang selama berabad-abad. Karena itu, keberhasilan pewarisan Borobudur akan sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat diberi ruang untuk terlibat sebagai pewaris sekaligus penjaganya.

Sebagaimana mengemuka dalam forum tersebut, “Borobudur berhasil dipugar, tetapi pewarisannya belum tentu berhasil.” Oleh sebab itu, yang harus diwariskan bukan hanya batu-batu candi, melainkan kesadaran, nilai, dan kebudayaan yang membuat Borobudur tetap hidup dari generasi ke generasi.

Pelestarian bukanlah pekerjaan sesaat yang diukur melalui hitungan untung dan rugi jangka pendek. Pewarisan membutuhkan visi, pemahaman, kesabaran, dan komitmen lintas generasi. Apa yang diwariskan hari ini mungkin baru akan memperlihatkan hasilnya puluhan tahun kemudian. Karena itu, pewarisan Borobudur bukanlah pewarisan batu, melainkan pewarisan kesadaran.

Redaksi Sekolah Kehidupan
24 Tahun Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur


Tidak ada komentar:

Posting Komentar