Borobudur Mandala yang Terluka Filosofi Mandala Perjalanan Menuju Pusat

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur

Secara hakikat, Borobudur bukan sekadar tumpukan batu andesit yang disusun secara mekanis. Ia adalah sebuah Mandala peta kosmik yang merepresentasikan alam semesta sekaligus perjalanan jiwa manusia. Bagi mereka yang memahami maknanya, menaiki tangga-tangga Borobudur adalah sebuah laku spiritual Pradaksina, sebuah gerak melingkar searah jarum jam untuk bermuara pada satu titik: Pencerahan dan Kedamaian Batin.

Struktur Kamadhatu (dunia keinginan), Rupadhatu (dunia rupa), hingga Arupadhatu (dunia tanpa rupa) adalah simbolisasi dari proses pelepasan ego. Borobudur seharusnya menjadi ruang di mana manusia "mengecilkan" diri di hadapan keagungan semesta, menemukan keheningan di tengah kebisingan duniawi, dan menyerap energi kedamaian yang terpancar dari ribuan reliefnya

Namun, saat kita menapakkan kaki di sana hari ini, esensi "Mandala" tersebut terasa kian memudar, berganti menjadi wajah industri yang kaku. Pasca-pemulihan besar empat dekade lalu, Borobudur perlahan mengalami desakralisasi. Ia tidak lagi dipandang sebagai pusat energi spiritual, melainkan sebagai aset yang harus menghasilkan angka.

Paradoks dimulai di sini:

  1. Wisata Massal vs. Kesakralan: Keheningan yang menjadi syarat pencerahan kini tenggelam dalam riuhnya pariwisata massal. Borobudur dipaksa menampung ribuan langkah kaki setiap harinya, menjadikannya lebih mirip "panggung pertunjukan" daripada tempat perenungan.
  2. Statistik vs. Nilai: Kesuksesan pengelolaan Borobudur sering kali hanya diukur melalui grafik pertumbuhan kunjungan dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Ketika angka menjadi panglima, maka "Ruh" Borobudur sebagai ruang sakral otomatis terpinggirkan.

Mandala yang Terluka

Borobudur kini adalah sebuah Mandala yang Terluka. Luka itu tidak tampak pada retakan batu-batunya yang telah diperkuat oleh teknologi konservasi modern, melainkan pada putusnya hubungan emosional dan spiritual antara situs ini dengan manusia di sekelilingnya.

Alih-alih menjadi pusat kedamaian, Borobudur justru menjadi magnet kegaduhan publik. Ruang yang seharusnya memancarkan harmoni ini kini menjadi medan tempur kepentingan: antara konservasi vs. eksploitasi, antara korporasi vs. masyarakat lokal, dan antara kesucian vs. komodifikasi.

Transformasi Borobudur menjadi komoditas ekonomi semata telah menciptakan jurang sosiologis yang dalam. Ketika Candi hanya dilihat sebagai "objek wisata berkelas dunia", masyarakat lokal yang selama berabad-abad menjadi penjaga tradisi perlahan mulai merasa asing di rumah sendiri. Mereka melihat Borobudur megah berdiri, namun mereka tidak lagi merasakan denyut "kehidupan" di dalamnya. Mereka hanya melihat mesin ekonomi yang berputar cepat, namun sering kali melindas kearifan lokal yang lambat namun mendalam.

Menggali Endapan 40 Tahun

Luka ini telah mengendap selama 40 tahun. Selama empat dekade, kita terjebak dalam pola pikir bahwa "merawat Borobudur" hanyalah soal merawat fisik batunya. Kita lupa bahwa Borobudur adalah organisme hidup yang memerlukan ekosistem sosial yang sehat agar tetap bisa memancarkan kedamaian.

Bab ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kegaduhan yang kita saksikan hari ini protes pedagang, fragmentasi sosial, hingga protes para pemangku kepentingan bukanlah kejadian instan. Ini adalah jeritan dari sebuah Mandala yang sedang merintih karena kehilangan hakikatnya. Kita sedang membedah luka lama yang tertimbun di bawah kemegahan, demi menemukan kembali jalan pulang menuju Borobudur yang sesungguhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default