Selama dua puluh empat tahun
perjalanan waktu, agenda budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur telah
tumbuh dan mengakar kuat sebagai wujud kepedulian tulus dari para pelestari
warisan budaya. Apa yang bermula sebagai gerakan lokal, kini telah
bertransformasi menjadi sebuah gerakan partisipasi rakyat yang cakupannya
melampaui batas-batas administratif 20 desa di Kecamatan Borobudur. Semangat
ini bahkan telah menjalar hingga ke luar Pulau Jawa dan menyentuh perhatian
mancanegara, membuktikan bahwa kepedulian terhadap budaya adalah bahasa yang
universal.
Namun, di balik kemegahan
perayaan budayanya, inti dari perjuangan ini adalah sebuah misi mendalam untuk
mengembalikan makna sejati Candi Borobudur sebagai Warisan Rohani,
sebagaimana tujuan suci yang diletakkan oleh para pendirinya dahulu. Kita tidak
bisa menutup mata terhadap kenyataan masa kini yang cenderung menempatkan candi
semata-mata sebagai objek wisata, komoditas ekonomi, maupun sumber pendapatan.
Di tengah gegap gempita industri pariwisata tersebut, kami justru menyaksikan
sebuah ironi berupa terabaikannya nilai-nilai kerohanian yang seharusnya
menjadi jiwa dari Borobudur itu sendiri.
Melalui ruang budaya, Ruwat
Rawat hadir bukan untuk menentang kemajuan, melainkan untuk membantu tercipta
keseimbangan mutlak antara aspek perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan.
Sayangnya, perjuangan yang mengingatkan pentingnya keseimbangan ini justru
sering dianggap tidak relevan. Kami kerap dicap sebagai kelompok yang menentang
kemapanan atau sekadar suka mengkritik, hingga harus menerima cemoohan,
perlakuan diskriminatif, sampai upaya penistaan nama baik.
Banyak pihak yang mungkin tidak
membayangkan betapa sulitnya merawat ruang bersama seperti Ruwat Rawat
Borobudur hingga bisa bertahan selama 24 tahun. Kita melihat banyak agenda
budaya, baik melalui program pemerintah yang disinergikan dengan kelompok
masyarakat, yang nyatanya hanya berumur jagung. Nasib serupa juga menimpa
program Balkondes serta berbagai inisiatif pemberdayaan lainnya yang layu
sebelum berkembang.
Jika menilik ke belakang,
seluruh penyelenggaraan kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini dulunya berlandaskan
pada swadaya murni dari pribadi yang kemudian dikuatkan oleh para pelestari.
Namun seiring berjalannya waktu, gerakan ini harus mampu bersaing dengan
program pemerintah. Hingga muncul pertarungan nilai yang tajam antara Semangat
Handarbeni rasa memiliki yang tulus dari masyarakat dengan semangat
pragmatis yang didukung atas nama pemerintah dan lembaga yang sering kali hanya
mengutamakan keuntungan materi.
Tradisi memang kerap dianggap
kuno, tetapi itulah warisan leluhur yang memegang teguh gotong royong. Kami
tetap teguh memegang kearifan leluhur "Ngeli ning ora keli";
mengikuti arus zaman namun tidak larut kehilangan jati diri. Kami selalu
teringat pesan luhur "Pasar ilang kumendange, Kali ilang kedhunge",
sebuah pengingat bahwa meski bentuk fisik berubah, hakikat spiritual harus
tetap abadi.
Bukti nyata keberhasilan
perjuangan berbasis komunitas ini terlihat pada transformasi Punthuk Setumbu.
Berawal dari gerakan tahun 2006, kawasan yang dulunya gersang kini menjadi
destinasi wisata dunia. Hal serupa terjadi di Desa Ringinputih; melalui
ikhtiar Ruwat Rawat, kini pohon beringin tumbuh rindang dan sumber air kembali
melimpah. Sayangnya, dalam catatan sejarah kemajuan tersebut, nama para pelopor
seperti Bapak Sucoro maupun Ruwat Rawat sendiri sering kali terhapus dan
digantikan oleh nama pihak-pihak yang datang kemudian.
Kini, memasuki usia ke-24
sekaligus masa senja para pendirinya, kami menyadari bahwa "ngemong
rasa" bukanlah perkara mudah. Dinamika kepentingan pengelolaan yang
telah merambah hingga akar rumput membuat masyarakat sulit diajak duduk bersama
dalam semangat gotong royong. Fenomena menjamurnya kelompok masyarakat yang
saling bersaing demi pengakuan menjadi potret buram yang kami hadapi. Kami
tidak tahu apakah konflik ini sengaja dipelihara dengan dalih
"ngemong", namun kenyataannya, gesekan yang saling menjatuhkan seakan
tidak pernah benar-benar padam.
Akibatnya, pesan kedamaian dan
kerukunan yang terefleksi pada relief candi justru terkalahkan oleh
"kegaduhan" kepentingan. Fakta sejarah mencatat ironi yang nyata: 75
persen dari 20 Balkondes kini mangkrak, persoalan pemindahan area pedagang
dan lahan parkir yang berlarut hingga harus melibatkan KOMNAS HAM,
hingga kontroversi rencana pemasangan Chattra. Di satu sisi, pemasangan
itu dianggap menguatkan spiritualitas, namun di sisi lain, sejarawan dan
pelestari menganggapnya tidak selaras dengan kaidah keaslian. Semua persoalan
ini telah lama menyelimuti Borobudur, mengubah pusat spiritual yang seharusnya
memberikan kesan damai menjadi ruang kegaduhan yang panjang. Hal ini tentunya
menimbulkan pertanyaan besar: “Jangan-jangan ini sudah ada blueprint besar
untuk tujuan tertentu?”
Sebagai langkah terakhir dan
bentuk pertanggungjawaban kepada sejarah, kami memilih untuk menempatkan segala
pergulatan ragam interpretasi baik soal bangunan fisik candi maupun nilai
spiritual yang universal sebagai satu kesatuan perjalanan. Pergulatan tersebut
telah mendewasakan kami hingga mampu bertahan sampai 24 tahun.
Untuk itu, semua peristiwa
tersebut akan kami kelola dengan baik sebagai media "Pendidikan dan
Pengetahuan". Kami mencatat setiap kebijakan pengelola dan sikap
kelompok masyarakat melalui pertemuan, wawancara, hingga webinar Sekolah
Kehidupan. Hasilnya kami bukukan untuk diwariskan kepada generasi
mendatang.
"Sebagai rekam jejak yang
nyata, lebih dari 6.000 eksemplar buku telah kami teruskan ke tangan generasi
muda, akademisi, dan para pelestari budaya. Harapan kami teramat sederhana:
semoga semangat Ruwat Rawat senantiasa hidup dan abadi. Kami memimpikan
Borobudur yang terus dijaga, tidak sekadar sebagai susunan batu mati, melainkan
sebagai pusat spiritual dan penuntun nilai-nilai kehidupan. Kelak, bagi siapa
pun yang mengambil peran dalam mengelola warisan budaya ini, semoga karya kami
dapat menjadi bekal yang berharga sebuah warisan pengalaman yang telah kami
catat dengan saksama, kami hayati kisahnya tentang betapa susahnya menghidupkan
Borobudur yang telah 40 tahun dinyatakan sebagai monumen mati, dan terus kami
saksikan perkembangannya."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar