Oleh: Sucoro Setrodiharjo
BOROBUDUR, MAGELANG
— Ada yang perlu direnungkan dari perkembangan pariwisata Borobudur belakangan
ini. Ketika jumlah pengunjung menjadi salah satu ukuran keberhasilan
pengelolaan, keresahan masyarakat di sekitar candi justru terus mengemuka.
Pedagang, seniman, dan pelaku usaha kecil merasakan dampak ketika kunjungan
wisatawan tidak seramai yang diharapkan.
Di tengah situasi tersebut,
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur tetap berjalan. Selama hampir 24 tahun, gerakan
yang tumbuh dari kesadaran masyarakat ini terus merawat hubungan antara
Borobudur, kebudayaan, spiritualitas leluhur, dan kehidupan warga di
sekitarnya.
Namun, muncul pertanyaan
mendasar: apakah partisipasi masyarakat dalam merawat Borobudur hanya
dihargai ketika terikat dalam kerja sama resmi dengan pengelola?
Pengunjung Menurun, Persoalan
Masyarakat Belum Selesai
Data kunjungan selama libur
Natal dan Tahun Baru 2025/2026 yang tercantum dalam catatan ini menunjukkan,
Candi Prambanan menerima 174.798 pengunjung, sedangkan Borobudur 96.092
pengunjung. Perbedaan angka tersebut patut menjadi bahan evaluasi bersama.
Persoalannya tentu tidak
sesederhana membandingkan jumlah pengunjung. Borobudur memiliki karakter,
aturan pelestarian, dan sistem kunjungan tersendiri. Pembatasan akses, kuota,
serta pemesanan daring dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan candi.
Namun, kebijakan tersebut juga perlu dievaluasi dari sisi pengalaman pengunjung
dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Sebab, keberhasilan pengelolaan
Borobudur semestinya tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, pendapatan, atau
berbagai fasilitas yang dibangun. Ada kehidupan masyarakat yang ikut menentukan
apakah Borobudur tetap memiliki hubungan bermakna dengan lingkungan sosial dan
kebudayaannya.
Ketika wisatawan datang, naik ke
candi, berfoto, lalu pulang, sementara pedagang dan pelaku budaya merasa
semakin jauh dari manfaat kunjungan, keadaan ini layak menjadi bahan
perenungan.
Borobudur boleh semakin
tertata sebagai kawasan, tetapi jangan sampai masyarakatnya semakin kehilangan
tempat sebagai bagian dari kehidupan Borobudur.
Ruwat Rawat Borobudur:
Berpartisipasi Tanpa Menunggu Kerja Sama
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur
lahir pada 2003 dari kesadaran bahwa Borobudur bukan semata-mata bangunan
bersejarah atau tujuan wisata. Borobudur juga merupakan ruang kehidupan, sumber
pengetahuan, dan warisan nilai yang perlu dirawat bersama.
Selama perjalanan tersebut,
Ruwat Rawat Borobudur bertahan melalui swadaya, patungan, penjualan buku,
jejaring persaudaraan, dan kesediaan para pelestari untuk terus bergerak.
Gerakan ini tidak bertumpu pada
anggaran besar ataupun ikatan kerja sama formal dengan pengelola. Namun,
ketiadaan ikatan tersebut tidak berarti ketiadaan kontribusi.
Partisipasinya diwujudkan
melalui kegiatan budaya, pertemuan masyarakat, doa dan ungkapan syukur, diskusi,
penulisan, serta berbagai upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya
pelestarian Borobudur.
Ruwat Rawat berusaha
mengingatkan bahwa pelestarian tidak berhenti pada perlindungan batu dan
bangunan. Pelestarian juga menyangkut hubungan batin manusia dengan warisan
leluhurnya, keberlanjutan kebudayaan, dan nasib masyarakat yang hidup
berdampingan dengan Borobudur.
Bagi gerakan ini, merawat tidak
selalu berarti memperoleh bagian dari kegiatan ekonomi. Merawat juga berarti
memberi daya dukung, menjaga ingatan, menghidupkan nilai, dan memastikan bahwa
warisan tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dalam perkembangan pengelolaan
Borobudur, terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang menjalin kerja sama
dengan pengelola, termasuk BUMDesma yang terlibat dalam pengelolaan sandal
khusus pengunjung, Upanat.
Kerja sama semacam itu memiliki
ruang dan fungsi tersendiri dalam mendukung kegiatan pengelolaan maupun membuka
peluang ekonomi bagi masyarakat. Kemitraan formal tentu dapat menjadi instrumen
penting untuk mengatur tanggung jawab, pembagian peran, dan keberlanjutan
usaha.
Namun, persoalannya muncul
ketika keberadaan kerja sama formal seolah-olah menjadi ukuran utama untuk
menilai partisipasi masyarakat.
Apakah masyarakat yang bekerja
melalui kemitraan usaha lebih layak disebut berpartisipasi daripada masyarakat
yang bergerak secara mandiri dalam kegiatan budaya dan pelestarian?
Pertanyaan ini bukan untuk
mempertentangkan BUMDesma dengan Ruwat Rawat Borobudur. Keduanya memiliki
bentuk kegiatan dan orientasi yang berbeda. Kerja sama ekonomi memiliki
kebutuhan dan mekanisme tersendiri, sementara gerakan budaya berbasis swadaya
bekerja melalui kesadaran, ketulusan, dan keberlanjutan partisipasi.
Yang perlu diperjuangkan adalah
pengakuan bahwa partisipasi masyarakat memiliki banyak bentuk, dan
tidak semuanya harus berwujud kerja sama usaha atau kontrak formal.
Ruwat Rawat Borobudur tidak
meminta agar kelompok lain dikesampingkan. Gerakan ini justru mengajak semua
pihak melihat kembali apakah ruang partisipasi telah tersedia secara adil bagi
berbagai unsur masyarakat, termasuk mereka yang tidak berada dalam skema
kemitraan resmi.
Sebab, kepedulian terhadap
kelestarian dan nasib masyarakat tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan
besarnya anggaran, nilai kerja sama, atau posisi sebuah kelompok dalam struktur
pengelolaan.
Yang Dikhawatirkan Bukan
Sekadar Sepinya Pengunjung
Sepinya kunjungan wisatawan
merupakan persoalan penting. Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah
mendasar: semakin jauhnya hubungan antara Borobudur dan masyarakat yang selama
ini hidup bersama warisan tersebut.
Borobudur telah lama dipetakan
sebagai kawasan. Tata ruang, zona perlindungan, akses kunjungan, fasilitas, dan
berbagai kegiatan ekonomi terus dikembangkan. Namun, sudahkah masyarakat
Borobudur dipetakan secara utuh sebagai subjek pewarisan?
Masyarakat bukan hanya tenaga
kerja, pedagang, penyedia jasa, atau penerima manfaat program. Di dalamnya
terdapat seniman, pelaku tradisi, penjaga ingatan, tokoh spiritual, penutur
sejarah lokal, serta keluarga-keluarga yang mewarisi hubungan kebudayaan dengan
Borobudur.
Mereka memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang tidak seluruhnya dapat digantikan oleh program pembangunan
ataupun mekanisme kerja sama usaha.
Jika suara mereka semakin jarang
didengar, yang hilang bukan hanya peluang ekonomi. Ada kemungkinan terputusnya
hubungan pengetahuan, ingatan, dan nilai-nilai yang membuat Borobudur tetap
hidup dalam kebudayaan masyarakatnya.
Di sinilah Ruwat Rawat Borobudur
berusaha mengambil peran. Bukan untuk bersaing memperebutkan ruang pengelolaan,
melainkan untuk menjaga agar dimensi sosial, budaya, dan spiritual tidak
tersisih oleh orientasi ekonomi semata.
Merawat dengan Hati, Mewariskan
dengan Kesadaran
Selama hampir 24 tahun, Ruwat
Rawat Borobudur berusaha mempertahankan keyakinan bahwa warisan budaya tidak
akan cukup dilestarikan melalui pemugaran fisik dan penataan kawasan. Ia
membutuhkan masyarakat yang memahami, merasakan, dan bersedia meneruskan
nilai-nilainya.
Kegiatan budaya yang dilakukan
secara sukarela mungkin tidak selalu terlihat dalam angka-angka laporan. Tidak
semua menghasilkan pendapatan langsung, dan tidak semuanya berlangsung melalui
program resmi. Namun, hal itu tidak menjadikannya tanpa arti.
Justru di tengah perbandingan
antarkelompok dan perbedaan akses terhadap kerja sama, penting bagi pengelola
dan pemerintah untuk membuka ruang dialog yang setara. Berbagai bentuk
kontribusi masyarakat perlu dikenali berdasarkan peran dan manfaatnya, bukan
semata-mata berdasarkan ada atau tidaknya ikatan formal.
Ruwat Rawat Borobudur juga
menyadari bahwa pelestarian membutuhkan kerja bersama. Karena itu, gerakan ini
tidak menutup pintu terhadap kerja sama. Yang diperjuangkan adalah agar kerja
sama tidak menjadi satu-satunya jalan bagi masyarakat untuk diakui sebagai
bagian dari pelestarian.
Borobudur tidak hanya
membutuhkan pengunjung yang datang, tetapi juga masyarakat yang merasa memiliki
tanggung jawab untuk merawat dan mewariskannya.
Ketika kunjungan wisatawan
sedang tidak seramai yang diharapkan, kepedulian terhadap Borobudur dan
masyarakatnya justru tidak boleh ikut surut.
Ruwat Rawat Borobudur akan terus
berjalan sesuai jalan yang diyakininya: merawat dengan hati, mencatat
pengalaman, membangun kesadaran kolektif, dan memperjuangkan pewarisan nilai.
Sebab, ukuran keberhasilan
pelestarian Borobudur pada akhirnya bukan hanya seberapa banyak orang datang
mengunjunginya, melainkan juga seberapa kuat masyarakatnya tetap
terhubung dengan warisan itu, dan seberapa besar kesempatan yang tersedia bagi
mereka untuk meneruskan nilai-nilainya kepada generasi mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar