Redaksi Sekolah Kehidupan (
Sucoro Setrodiharjo )
Setiap bulan Sura dalam kalender
Jawa, sebuah riuh spiritual dan kultural yang khidmat selalu menyelimuti Dusun
Onggosoro. Bagi masyarakat setempat, momentum Tanggap Warso Enggal (Sambut Tahun Baru Jawa) bukan
sekadar pergantian angka di penanggalan, melainkan ruang refleksi diri
sekaligus penghormatan mendalam kepada para leluhur.
Tahun ini,
kami berkesempatan menemui Pak
Kamijan, seorang tokoh adat di Dusun Onggosoro, untuk menggali lebih dalam
makna di balik ritual Suran, sejarah perlawanan senyap era kolonial, hingga
esensi kosmologi Kejawen.
Tradisi Suran 15: Takir,
Bubur Suro, dan Sayur Sembilan Rupa
Bisa diceritakan Pak, apa
sebenarnya tujuan utama dari selamatan dan sesaji yang rutin digelar warga
setiap tanggal 15 Sura ini?
Pak Kamijan:
"Intinya
adalah panyuwunan—sebuah doa
dan permohonan keselamatan yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini
mengikuti aturan adat Jawa yang ditaati oleh seluruh warga, baik laki-laki
maupun perempuan, yang secara turun-temurun mengenakan busana adat lurik sebagai
simbol kesederhanaan dan ikatan batin.
Dalam
tradisi kami, ada perhitungan waktu yang ajeg. Berdasarkan sistem penanggalan Aboge (Alif Rebo Wage) dan Asapon (Alif Selasa Pon), dalam
satu windu (8 tahun), hari jatuhnya bulan Sura itu tetap dan tidak berganti.
Selamatan ini sendiri diadakan setiap tanggal 15 Sura saat Purnamasidi (bulan purnama).
Namun, satu hal yang menjadi pantangan mutlak: ritual ini tidak boleh
dilaksanakan pada hari Selasa. Biasanya kami mengacu pada hari Rebo Kliwon atau Kemis Legi."
Kami melihat ada banyak sekali jenis
hidangan dan sesaji yang disiapkan. Apa saja maknanya?
Pak Kamijan:
"Semua
yang disajikan adalah simbol dari kehidupan dan alam. Pertama, ada Bubur Suro yang disajikan di
dalam takir (wadah dari daun
pisang yang dibilah dengan lidi). Isinya lengkap: telur, abon, daun kemangi,
kacang kedelai, teri, dan kacang tanah goreng. Bubur Suro ini melambangkan seger—sebuah awal baru untuk
memulai melangkah dengan rasa lega dan hati yang bersih di tahun yang baru. Ada
juga Jenang, yang menjadi
simbol dari keberadaan badan atau fisik manusia serta unsur-unsur anasir alam
yang membentuk kita.
Lalu ada Kolak yang menggunakan ubi ungu
dan pisang. Tak kalah penting adalah Kimpul dan Sayur Gandul 9 rupa. Angka 9 ini sangat sakral. Isinya
terdiri dari kacang, pepaya muda, kacang panjang, kecipir, buncis, terong,
tauge, serta daun so (melinjo).
Selain itu,
kami menyajikan hidangan pelengkap batin seperti rujak dan wedang (minuman).
Ada kopi hitam, teh, dan air putih tanpa gula. Ada juga rujak cendol dawet,
serta rujak tape degan (kelapa muda) asem. Semua ini adalah bentuk bakti dan
sarana menyambung rasa kepada para leluhur melalui Air Panguripan (air kehidupan)."
Tumpeng Robyong dan Filosofi
Angka Sembilan
Selain bubur, ada juga Tumpeng
Robyong yang terlihat sangat megah dengan berbagai sayuran. Apa makna di
baliknya?
Pak Kamijan:
"Tumpeng Robyong itu digandengi
dengan 9 jenis gudangan
(kuluban/sayur dengan urap kelapa) dan telur Jawa. Ini adalah simbol dari
kesuburan alam dan sumber kemakmuran. Gunung tumpeng itu seperti gudang—tempat penyimpanan
berkah yang melimpah yang akan kita gunakan di hari-hari mendatang.
Kembali ke angka 9, dalam filosofi Jawa, 9
adalah angka kesempurnaan. Ini melambangkan siklus hidup manusia dari lahir
hingga mati. Angka 9 ini juga memetakan sembilan bidang kehidupan manusia,
mulai dari urusan pribadi, kemasyarakatan, sosial, ekonomi, politik, kesenian,
pengetahuan, ketuhanan, hingga filsafat mistik menuju Tuhan."
Sejarah Onggosoro: Strategi
Kebudayaan Melawan Belanda
Dusun Onggosoro tampaknya
memiliki kaitan sejarah yang kuat dengan Keraton Yogyakarta. Bisa diceritakan
sejarah penyelamatan warga di masa lampau?
Pak Kamijan:
"Benar.
Sejarah dusun ini tidak lepas dari masa penjajahan Belanda. Dahulu, ada seorang
pangeran atau putra raja bernama Suryodiningrat yang memilih hidup di luar benteng
Keraton Yogyakarta. Beliau mengayomi masyarakat, dan tempat ini menjadi basis
berkumpulnya para kawula Ngayogyakarta (Pakempalan Kawula).
Aktivitas
ini membuat pihak Belanda curiga. Karena dianggap membahayakan posisi kolonial,
Belanda memerintahkan agar perkumpulan tersebut dibubarkan. Pangeran
Suryodiningrat dan warga tidak kehilangan akal. Agar warga desa tetap selamat
dan menyatu, dibuatlah sebuah strategi kebudayaan. Supaya Belanda lega dan
tidak curiga, perjuangan itu dibalut dalam bentuk kegiatan tradisi.
Hingga pada
tahun 1942, dibentuklah PRJ
(Pakempalan Rakyat Jogyakarta). Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945,
gerakan ini terus bertransformasi. Pada tahun 1951, wadah ini resmi menjadi
organisasi Grinda Pancasila
Mahayubuana (Gerakan Rakyat Indonesia). Jadi, tradisi yang kita lihat hari
ini dulunya adalah tameng budaya untuk mempertahankan keselamatan warga dari
cengkeraman penjajah."
Kosmologi Jawa: Sedulur Papat
Kalima Pancer dan Jangka Jayabaya
Bagaimana Pak Kamijan melihat
esensi spiritualitas Kejawen di era modern saat ini?
Pak Kamijan:
"Menjadi
Jawa itu berarti berani menggali sejarah Jawa secara utuh dan menjalankan
perjalanan hidup sebagaimana yang telah digariskan oleh para leluhur. Orang
Jawa itu hidup lewat sembahyang dan mantra. Warisan leluhur nusantara seperti
relief di Candi Borobudur itu sebenarnya sudah merekam seluruh perjalanan dan
tatanan kehidupan orang Jawa.
Dalam
Kejawen, hidup ini adalah menjalankan apa yang sudah tertulis sebelum kita
lahir (Cakramaninggalan).
Baik, buruk, salah, atau benar, itu semua penilaian manusia. Namun pada
hakikatnya, kita harus kembali pada diri sendiri. Tubuh atau raga kita ini
digerakkan oleh unsur anasir alam melalui konsep Kiblat Papat Lima Pancer.
Sedulur Papat adalah empat
unsur alam yang ada dalam diri manusia: Air, Tanah, Api, dan Angin. Sedangkan Pancer-nya adalah Tuhan
Yang Maha Esa itu sendiri.
Saat ini,
waktu terus berjalan seperti jarum jam yang menyatu. Kita sudah melewati Abad
20, dan sekarang berada di Abad 21. Jika kita hitung mundur, Jangka Jayabaya telah
memprediksi siklus 2.000 tahunan, bahkan siklus zaman 5.000 tahunan akan
kembali lagi. Suka atau tidak, alam akan kembali ke keseimbangannya. Jika
manusia sudah jatuh tempo tetapi tetap tidak tanggap (peka terhadap tanda-tanda zaman), maka alam
sendiri yang akan beraksi melakukan pembersihan (ruwat). Kita tidak akan pernah bisa menghalangi atau
mendahului kehendak Tuhan."
Esensi Sastra Jendra dan
Harapan di Bulan Sura
Sebagai penutup, apa pesan
utama dari ritual penyerahan sesaji dan ruwatan di bulan Sura ini?
Pak Kamijan:
"Sura
adalah bulan pertama, awal dari sebuah tahun yang baru. Ini adalah waktu
terbaik untuk mengevaluasi 'kitab' atau catatan hidup kita yang kemarin.
Kekurangan dan kesalahan masa lalu harus kita mintai maaf, agar perjalanan
hidup ke depan bisa berjalan lebih baik.
Jika ada musibah
atau marabahaya, ritual selamatan dan sesaji inilah cara kami memohon agar
dijauhkan dari petaka. Konsep sesajen orang Jawa itu sejatinya bersumber dari
ajaran kuno Mbung Sajen Sarwo
Dosok Sastrojendro Ruwat Sukerto. Sesaji bagi orang Jawa bukan hal syirik,
melainkan wujud panyuwunan doa
visual yang jauh lebih mendalam daripada sekadar lantunan mantra yang diucapkan
di bibir. Ini adalah cara kami menghormati bumi yang kami pijak dan Tuhan yang
memberi kami hidup."
Tradisi Suran di Dusun Onggosoro tidak hanya mengajarkan
kita tentang pentingnya menjaga warisan kuliner spiritual seperti Bubur Suro
atau Tumpeng Robyong, melainkan juga mengingatkan kembali akan taktik tangguh
para leluhur dalam menjaga kemerdekaan lewat diplomasi budaya. Rahayu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar