Tim Redaksi Sekolah Kehidupan
Warung Info Borobudur 10 Mei
2026 : Borobudur hari ini berada di persimpangan jalan. Di tengah riuh
rendah persoalan pelestarian, ambisi pengembangan pariwisata, hingga perubahan
lanskap kawasan yang kian masif, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Masihkah kita memahami hakikat
Borobudur melampaui wujud fisiknya?
Kesadaran
inilah yang menjadi nyawa dalam Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 Tahun 2026.
Mengusung tema besar dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, diskusi ini
menghadirkan refleksi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai lama seharusnya
memandu masa depan Borobudur.
Kesadaran inilah yang mengemuka dalam Webinar
Sekolah Kehidupan ke-11 Tahun 2026 dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur,
yang diselenggarakan pada Minggu, 10 Mei 2026 pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh
129 peserta dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa serta kelompok
masyarakat pemerhati budaya dan pelestari Borobudur.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. M. Baiquni sebagai
keynote speaker dengan paparan bertajuk Hamemayu Hayuning Borobudur,
diperkaya pandangan dari para narasumber: Totok Roesmanto, Agus Purwantoro,
Budiana Setiawan, Toni Yunus, dan Ragile Wiratno,Novita Siswayanti dengan dipandu moderator Sucoro Setro Diharjo.
Dalam paparannya, Prof. Totok Roesmanto menarik,
dan ini penting untuk dipahami. Saya melihat apa yang disampaikan Pak Toro
berangkat dari falsafah Sultan Agung tentang memayu hayuning bawana.
Namun, pada Sultan Agung konsep itu sebenarnya lebih lengkap, yakni disertai
dengan mengasah mingising budi dan memasuh malaning bumi. Jadi,
ada kesatuan antara pembinaan batin, pemuliaan akhlak, sekaligus upaya
membersihkan serta merawat dunia.
Menurut saya, Sultan Agung menyampaikan falsafah
tersebut setelah berhasil menguasai hampir seluruh tanah Jawa. Karena itu,
filosofi ini juga berkaitan erat dengan upaya membangun kebudayaan dan
peradaban Jawa. Jika kita berbicara memayu hayuning bawana, titik
berangkatnya adalah kebudayaan, dan kemudian berkembang menjadi filosofi hidup
masyarakat Jawa.
Konsep memayu hayuning bawana ini lalu
diperjelas secara fisik oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I
melalui konsep sumbu imajiner Laut Selatan–Keraton–Gunung Merapi di Yogyakarta.
Kita tahu bahwa sumbu filosofis ini telah diakui sebagai warisan dunia UNESCO.
Di sini tampak adanya upaya melestarikan falsafah lama, lalu memperluasnya
menjadi sesuatu yang lebih universal.
Namun, menariknya, ketika Pangeran Mangkubumi masih
berada di Surakarta, konsep ini belum diterapkan secara utuh. Keraton Solo
memang berkiblat ke Laut Selatan, tetapi di bagian utaranya tidak terdapat
gunung sebagaimana di Yogyakarta. Yang ada justru Hutan Krendowahono atau
Kendawana, yang dalam pewayangan dikenal sebagai wilayah Batari Durga.
Di sinilah muncul perbedaan penekanan filosofis.
Dalam wayang, Batari Durga sering diposisikan sebagai simbol negatif. Namun
dalam kosmologi Hindu-Jawa, Kali Durga sebagai pasangan Siwa justru memiliki
fungsi penting dalam menjaga keseimbangan kosmis. Karena itu, hingga kini
Keraton Solo masih menjalankan ritual di Krendowahono. Ada pemahaman bahwa
unsur positif dan negatif tidak untuk dipertentangkan, melainkan diseimbangkan.
Inilah kompleksitas memayu hayuning bawana.
Saya kira filosofi semacam ini sulit ditemukan
padanannya di tempat lain di dunia, meskipun bangsa-bangsa lain juga memiliki
gagasan pelestarian alam semesta.
Terkait Panji Sosrokartono yang tadi disampaikan,
memang banyak hal menarik yang berkembang darinya. Namun menurut saya, akar
utamanya tetap kembali pada Sultan Agung. Di Keraton Solo, figur yang
diagungkan adalah Sultan Agung, sementara di Keraton Yogyakarta lebih
menonjolkan Hamengkubuwono I. Tetapi bila dilihat dari perspektif sejarah yang
lebih luas, titik awalnya tetap berada pada Sultan Agung.
Meski demikian, Sultan Agung sendiri sebenarnya
sedang melanjutkan warisan yang lebih tua, yaitu usaha menyinergikan filsafat
Islam pesisir utara dengan falsafah kejawaan di wilayah pedalaman atau Negari
Agung. Karena Yogyakarta dan Mataram memiliki hubungan historis dengan
kawasan Borobudur, muncul pertanyaan menarik: apakah sintesis budaya Jawa-Islam
itu sesungguhnya juga dipengaruhi oleh filosofi yang berkembang di sekitar
Borobudur? Ini yang menurut saya belum terjawab.
Secara logika sejarah, proses penyatuan antara
tradisi Islam dan kebudayaan Jawa kemungkinan telah dimulai sejak Kesultanan
Pajang pada masa Sultan Hadiwijaya. Namun data sejarah tentang masa Pajang
masih sangat terbatas, sehingga perkembangan budaya Jawa tampak seperti
melompat langsung ke era Mataram.
Jika kita mundur lebih jauh, konsep sumbu ruang
pada masa Demak masih menggunakan pola segara–gunung, warisan Majapahit.
Hanya saja, konteks geografisnya berubah. Di utara Demak terdapat perairan
Selat Muria, sementara gunung-gunung berada di arah lain, seperti Merapi, Merbabu,
dan Gunung Prawoto. Bahkan ada pendapat bahwa orientasi ruang Demak mengarah ke
Gunung Prawoto, sementara kiblat spiritualnya tetap ke arah barat sesuai
tradisi Islam.
Konsep-konsep inilah yang kemudian dikembangkan
Sultan Agung menjadi gagasan makro yang lebih luas dan universal: memayu
hayuning bawana.
Punokawan
dan Jejak Filosofinya
Bila ditarik lebih jauh lagi, saya melihat konsep
ini tidak memiliki hubungan langsung dengan Sabdo Palon sebagaimana sering
dipahami. Menurut saya, Sabdo Palon adalah tokoh fiktif dalam Babad Tanah
Jawa, yang dihadirkan sebagai guru spiritual Brawijaya V. Ia memang
menyampaikan nilai-nilai yang sejalan dengan memayu hayuning bawana,
tetapi tidak tersurat secara eksplisit dalam teksnya. Itu lebih merupakan
kesimpulan para pembaca di kemudian hari.
Sabdo Palon selalu berpasangan dengan Noyogenggong.
Menariknya, jejak punokawan justru tampaknya jauh lebih tua. Saya melihat awal
kemunculannya dapat ditelusuri di Candi Jago. Pada relief kaki candi bagian
barat daya, dalam kisah Partayadnya, sudah terdapat dua figur punokawan,
meskipun belum empat seperti yang kita kenal sekarang.
Masalahnya, kita belum mengetahui secara pasti
siapa dua punokawan tersebut. Apakah Semar dan tokoh lain, atau justru Gareng
dan Petruk? Ini masih menjadi ruang kajian.
Kesimpulan saya, dua figur punokawan di Candi Jago
kemudian diangkat kembali pada masa Majapahit dalam figur Sabdo
Palon–Noyogenggong. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi ke karya Empu Kanwa,
figur Semar pun belum disebut secara eksplisit dalam teks. Jadi, banyak hal
yang kita pahami hari ini sesungguhnya merupakan hasil tafsir para pembaca dan
penelaah berikutnya.
Borobudur,
Pelestarian, dan Pemanfaatan
Yang menurut saya perlu diluruskan adalah ketika
Borobudur yang telah dilestarikan kemudian ingin dikembangkan. Pengembangan
adalah bagian dari pemanfaatan, dan pemanfaatan memang dimungkinkan dalam
konsep pelestarian. Tetapi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Kita belum memiliki petunjuk yang benar-benar jelas
mengenai batas-batas pemanfaatan itu. Karena itu, kehati-hatian menjadi sangat
penting.
Saya teringat buku Kronologi Pemugaran Candi
Borobudur 1814–1983. Di sana dijelaskan bahwa saat pemugaran, chattra
atau payung stupa utama sebenarnya belum ada. Yang ditemukan hanyalah potongan-potongan
batu di halaman candi. Ketika arkeolog Belanda mencoba memasangnya, itu hanya
percobaan dan kemudian diturunkan kembali.
Kalau kita memahami simbol payung sebagai sesuatu
yang “memayungi”, sebenarnya ada kaitannya dengan semangat memayu hayuning
bawana atau bahkan memayu hayuning Borobudur yakni melengkapi
Borobudur menuju kesempurnaan. Namun persoalannya, bentuk chattra itu
sendiri belum jelas: berapa tingkatnya, seperti apa bentuk pastinya, dan apakah
memang demikian adanya.
Dalam tradisi lokal, payung memiliki makna simbolik
yang kuat: memayungi raja, diletakkan di depan gerbang, atau hadir dalam tata
simbolik pura dan puri di Bali. Ini penting untuk dipahami sebelum menarik
kesimpulan fisik terhadap Borobudur.
Sumbu
Imajiner Borobudur
Jika Yogyakarta memiliki sumbu imajiner
Merapi–Keraton–Laut Selatan, maka Borobudur sebenarnya juga memiliki sumbu
imajiner sendiri: Mendut–Pawon–Borobudur.
Selama ini sering disebut sebagai garis lurus,
tetapi penelitian menunjukkan bahwa sesungguhnya itu merupakan garis patah.
Yang lebih menarik lagi, orientasi ketiga candi itu berbeda-beda.
Candi Mendut menghadap ke barat laut, Pawon sedikit
bergeser, sedangkan Borobudur memiliki orientasi ruangnya sendiri. Artinya, ada
pengangkatan unsur kelokalan pada masing-masing candi. Perancangnya tampak
sengaja menampilkan identitas lokal dari tiap unsur utama rangkaian candi
tersebut.
Inilah yang menurut saya penting: bagaimana nilai
lokal diangkat dan dihormati.
Borobudur sangat khas. Jika dibandinkan dengan
kompleks candi lain pada masa Mataram Kuno seperti Lumbung, Bubrah, Sewu, atau
Kalasan susunan dan orientasinya jauh lebih seragam. Tetapi Borobudur berbeda.
Saya melihat ada niat dari raja dan arsiteknya yang sering disebut Gunadharma untuk
mengangkat potensi lokal di setiap titik.
Karena itu, menurut saya yang perlu dikembangkan
bukanlah membuat sumbu baru seperti di Yogyakarta, melainkan memperkuat sumbu
Mendut–Pawon–Borobudur yang sudah ada, termasuk ritual dan keterhubungannya
dengan masyarakat sekitar.
Hal ini relevan dengan penguatan potensi lokal di
sekitar Borobudur, termasuk 20 desa di kawasan kecamatan Borobudur. Seperti
yang dilakukan Pak Toro, potensi-potensi lokal ini perlu terus diangkat.
Borobudur akan tetap bertahan apabila dilestarikan
dengan baik. Tetapi yang tak kalah penting adalah menjaga makna, ruh, dan
hubungan kulturalnya dengan masyarakat sekitar. Potensi lokal dari Mendut,
Pawon, hingga Borobudur sendiri sesungguhnya masih sangat luas untuk digali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar