BOROBUDUR KIAN SEPI, RUWAT RAWAT TETAP PEDULI: SIAPA MENGHARGAI PARTISIPASI MASYARAKAT? - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Selasa, 13 Oktober 2026

BOROBUDUR KIAN SEPI, RUWAT RAWAT TETAP PEDULI: SIAPA MENGHARGAI PARTISIPASI MASYARAKAT?

Oleh: Sucoro Setrodiharjo

BOROBUDUR, MAGELANG — Ada yang perlu direnungkan dari perkembangan pariwisata Borobudur belakangan ini. Ketika jumlah pengunjung menjadi salah satu ukuran keberhasilan pengelolaan, keresahan masyarakat di sekitar candi justru terus mengemuka. Pedagang, seniman, dan pelaku usaha kecil merasakan dampak ketika kunjungan wisatawan tidak seramai yang diharapkan.

Di tengah situasi tersebut, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur tetap berjalan. Selama hampir 24 tahun, gerakan yang tumbuh dari kesadaran masyarakat ini terus merawat hubungan antara Borobudur, kebudayaan, spiritualitas leluhur, dan kehidupan warga di sekitarnya.

Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah partisipasi masyarakat dalam merawat Borobudur hanya dihargai ketika terikat dalam kerja sama resmi dengan pengelola?

Pengunjung Menurun, Persoalan Masyarakat Belum Selesai

Data kunjungan selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 yang tercantum dalam catatan ini menunjukkan, Candi Prambanan menerima 174.798 pengunjung, sedangkan Borobudur 96.092 pengunjung. Perbedaan angka tersebut patut menjadi bahan evaluasi bersama.

Persoalannya tentu tidak sesederhana membandingkan jumlah pengunjung. Borobudur memiliki karakter, aturan pelestarian, dan sistem kunjungan tersendiri. Pembatasan akses, kuota, serta pemesanan daring dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan candi. Namun, kebijakan tersebut juga perlu dievaluasi dari sisi pengalaman pengunjung dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Sebab, keberhasilan pengelolaan Borobudur semestinya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, pendapatan, atau berbagai fasilitas yang dibangun. Ada kehidupan masyarakat yang ikut menentukan apakah Borobudur tetap memiliki hubungan bermakna dengan lingkungan sosial dan kebudayaannya.

Ketika wisatawan datang, naik ke candi, berfoto, lalu pulang, sementara pedagang dan pelaku budaya merasa semakin jauh dari manfaat kunjungan, keadaan ini layak menjadi bahan perenungan.

Borobudur boleh semakin tertata sebagai kawasan, tetapi jangan sampai masyarakatnya semakin kehilangan tempat sebagai bagian dari kehidupan Borobudur.

Ruwat Rawat Borobudur: Berpartisipasi Tanpa Menunggu Kerja Sama

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur lahir pada 2003 dari kesadaran bahwa Borobudur bukan semata-mata bangunan bersejarah atau tujuan wisata. Borobudur juga merupakan ruang kehidupan, sumber pengetahuan, dan warisan nilai yang perlu dirawat bersama.

Selama perjalanan tersebut, Ruwat Rawat Borobudur bertahan melalui swadaya, patungan, penjualan buku, jejaring persaudaraan, dan kesediaan para pelestari untuk terus bergerak.

Gerakan ini tidak bertumpu pada anggaran besar ataupun ikatan kerja sama formal dengan pengelola. Namun, ketiadaan ikatan tersebut tidak berarti ketiadaan kontribusi.

Partisipasinya diwujudkan melalui kegiatan budaya, pertemuan masyarakat, doa dan ungkapan syukur, diskusi, penulisan, serta berbagai upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian Borobudur.

Ruwat Rawat berusaha mengingatkan bahwa pelestarian tidak berhenti pada perlindungan batu dan bangunan. Pelestarian juga menyangkut hubungan batin manusia dengan warisan leluhurnya, keberlanjutan kebudayaan, dan nasib masyarakat yang hidup berdampingan dengan Borobudur.

Bagi gerakan ini, merawat tidak selalu berarti memperoleh bagian dari kegiatan ekonomi. Merawat juga berarti memberi daya dukung, menjaga ingatan, menghidupkan nilai, dan memastikan bahwa warisan tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dalam perkembangan pengelolaan Borobudur, terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang menjalin kerja sama dengan pengelola, termasuk BUMDesma yang terlibat dalam pengelolaan sandal khusus pengunjung, Upanat.

Kerja sama semacam itu memiliki ruang dan fungsi tersendiri dalam mendukung kegiatan pengelolaan maupun membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kemitraan formal tentu dapat menjadi instrumen penting untuk mengatur tanggung jawab, pembagian peran, dan keberlanjutan usaha.

Namun, persoalannya muncul ketika keberadaan kerja sama formal seolah-olah menjadi ukuran utama untuk menilai partisipasi masyarakat.

Apakah masyarakat yang bekerja melalui kemitraan usaha lebih layak disebut berpartisipasi daripada masyarakat yang bergerak secara mandiri dalam kegiatan budaya dan pelestarian?

Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan BUMDesma dengan Ruwat Rawat Borobudur. Keduanya memiliki bentuk kegiatan dan orientasi yang berbeda. Kerja sama ekonomi memiliki kebutuhan dan mekanisme tersendiri, sementara gerakan budaya berbasis swadaya bekerja melalui kesadaran, ketulusan, dan keberlanjutan partisipasi.

Yang perlu diperjuangkan adalah pengakuan bahwa partisipasi masyarakat memiliki banyak bentuk, dan tidak semuanya harus berwujud kerja sama usaha atau kontrak formal.

Ruwat Rawat Borobudur tidak meminta agar kelompok lain dikesampingkan. Gerakan ini justru mengajak semua pihak melihat kembali apakah ruang partisipasi telah tersedia secara adil bagi berbagai unsur masyarakat, termasuk mereka yang tidak berada dalam skema kemitraan resmi.

Sebab, kepedulian terhadap kelestarian dan nasib masyarakat tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan besarnya anggaran, nilai kerja sama, atau posisi sebuah kelompok dalam struktur pengelolaan.

Yang Dikhawatirkan Bukan Sekadar Sepinya Pengunjung

Sepinya kunjungan wisatawan merupakan persoalan penting. Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah mendasar: semakin jauhnya hubungan antara Borobudur dan masyarakat yang selama ini hidup bersama warisan tersebut.

Borobudur telah lama dipetakan sebagai kawasan. Tata ruang, zona perlindungan, akses kunjungan, fasilitas, dan berbagai kegiatan ekonomi terus dikembangkan. Namun, sudahkah masyarakat Borobudur dipetakan secara utuh sebagai subjek pewarisan?

Masyarakat bukan hanya tenaga kerja, pedagang, penyedia jasa, atau penerima manfaat program. Di dalamnya terdapat seniman, pelaku tradisi, penjaga ingatan, tokoh spiritual, penutur sejarah lokal, serta keluarga-keluarga yang mewarisi hubungan kebudayaan dengan Borobudur.

Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tidak seluruhnya dapat digantikan oleh program pembangunan ataupun mekanisme kerja sama usaha.

Jika suara mereka semakin jarang didengar, yang hilang bukan hanya peluang ekonomi. Ada kemungkinan terputusnya hubungan pengetahuan, ingatan, dan nilai-nilai yang membuat Borobudur tetap hidup dalam kebudayaan masyarakatnya.

Di sinilah Ruwat Rawat Borobudur berusaha mengambil peran. Bukan untuk bersaing memperebutkan ruang pengelolaan, melainkan untuk menjaga agar dimensi sosial, budaya, dan spiritual tidak tersisih oleh orientasi ekonomi semata.

Merawat dengan Hati, Mewariskan dengan Kesadaran

Selama hampir 24 tahun, Ruwat Rawat Borobudur berusaha mempertahankan keyakinan bahwa warisan budaya tidak akan cukup dilestarikan melalui pemugaran fisik dan penataan kawasan. Ia membutuhkan masyarakat yang memahami, merasakan, dan bersedia meneruskan nilai-nilainya.

Kegiatan budaya yang dilakukan secara sukarela mungkin tidak selalu terlihat dalam angka-angka laporan. Tidak semua menghasilkan pendapatan langsung, dan tidak semuanya berlangsung melalui program resmi. Namun, hal itu tidak menjadikannya tanpa arti.

Justru di tengah perbandingan antarkelompok dan perbedaan akses terhadap kerja sama, penting bagi pengelola dan pemerintah untuk membuka ruang dialog yang setara. Berbagai bentuk kontribusi masyarakat perlu dikenali berdasarkan peran dan manfaatnya, bukan semata-mata berdasarkan ada atau tidaknya ikatan formal.

Ruwat Rawat Borobudur juga menyadari bahwa pelestarian membutuhkan kerja bersama. Karena itu, gerakan ini tidak menutup pintu terhadap kerja sama. Yang diperjuangkan adalah agar kerja sama tidak menjadi satu-satunya jalan bagi masyarakat untuk diakui sebagai bagian dari pelestarian.

Borobudur tidak hanya membutuhkan pengunjung yang datang, tetapi juga masyarakat yang merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat dan mewariskannya.

Ketika kunjungan wisatawan sedang tidak seramai yang diharapkan, kepedulian terhadap Borobudur dan masyarakatnya justru tidak boleh ikut surut.

Ruwat Rawat Borobudur akan terus berjalan sesuai jalan yang diyakininya: merawat dengan hati, mencatat pengalaman, membangun kesadaran kolektif, dan memperjuangkan pewarisan nilai.

Sebab, ukuran keberhasilan pelestarian Borobudur pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak orang datang mengunjunginya, melainkan juga seberapa kuat masyarakatnya tetap terhubung dengan warisan itu, dan seberapa besar kesempatan yang tersedia bagi mereka untuk meneruskan nilai-nilainya kepada generasi mendatang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar