RUWAT RAWAT BOROBUDUR MEMBANTU TERWUJUDNYA TIGA PILAR ,PELESTARIAN,PERLINDUNGAN DAN PEMANFAATAN - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Jumat, 08 Mei 2026

RUWAT RAWAT BOROBUDUR MEMBANTU TERWUJUDNYA TIGA PILAR ,PELESTARIAN,PERLINDUNGAN DAN PEMANFAATAN

Selama dua puluh empat tahun perjalanan waktu, agenda budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur telah tumbuh dan mengakar kuat sebagai wujud kepedulian tulus dari para pelestari warisan budaya. Apa yang bermula sebagai gerakan lokal, kini telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan partisipasi rakyat yang cakupannya melampaui batas-batas administratif 20 desa di Kecamatan Borobudur. Semangat ini bahkan telah menjalar hingga ke luar Pulau Jawa dan menyentuh perhatian mancanegara, membuktikan bahwa kepedulian terhadap budaya adalah bahasa yang universal.

Namun, di balik kemegahan perayaan budayanya, inti dari perjuangan ini adalah sebuah misi mendalam untuk mengembalikan makna sejati Candi Borobudur sebagai Warisan Rohani, sebagaimana tujuan suci yang diletakkan oleh para pendirinya dahulu. Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan masa kini yang cenderung menempatkan candi semata-mata sebagai objek wisata, komoditas ekonomi, maupun sumber pendapatan. Di tengah gegap gempita industri pariwisata tersebut, kami justru menyaksikan sebuah ironi berupa terabaikannya nilai-nilai kerohanian yang seharusnya menjadi jiwa dari Borobudur itu sendiri.

Melalui ruang budaya, Ruwat Rawat hadir bukan untuk menentang kemajuan, melainkan untuk membantu tercipta keseimbangan mutlak antara aspek perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Sayangnya, perjuangan yang mengingatkan pentingnya keseimbangan ini justru sering dianggap tidak relevan. Kami kerap dicap sebagai kelompok yang menentang kemapanan atau sekadar suka mengkritik, hingga harus menerima cemoohan, perlakuan diskriminatif, sampai upaya penistaan nama baik.

Banyak pihak yang mungkin tidak membayangkan betapa sulitnya merawat ruang bersama seperti Ruwat Rawat Borobudur hingga bisa bertahan selama 24 tahun. Kita melihat banyak agenda budaya, baik melalui program pemerintah yang disinergikan dengan kelompok masyarakat, yang nyatanya hanya berumur jagung. Nasib serupa juga menimpa program Balkondes serta berbagai inisiatif pemberdayaan lainnya yang layu sebelum berkembang.

Jika menilik ke belakang, seluruh penyelenggaraan kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ini dulunya berlandaskan pada swadaya murni dari pribadi yang kemudian dikuatkan oleh para pelestari. Namun seiring berjalannya waktu, gerakan ini harus mampu bersaing dengan program pemerintah. Hingga muncul pertarungan nilai yang tajam antara Semangat Handarbeni rasa memiliki yang tulus dari masyarakat dengan semangat pragmatis yang didukung atas nama pemerintah dan lembaga yang sering kali hanya mengutamakan keuntungan materi.

Tradisi memang kerap dianggap kuno, tetapi itulah warisan leluhur yang memegang teguh gotong royong. Kami tetap teguh memegang kearifan leluhur "Ngeli ning ora keli"; mengikuti arus zaman namun tidak larut kehilangan jati diri. Kami selalu teringat pesan luhur "Pasar ilang kumendange, Kali ilang kedhunge", sebuah pengingat bahwa meski bentuk fisik berubah, hakikat spiritual harus tetap abadi.

Bukti nyata keberhasilan perjuangan berbasis komunitas ini terlihat pada transformasi Punthuk Setumbu. Berawal dari gerakan tahun 2006, kawasan yang dulunya gersang kini menjadi destinasi wisata dunia. Hal serupa terjadi di Desa Ringinputih; melalui ikhtiar Ruwat Rawat, kini pohon beringin tumbuh rindang dan sumber air kembali melimpah. Sayangnya, dalam catatan sejarah kemajuan tersebut, nama para pelopor seperti Bapak Sucoro maupun Ruwat Rawat sendiri sering kali terhapus dan digantikan oleh nama pihak-pihak yang datang kemudian.

Kini, memasuki usia ke-24 sekaligus masa senja para pendirinya, kami menyadari bahwa "ngemong rasa" bukanlah perkara mudah. Dinamika kepentingan pengelolaan yang telah merambah hingga akar rumput membuat masyarakat sulit diajak duduk bersama dalam semangat gotong royong. Fenomena menjamurnya kelompok masyarakat yang saling bersaing demi pengakuan menjadi potret buram yang kami hadapi. Kami tidak tahu apakah konflik ini sengaja dipelihara dengan dalih "ngemong", namun kenyataannya, gesekan yang saling menjatuhkan seakan tidak pernah benar-benar padam.

Akibatnya, pesan kedamaian dan kerukunan yang terefleksi pada relief candi justru terkalahkan oleh "kegaduhan" kepentingan. Fakta sejarah mencatat ironi yang nyata: 75 persen dari 20 Balkondes kini mangkrak, persoalan pemindahan area pedagang dan lahan parkir yang berlarut hingga harus melibatkan KOMNAS HAM, hingga kontroversi rencana pemasangan Chattra. Di satu sisi, pemasangan itu dianggap menguatkan spiritualitas, namun di sisi lain, sejarawan dan pelestari menganggapnya tidak selaras dengan kaidah keaslian. Semua persoalan ini telah lama menyelimuti Borobudur, mengubah pusat spiritual yang seharusnya memberikan kesan damai menjadi ruang kegaduhan yang panjang. Hal ini tentunya menimbulkan pertanyaan besar: “Jangan-jangan ini sudah ada blueprint besar untuk tujuan tertentu?”

Sebagai langkah terakhir dan bentuk pertanggungjawaban kepada sejarah, kami memilih untuk menempatkan segala pergulatan ragam interpretasi baik soal bangunan fisik candi maupun nilai spiritual yang universal sebagai satu kesatuan perjalanan. Pergulatan tersebut telah mendewasakan kami hingga mampu bertahan sampai 24 tahun.

Untuk itu, semua peristiwa tersebut akan kami kelola dengan baik sebagai media "Pendidikan dan Pengetahuan". Kami mencatat setiap kebijakan pengelola dan sikap kelompok masyarakat melalui pertemuan, wawancara, hingga webinar Sekolah Kehidupan. Hasilnya kami bukukan untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

"Sebagai rekam jejak yang nyata, lebih dari 6.000 eksemplar buku telah kami teruskan ke tangan generasi muda, akademisi, dan para pelestari budaya. Harapan kami teramat sederhana: semoga semangat Ruwat Rawat senantiasa hidup dan abadi. Kami memimpikan Borobudur yang terus dijaga, tidak sekadar sebagai susunan batu mati, melainkan sebagai pusat spiritual dan penuntun nilai-nilai kehidupan. Kelak, bagi siapa pun yang mengambil peran dalam mengelola warisan budaya ini, semoga karya kami dapat menjadi bekal yang berharga sebuah warisan pengalaman yang telah kami catat dengan saksama, kami hayati kisahnya tentang betapa susahnya menghidupkan Borobudur yang telah 40 tahun dinyatakan sebagai monumen mati, dan terus kami saksikan perkembangannya."

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar