Ruwat Rawat Borobudur: Memberi Daya Dukung atau Memanfaatkan? - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Minggu, 05 Juli 2026

Ruwat Rawat Borobudur: Memberi Daya Dukung atau Memanfaatkan?

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur- Magelang 5 Juli 2026 : Di kawasan Borobudur tumbuh berbagai komunitas, kelompok masyarakat, lembaga, serta beragam program yang mengatasnamakan pelestarian budaya. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Borobudur masih memiliki daya tarik yang kuat, baik sebagai warisan budaya, destinasi wisata, ruang ekspresi seni, maupun sumber penghidupan masyarakat.

Namun jika dicermati lebih dalam, setiap kelompok memiliki orientasi yang berbeda.

Sebagian kelompok memandang Borobudur sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan positif, seperti penyelenggaraan festival, pertunjukan seni, pengembangan ekonomi kreatif, promosi pariwisata, penelitian, hingga kegiatan-kegiatan yang menggunakan nama dan citra Borobudur sebagai bagian dari programnya, termasuk yang bertajuk Rupiah Borobudur. Aktivitas tersebut tentu memiliki manfaat dan kontribusi tersendiri bagi kawasan Borobudur.

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur menempatkan dirinya pada posisi yang sedikit berbeda. Sejak awal, gerakan ini lebih menaruh perhatian pada upaya memberi daya dukung terhadap kelestarian Borobudur. Fokusnya bukan pada apa yang dapat diperoleh dari Borobudur, melainkan pada apa yang dapat diberikan untuk keberlanjutan Borobudur.

Karena itu, isu yang diangkat tidak hanya berkaitan dengan pelestarian fisik, tetapi juga pewarisan nilai, penguatan kesadaran masyarakat, pembangunan rasa memiliki, serta upaya mengembalikan Borobudur sebagai monumen hidup yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat di sekitarnya.

Pasca pandemi COVID-19, ketika berbagai aktivitas di Borobudur mengalami perubahan, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur memilih memperkuat perannya sebagai ruang berbagi pengetahuan dan dokumentasi. Berbagai perkembangan pengelolaan Borobudur dicatat, didiskusikan, dan disebarluaskan melalui penerbitan buku, webinar, diskusi publik, wawancara, serta berbagai pertemuan lintas komunitas. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun ingatan kolektif dan” mengkritisi “agar generasi mendatang dapat memahami perjalanan, tantangan, dan dinamika pengelolaan Borobudur dari waktu ke waktu.

Perbedaan ini penting untuk dipahami. Memanfaatkan warisan budaya tidak selalu sama dengan memberi daya dukung terhadap kelestariannya. Sebuah kegiatan dapat berlangsung meriah, menarik banyak pengunjung, dan menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi belum tentu memperkuat kesadaran pewarisan. Sebaliknya, upaya membangun kesadaran masyarakat sering kali tidak terlihat ramai, tidak menghasilkan keuntungan langsung, namun justru menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan warisan budaya dalam jangka panjang.

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur lahir dari keyakinan bahwa Borobudur tidak cukup hanya dirawat sebagai bangunan batu. Yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa nilai, pengetahuan, dan kesadaran tentang Borobudur terus hidup di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, kelestarian Borobudur tidak hanya ditentukan oleh kuatnya batu-batu candi, tetapi juga oleh kuatnya kesadaran para pewarisnya.

Bagi Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, pertanyaan yang paling penting bukanlah apa yang bisa diperoleh dari Borobudur, melainkan siapa yang akan mewarisi Borobudur di masa depan. Dari pertanyaan inilah lahir berbagai upaya untuk menjaga pengetahuan, memperkuat kesadaran, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Borobudur.

Dalam perspektif inilah Gerakan Ruwat Rawat Borobudur memilih berjalan. Bukan untuk memanfaatkan Borobudur, melainkan untuk memperkuat daya dukung bagi keberlanjutan dan pewarisan Borobudur kepada generasi yang akan datang. Sebab Borobudur mungkin berhasil dipugar, tetapi pewarisannya belum tentu berhasil apabila kesadaran untuk mewariskannya tidak terus dibangun sejak hari ini.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar