Gong, Gending, dan Borobudur: Jejak Harmoni yang Kian Samar - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 14 Mei 2026

Gong, Gending, dan Borobudur: Jejak Harmoni yang Kian Samar

Tim Redaksi Sekolah Kehidupan Borobudur

Borobudur tidak berdiri sendiri di atas bukit. Ia bukan sekadar susunan batu yang menjelma menjadi bangunan megah. Di sekelilingnya tersimpan jejak sejarah yang seakan tersembunyi dalam nama-nama dusun tua yang masih hidup hingga hari ini ibarat lembaran kitab yang menceritakan bagaimana leluhur memahami kehidupan, bunyi, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Di sekitar kawasan candi terdapat Dusun Gendingan. Sesuai namanya, tempat ini ditengarai sebagai pusat berolah rasa, ruang di mana alunan gamelan dimainkan bukan sekadar hiburan, melainkan sarana merasakan getaran alam dan pesan-pesan spiritual. Tak jauh dari sana terdapat Dusun Bogowanti, yang dipercaya sebagai panti boga, tempat penyedia kebutuhan bagi mereka yang berkegiatan di kawasan suci ini.

Ada pula Dusun Janan, yang diduga menjadi tempat tinggal para empu dan perancang yang membangun kemegahan Borobudur. Sementara yang paling dekat dengan kawasan candi adalah Dusun Kenayan, tempat para wiku dan pemikir bermukim merenung, mendalami kehidupan, serta meramu pemahaman tentang manusia, alam, dan Tuhan, yang pada masa itu dipahami dalam bingkai kapitayan.

Keterhubungan kawasan ini dengan bunyi dan musik tradisional semakin terasa ketika menelusuri hakikat gamelan itu sendiri. Dalam tradisi gamelan dikenal dua larasan (nada) utama, yakni laras slendro dan laras pelog. Keduanya bukan sekadar sistem musikal, melainkan cerminan cara pandang manusia terhadap keseimbangan hidup. Dari kedua larasan itu lahir beragam irama: ada yang cepat, tenang, maupun lambat sebagaimana manusia menjalani kehidupan dengan cara dan kedalaman yang berbeda-beda.

Keselarasan itu tampak pula dalam struktur Borobudur yang mengenal tingkatan kesadaran: Kamadhatu (alam keinginan), Rupadhatu (alam wujud), hingga Arupadhatu (alam tanpa wujud). Sebagaimana gending mengalir dari satu irama menuju irama berikutnya, Borobudur pun membuka ruang tafsir yang terus hidup, selaras dengan kedalaman batin orang yang memahaminya. Ajaran kehidupan yang diwariskan Siddharta dituangkan tidak hanya melalui relief batu, tetapi juga melalui bunyi termasuk dentang gong sebagai media yang menuntun manusia menuju kebijaksanaan.

Namun, kenyataan mengalami perubahan besar sejak pemugaran Borobudur pada era 1980-an. Perlahan, makna Borobudur mengalami pergeseran. Kawasan yang dahulu lekat dengan suasana hening, ruang pencarian damai, dan perenungan hakikat hidup, berubah menjadi pusat pariwisata berskala besar. Orientasi ekonomi menjadi semakin dominan. Nuansa sakral, teduh, dan spiritual perlahan tertutup oleh hiruk-pikuk keramaian, aktivitas wisata, serta dinamika pasar yang mengitarinya.

Karena itu, melalui ruang dialog yang sehat, terbuka, dan berkeadaban, Borobudur penting dipahami bukan hanya sebagai destinasi wisata atau bangunan warisan sejarah, melainkan sebagai ruang peradaban yang mengajarkan harmoni, keseimbangan, serta perjalanan kesadaran manusia.

Berangkat dari semangat 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, akan diselenggarakan Webinar Sekolah Kehidupan ke-12 Tahun 2026 dengan tema:

“Hakikat Gong dan Borobudur: Dentang Kesadaran di Tengah Pergantian Zaman”

Webinar ini menghadirkan beragam perspektif lintas disiplin. Dua perwakilan dari Dirjen Bimas Buddha diharapkan memberikan pandangan mengenai Borobudur sebagai ruang spiritual dan warisan nilai Buddhadharma dalam konteks kekinian.

Dr. Budi Sarwono dari Universitas Sanata Dharma akan mengulas dimensi kesadaran, kebudayaan, dan pembentukan nilai dalam relasi manusia dengan simbol-simbol kehidupan. Sementara Bejo Sendy, pemusik rinding dan pelaku seni tradisi, akan mengajak peserta membaca kembali makna bunyi sebagai medium rasa, laku hidup, dan hubungan manusia dengan alam.

Perspektif perubahan sosial dan pariwisata Borobudur akan diperkaya oleh Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D., akademisi pembangunan sosial dan pariwisata, bersama Rochmad Hidayat, S.Par., praktisi pariwisata Borobudur yang sehari-hari bergelut dengan dinamika kawasan dan masyarakat sekitar.

Sebagai penanggap, hadir Prof. Dr. Totok Roesmanto, Dr. Budiana Setiawan, dan Prof. Agus Purwantoro, yang akan memperluas ruang dialog melalui pembacaan reflektif dari sudut pandang kebudayaan, sejarah, sains, serta masa depan Borobudur. Diharapkan hadir pula perwakilan dari Kementerian Kebudayaan, BOB, Pengelola Taman Wisata Candi Borobudur, serta MCB.

Kini, jejak harmoni itu terasa semakin samar. Karena itu, kita perlu kembali bertanya: apakah dentang gong masih ditabuh selaras dengan irama gending? Apakah batu-batu Borobudur masih berdiri kokoh tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam makna yang dikandungnya? Dan yang lebih penting, apakah pesan terdalamnya masih sampai kepada kita?

Apakah kita masih mampu merasakan apa yang dahulu dirasakan para wiku di Dusun Kenayan, atau apa yang dihayati para penabuh gamelan di Dusun Gendingan berabad-abad silam?

Melalui Webinar Sekolah Kehidupan dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, upaya mendokumentasikan pemikiran, dinamika, dan perjalanan Borobudur akan terus dilakukan, agar generasi mendatang dapat belajar dari sebab-akibat perubahan yang terjadi selama lebih dari empat dekade.

Menuliskan kembali hubungan antara bunyi, ruang, dan makna menjadi salah satu cara untuk mengingat bahwa di tempat ini, seni, spiritualitas, dan kehidupan pernah menyatu dan semestinya tetap mengajarkan harmoni, kesadaran, serta kedamaian.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar