Redaksi Blog Ruwat Rawat Borobudur
Secara hakikat, Borobudur bukan sekadar tumpukan
batu andesit yang disusun secara mekanis. Ia adalah sebuah Mandala peta
kosmik yang merepresentasikan alam semesta sekaligus perjalanan jiwa manusia.
Bagi mereka yang memahami maknanya, menaiki tangga-tangga Borobudur adalah
sebuah laku spiritual Pradaksina, sebuah gerak melingkar searah jarum
jam untuk bermuara pada satu titik: Pencerahan dan Kedamaian Batin.
Struktur Kamadhatu (dunia keinginan), Rupadhatu
(dunia rupa), hingga Arupadhatu (dunia tanpa rupa) adalah simbolisasi
dari proses pelepasan ego. Borobudur seharusnya menjadi ruang di mana manusia
"mengecilkan" diri di hadapan keagungan semesta, menemukan keheningan
di tengah kebisingan duniawi, dan menyerap energi kedamaian yang terpancar dari
ribuan reliefnya
Namun, saat kita menapakkan kaki di sana hari ini,
esensi "Mandala" tersebut terasa kian memudar, berganti menjadi wajah
industri yang kaku. Pasca-pemulihan besar empat dekade lalu, Borobudur perlahan
mengalami desakralisasi. Ia tidak lagi dipandang sebagai pusat energi
spiritual, melainkan sebagai aset yang harus menghasilkan angka.
Paradoks dimulai di sini:
- Wisata Massal vs. Kesakralan:
Keheningan yang menjadi syarat pencerahan kini tenggelam dalam riuhnya
pariwisata massal. Borobudur dipaksa menampung ribuan langkah kaki setiap
harinya, menjadikannya lebih mirip "panggung pertunjukan"
daripada tempat perenungan.
- Statistik vs. Nilai:
Kesuksesan pengelolaan Borobudur sering kali hanya diukur melalui grafik
pertumbuhan kunjungan dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Ketika
angka menjadi panglima, maka "Ruh" Borobudur sebagai
ruang sakral otomatis terpinggirkan.
Mandala
yang Terluka
Borobudur kini adalah sebuah Mandala yang
Terluka. Luka itu tidak tampak pada retakan batu-batunya yang telah
diperkuat oleh teknologi konservasi modern, melainkan pada putusnya hubungan
emosional dan spiritual antara situs ini dengan manusia di sekelilingnya.
Alih-alih menjadi pusat kedamaian, Borobudur justru
menjadi magnet kegaduhan publik. Ruang yang seharusnya memancarkan harmoni ini
kini menjadi medan tempur kepentingan: antara konservasi vs. eksploitasi,
antara korporasi vs. masyarakat lokal, dan antara kesucian vs. komodifikasi.
Transformasi Borobudur menjadi komoditas ekonomi
semata telah menciptakan jurang sosiologis yang dalam. Ketika Candi hanya
dilihat sebagai "objek wisata berkelas dunia", masyarakat lokal yang
selama berabad-abad menjadi penjaga tradisi perlahan mulai merasa asing di
rumah sendiri. Mereka melihat Borobudur megah berdiri, namun mereka tidak lagi
merasakan denyut "kehidupan" di dalamnya. Mereka hanya melihat
mesin ekonomi yang berputar cepat, namun sering kali melindas kearifan lokal
yang lambat namun mendalam.
Menggali
Endapan 40 Tahun
Luka ini telah mengendap selama 40 tahun. Selama
empat dekade, kita terjebak dalam pola pikir bahwa "merawat Borobudur"
hanyalah soal merawat fisik batunya. Kita lupa bahwa Borobudur adalah organisme
hidup yang memerlukan ekosistem sosial yang sehat agar tetap bisa memancarkan
kedamaian.
Bab ini mengajak kita untuk menyadari bahwa
kegaduhan yang kita saksikan hari ini protes pedagang, fragmentasi sosial,
hingga protes para pemangku kepentingan bukanlah kejadian instan. Ini adalah
jeritan dari sebuah Mandala yang sedang merintih karena kehilangan hakikatnya.
Kita sedang membedah luka lama yang tertimbun di bawah kemegahan, demi
menemukan kembali jalan pulang menuju Borobudur yang sesungguhnya.
