Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, Magelang – 13 Juli 2026
Di tengah berbagai festival, pertunjukan seni, diskusi, dan program
pemberdayaan yang terus berlangsung di kawasan Borobudur, muncul pertanyaan
sederhana namun penting: apakah semua kegiatan itu benar-benar menghadirkan
kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat Borobudur
justru menghadapi berbagai persoalan strategis. Pendapatan warga menurun akibat
kebijakan pembatasan kunjungan ke Candi Borobudur. Terbitnya Perpres Nomor 101
Tahun 2024 juga memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan kesejahteraan
masyarakat. Sementara itu, sektor pertanian yang selama ini menjadi penyangga
kehidupan warga belum mampu memberikan daya dukung ekonomi yang memadai.
Di sisi lain, berbagai kegiatan budaya terus bertambah. Anggaran terus
digelontorkan, panggung-panggung budaya terus digelar, dan jumlah acara semakin
banyak. Namun ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari jumlah
peserta, besarnya anggaran, ramainya pemberitaan, atau banyaknya wisatawan yang
datang.
Padahal, ukuran yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut mampu
membangun kesadaran kolektif masyarakat.
Tanpa kesadaran kolektif, sebuah kegiatan hanya menjadi peristiwa
sesaat. Setelah acara selesai, masyarakat kembali pada rutinitas tanpa perubahan
cara pandang, tanpa tumbuh rasa memiliki, dan tanpa tanggung jawab bersama
terhadap masa depan Borobudur.
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur yang selama lebih dari dua dekade berupaya
menjaga keberlanjutan warisan budaya ini melihat bahwa keberhasilan sebuah
kegiatan budaya seharusnya diukur dari kemampuannya memperkuat tiga pilar
kehidupan: hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan
alam, dan hubungan manusia dengan Yang Maha Kuasa.
Hubungan antarmanusia diwujudkan melalui gotong royong, dialog, dan
kebersamaan. Hubungan dengan alam diwujudkan melalui kepedulian terhadap
lingkungan yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat Borobudur. Sedangkan
hubungan dengan Yang Maha Kuasa diwujudkan melalui kesadaran spiritual bahwa
Borobudur bukan sekadar objek wisata, melainkan warisan peradaban yang
mengandung nilai-nilai luhur.
Ketika ketiga pilar tersebut hadir, sebuah kegiatan budaya tidak hanya
menjadi tontonan atau agenda tahunan, tetapi menjadi ruang pembelajaran yang
menumbuhkan kedewasaan sosial dan memperkuat jati diri masyarakat.
Pengalaman lebih dari 24 tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur menunjukkan
bahwa masa depan Borobudur tidak ditentukan oleh banyaknya acara yang
diselenggarakan, melainkan oleh kemampuan semua pihak menjadikan setiap
kegiatan sebagai sarana pendidikan, pewarisan nilai, dan pembangunan kesadaran.
Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan kegaduhan yang lahir
dari banyaknya agenda dan kepentingan. Masyarakat membutuhkan kedamaian,
kesejahteraan, dan rasa memiliki terhadap Borobudur.
Maka pertanyaan yang perlu terus menanti jawaban adalah: kapan Borobudur benar-benar
memberikan kedamaian, bukan kegaduhan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar