Tim Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur
Borobudur tidak berdiri sendiri
di atas bukit. Ia bukan sekadar susunan batu yang menjelma menjadi bangunan
megah. Di sekelilingnya tersimpan jejak sejarah yang seakan tersembunyi dalam
nama-nama dusun tua yang masih hidup hingga hari ini ibarat lembaran kitab yang
menceritakan bagaimana leluhur memahami kehidupan, bunyi, serta hubungan
manusia dengan Sang Pencipta.
Di
sekitar kawasan candi terdapat Dusun Gendingan. Sesuai namanya, tempat ini
ditengarai sebagai pusat berolah rasa,
ruang di mana alunan gamelan dimainkan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana
merasakan getaran alam dan pesan-pesan spiritual. Tak jauh dari sana terdapat
Dusun Bogowanti, yang dipercaya sebagai panti
boga, tempat penyedia kebutuhan bagi mereka yang berkegiatan di kawasan
suci ini.
Ada
pula Dusun Janan, yang diduga menjadi tempat tinggal para empu dan perancang
yang membangun kemegahan Borobudur. Sementara yang paling dekat dengan kawasan
candi adalah Dusun Kenayan, tempat para wiku dan pemikir bermukim merenung,
mendalami kehidupan, serta meramu pemahaman tentang manusia, alam, dan Tuhan,
yang pada masa itu dipahami dalam bingkai kapitayan.
Keterhubungan
kawasan ini dengan bunyi dan musik tradisional semakin terasa ketika menelusuri
hakikat gamelan itu sendiri. Dalam tradisi gamelan dikenal dua larasan (nada)
utama, yakni laras slendro dan laras pelog. Keduanya bukan sekadar sistem
musikal, melainkan cerminan cara pandang manusia terhadap keseimbangan hidup.
Dari kedua larasan itu lahir beragam irama: ada yang cepat, tenang, maupun
lambat sebagaimana manusia menjalani kehidupan dengan cara dan kedalaman yang
berbeda-beda.
Keselarasan
itu tampak pula dalam struktur Borobudur yang mengenal tingkatan kesadaran: Kamadhatu (alam keinginan), Rupadhatu (alam wujud), hingga Arupadhatu (alam tanpa wujud). Sebagaimana
gending mengalir dari satu irama menuju irama berikutnya, Borobudur pun membuka
ruang tafsir yang terus hidup, selaras dengan kedalaman batin orang yang
memahaminya. Ajaran kehidupan yang diwariskan Siddharta dituangkan tidak hanya
melalui relief batu, tetapi juga melalui bunyi termasuk dentang gong sebagai
media yang menuntun manusia menuju kebijaksanaan.
Namun,
kenyataan mengalami perubahan besar sejak pemugaran Borobudur pada era 1980-an.
Perlahan, makna Borobudur mengalami pergeseran. Kawasan yang dahulu lekat
dengan suasana hening, ruang pencarian damai, dan perenungan hakikat hidup, berubah
menjadi pusat pariwisata berskala besar. Orientasi ekonomi menjadi semakin
dominan. Nuansa sakral, teduh, dan spiritual perlahan tertutup oleh hiruk-pikuk
keramaian, aktivitas wisata, serta dinamika pasar yang mengitarinya.
Karena
itu, melalui ruang dialog yang sehat, terbuka, dan berkeadaban, Borobudur
penting dipahami bukan hanya sebagai destinasi wisata atau bangunan warisan
sejarah, melainkan sebagai ruang peradaban yang mengajarkan harmoni,
keseimbangan, serta perjalanan kesadaran manusia.
Berangkat
dari semangat 24 Tahun Ruwat Rawat
Borobudur, akan diselenggarakan Webinar
Sekolah Kehidupan ke-12 Tahun 2026 dengan tema:
“Hakikat Gong dan Borobudur: Dentang Kesadaran di Tengah
Pergantian Zaman”
Webinar
ini menghadirkan beragam perspektif lintas disiplin. Dua perwakilan dari Dirjen Bimas Buddha diharapkan
memberikan pandangan mengenai Borobudur sebagai ruang spiritual dan warisan
nilai Buddhadharma dalam konteks kekinian.
Dr. Budi Sarwono dari Universitas Sanata
Dharma akan mengulas dimensi kesadaran, kebudayaan, dan pembentukan nilai dalam
relasi manusia dengan simbol-simbol kehidupan. Sementara Bejo Sendy, pemusik rinding dan pelaku
seni tradisi, akan mengajak peserta membaca kembali makna bunyi sebagai medium
rasa, laku hidup, dan hubungan manusia dengan alam.
Perspektif
perubahan sosial dan pariwisata Borobudur akan diperkaya oleh Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D.,
akademisi pembangunan sosial dan pariwisata, bersama Rochmad Hidayat, S.Par., praktisi pariwisata Borobudur
yang sehari-hari bergelut dengan dinamika kawasan dan masyarakat sekitar.
Sebagai
penanggap, hadir Prof. Dr. Totok
Roesmanto, Dr. Budiana Setiawan,
dan Prof. Agus Purwantoro, yang
akan memperluas ruang dialog melalui pembacaan reflektif dari sudut pandang
kebudayaan, sejarah, sains, serta masa depan Borobudur. Diharapkan hadir pula
perwakilan dari Kementerian Kebudayaan, BOB, Pengelola Taman Wisata Candi
Borobudur, serta MCB.
Kini,
jejak harmoni itu terasa semakin samar. Karena itu, kita perlu kembali
bertanya: apakah dentang gong masih ditabuh selaras dengan irama gending?
Apakah batu-batu Borobudur masih berdiri kokoh tidak hanya secara fisik, tetapi
juga dalam makna yang dikandungnya? Dan yang lebih penting, apakah pesan
terdalamnya masih sampai kepada kita?
Apakah
kita masih mampu merasakan apa yang dahulu dirasakan para wiku di Dusun
Kenayan, atau apa yang dihayati para penabuh gamelan di Dusun Gendingan
berabad-abad silam?
Melalui
Webinar Sekolah Kehidupan dalam rangka 24
Tahun Ruwat Rawat Borobudur, upaya mendokumentasikan pemikiran,
dinamika, dan perjalanan Borobudur akan terus dilakukan, agar generasi
mendatang dapat belajar dari sebab-akibat perubahan yang terjadi selama lebih
dari empat dekade.
Menuliskan
kembali hubungan antara bunyi, ruang, dan makna menjadi salah satu cara untuk
mengingat bahwa di tempat ini, seni, spiritualitas, dan kehidupan pernah
menyatu dan semestinya tetap mengajarkan harmoni, kesadaran, serta kedamaian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar