Wawancara Mendalam bersama Pak Kamijan tentang Sastra Jendra dan Sejarah Dusun Onggosoro - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 01 Juli 2026

Wawancara Mendalam bersama Pak Kamijan tentang Sastra Jendra dan Sejarah Dusun Onggosoro

 

Redaksi Sekolah Kehidupan ( Sucoro Setrodiharjo )

Setiap bulan Sura dalam kalender Jawa, sebuah riuh spiritual dan kultural yang khidmat selalu menyelimuti Dusun Onggosoro. Bagi masyarakat setempat, momentum Tanggap Warso Enggal (Sambut Tahun Baru Jawa) bukan sekadar pergantian angka di penanggalan, melainkan ruang refleksi diri sekaligus penghormatan mendalam kepada para leluhur.

Tahun ini, kami berkesempatan menemui Pak Kamijan, seorang tokoh adat di Dusun Onggosoro, untuk menggali lebih dalam makna di balik ritual Suran, sejarah perlawanan senyap era kolonial, hingga esensi kosmologi Kejawen.

Tradisi Suran 15: Takir, Bubur Suro, dan Sayur Sembilan Rupa

Bisa diceritakan Pak, apa sebenarnya tujuan utama dari selamatan dan sesaji yang rutin digelar warga setiap tanggal 15 Sura ini?

Pak Kamijan:

"Intinya adalah panyuwunan—sebuah doa dan permohonan keselamatan yang tulus kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini mengikuti aturan adat Jawa yang ditaati oleh seluruh warga, baik laki-laki maupun perempuan, yang secara turun-temurun mengenakan busana adat lurik sebagai simbol kesederhanaan dan ikatan batin.

Dalam tradisi kami, ada perhitungan waktu yang ajeg. Berdasarkan sistem penanggalan Aboge (Alif Rebo Wage) dan Asapon (Alif Selasa Pon), dalam satu windu (8 tahun), hari jatuhnya bulan Sura itu tetap dan tidak berganti. Selamatan ini sendiri diadakan setiap tanggal 15 Sura saat Purnamasidi (bulan purnama). Namun, satu hal yang menjadi pantangan mutlak: ritual ini tidak boleh dilaksanakan pada hari Selasa. Biasanya kami mengacu pada hari Rebo Kliwon atau Kemis Legi."

Kami melihat ada banyak sekali jenis hidangan dan sesaji yang disiapkan. Apa saja maknanya?

Pak Kamijan:

"Semua yang disajikan adalah simbol dari kehidupan dan alam. Pertama, ada Bubur Suro yang disajikan di dalam takir (wadah dari daun pisang yang dibilah dengan lidi). Isinya lengkap: telur, abon, daun kemangi, kacang kedelai, teri, dan kacang tanah goreng. Bubur Suro ini melambangkan seger—sebuah awal baru untuk memulai melangkah dengan rasa lega dan hati yang bersih di tahun yang baru. Ada juga Jenang, yang menjadi simbol dari keberadaan badan atau fisik manusia serta unsur-unsur anasir alam yang membentuk kita.

Lalu ada Kolak yang menggunakan ubi ungu dan pisang. Tak kalah penting adalah Kimpul dan Sayur Gandul 9 rupa. Angka 9 ini sangat sakral. Isinya terdiri dari kacang, pepaya muda, kacang panjang, kecipir, buncis, terong, tauge, serta daun so (melinjo).

Selain itu, kami menyajikan hidangan pelengkap batin seperti rujak dan wedang (minuman). Ada kopi hitam, teh, dan air putih tanpa gula. Ada juga rujak cendol dawet, serta rujak tape degan (kelapa muda) asem. Semua ini adalah bentuk bakti dan sarana menyambung rasa kepada para leluhur melalui Air Panguripan (air kehidupan)."

Tumpeng Robyong dan Filosofi Angka Sembilan

Selain bubur, ada juga Tumpeng Robyong yang terlihat sangat megah dengan berbagai sayuran. Apa makna di baliknya?

Pak Kamijan:

"Tumpeng Robyong itu digandengi dengan 9 jenis gudangan (kuluban/sayur dengan urap kelapa) dan telur Jawa. Ini adalah simbol dari kesuburan alam dan sumber kemakmuran. Gunung tumpeng itu seperti gudang—tempat penyimpanan berkah yang melimpah yang akan kita gunakan di hari-hari mendatang.

Kembali ke angka 9, dalam filosofi Jawa, 9 adalah angka kesempurnaan. Ini melambangkan siklus hidup manusia dari lahir hingga mati. Angka 9 ini juga memetakan sembilan bidang kehidupan manusia, mulai dari urusan pribadi, kemasyarakatan, sosial, ekonomi, politik, kesenian, pengetahuan, ketuhanan, hingga filsafat mistik menuju Tuhan."

Sejarah Onggosoro: Strategi Kebudayaan Melawan Belanda

Dusun Onggosoro tampaknya memiliki kaitan sejarah yang kuat dengan Keraton Yogyakarta. Bisa diceritakan sejarah penyelamatan warga di masa lampau?

Pak Kamijan:

"Benar. Sejarah dusun ini tidak lepas dari masa penjajahan Belanda. Dahulu, ada seorang pangeran atau putra raja bernama Suryodiningrat yang memilih hidup di luar benteng Keraton Yogyakarta. Beliau mengayomi masyarakat, dan tempat ini menjadi basis berkumpulnya para kawula Ngayogyakarta (Pakempalan Kawula).

Aktivitas ini membuat pihak Belanda curiga. Karena dianggap membahayakan posisi kolonial, Belanda memerintahkan agar perkumpulan tersebut dibubarkan. Pangeran Suryodiningrat dan warga tidak kehilangan akal. Agar warga desa tetap selamat dan menyatu, dibuatlah sebuah strategi kebudayaan. Supaya Belanda lega dan tidak curiga, perjuangan itu dibalut dalam bentuk kegiatan tradisi.

Hingga pada tahun 1942, dibentuklah PRJ (Pakempalan Rakyat Jogyakarta). Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, gerakan ini terus bertransformasi. Pada tahun 1951, wadah ini resmi menjadi organisasi Grinda Pancasila Mahayubuana (Gerakan Rakyat Indonesia). Jadi, tradisi yang kita lihat hari ini dulunya adalah tameng budaya untuk mempertahankan keselamatan warga dari cengkeraman penjajah."

Kosmologi Jawa: Sedulur Papat Kalima Pancer dan Jangka Jayabaya

Bagaimana Pak Kamijan melihat esensi spiritualitas Kejawen di era modern saat ini?

Pak Kamijan:

"Menjadi Jawa itu berarti berani menggali sejarah Jawa secara utuh dan menjalankan perjalanan hidup sebagaimana yang telah digariskan oleh para leluhur. Orang Jawa itu hidup lewat sembahyang dan mantra. Warisan leluhur nusantara seperti relief di Candi Borobudur itu sebenarnya sudah merekam seluruh perjalanan dan tatanan kehidupan orang Jawa.

Dalam Kejawen, hidup ini adalah menjalankan apa yang sudah tertulis sebelum kita lahir (Cakramaninggalan). Baik, buruk, salah, atau benar, itu semua penilaian manusia. Namun pada hakikatnya, kita harus kembali pada diri sendiri. Tubuh atau raga kita ini digerakkan oleh unsur anasir alam melalui konsep Kiblat Papat Lima Pancer.

Sedulur Papat adalah empat unsur alam yang ada dalam diri manusia: Air, Tanah, Api, dan Angin. Sedangkan Pancer-nya adalah Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

Saat ini, waktu terus berjalan seperti jarum jam yang menyatu. Kita sudah melewati Abad 20, dan sekarang berada di Abad 21. Jika kita hitung mundur, Jangka Jayabaya telah memprediksi siklus 2.000 tahunan, bahkan siklus zaman 5.000 tahunan akan kembali lagi. Suka atau tidak, alam akan kembali ke keseimbangannya. Jika manusia sudah jatuh tempo tetapi tetap tidak tanggap (peka terhadap tanda-tanda zaman), maka alam sendiri yang akan beraksi melakukan pembersihan (ruwat). Kita tidak akan pernah bisa menghalangi atau mendahului kehendak Tuhan."

Esensi Sastra Jendra dan Harapan di Bulan Sura

Sebagai penutup, apa pesan utama dari ritual penyerahan sesaji dan ruwatan di bulan Sura ini?

Pak Kamijan:

"Sura adalah bulan pertama, awal dari sebuah tahun yang baru. Ini adalah waktu terbaik untuk mengevaluasi 'kitab' atau catatan hidup kita yang kemarin. Kekurangan dan kesalahan masa lalu harus kita mintai maaf, agar perjalanan hidup ke depan bisa berjalan lebih baik.

Jika ada musibah atau marabahaya, ritual selamatan dan sesaji inilah cara kami memohon agar dijauhkan dari petaka. Konsep sesajen orang Jawa itu sejatinya bersumber dari ajaran kuno Mbung Sajen Sarwo Dosok Sastrojendro Ruwat Sukerto. Sesaji bagi orang Jawa bukan hal syirik, melainkan wujud panyuwunan doa visual yang jauh lebih mendalam daripada sekadar lantunan mantra yang diucapkan di bibir. Ini adalah cara kami menghormati bumi yang kami pijak dan Tuhan yang memberi kami hidup."

Tradisi Suran di Dusun Onggosoro tidak hanya mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga warisan kuliner spiritual seperti Bubur Suro atau Tumpeng Robyong, melainkan juga mengingatkan kembali akan taktik tangguh para leluhur dalam menjaga kemerdekaan lewat diplomasi budaya. Rahayu.

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar