Urip Iku Urup , 20 Tahun Cahaya Ruwat Rawat Borobudur Menyinari Peradaban

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh Sucoro Setrodiharjo

Urip Iku Urup—hidup adalah nyala. Filosofi Jawa ini nampaknya menjadi fondasi sekaligus napas bagi eksistensi Ruwat Rawat Borobudur (RRB). Selama dua dekade, gerakan ini konsisten menebarkan kebaikan sebagai penerang bagi nilai-nilai luhur yang lambat laun mulai meredup di tengah arus zaman.

Ibarat lampu petromaks, Ruwat Rawat Borobudur terus berupaya menerangi sekitarnya meski sering kali menghadapi keterbatasan "bahan bakar". Bahkan, tak jarang ide dan gagasan orisinalnya ditiru atau diambil alih tanpa memahami esensi terdalam di baliknya. Namun, cahaya itu tak pernah padam. RRB terus menyebarkan seberkas cahaya demi tegaknya sebuah "Nilai"—nilai spiritualitas, kebermaknaan, dan kebermanfaatan bagi kehidupan semesta, khususnya di wilayah Magelang Raya.

Borobudur: Bukan Sekadar Batu, Tapi Ruh Kehidupan

Bagi Ruwat Rawat Borobudur, candi agung ini tidak boleh dipandang sebagai sekadar tumpukan batu dan lumut demi kepentingan pariwisata semata. Borobudur adalah warisan yang sarat akan nilai spiritualitas yang mendalam.

Batu-batu yang ditemukan berserakan berabad-abad lalu itu menyimpan pesan moral yang universal: tentang cinta kasih, tanggung jawab, kesetiaan, kerja keras, hingga rasa malu untuk berbuat buruk. "Borobudur kaya akan nilai spiritual universal yang ada pada semua agama," demikian keyakinan RRB. Relief-relief di dinding candi adalah cermin komunikasi manusia dengan Tuhan yang terekspresikan dalam karakter masyarakat yang guyup, rukun, dan nrimo ing pandum (bersyukur atas ketetapan Sang Pencipta).

Dari Tontonan Menjadi Tuntunan

RRB bermimpi agar setiap pengunjung yang datang tidak hanya sekadar mengagumi kemegahan bangunan untuk "berselfie ria", tetapi pulang membawa "tuntunan". Candi harus mampu memperkaya moral spiritual pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

Salah satu wujud nyata komitmen ini adalah penyelenggaraan Festival Kesenian Tradisional Rakyat. Agenda rutin ini menjadi wadah bagi kesenian pedesaan di kawasan Borobudur, Magelang, hingga DIY untuk unjuk gigi. Kesenian rakyat yang awalnya hanya hiburan pelepas lelah petani setelah membajak sawah, diberikan sentuhan bimbingan oleh RRB. Masyarakat diarahkan untuk memahami kriteria Wiroso, Wiromo, Wirogo, dan Wirupo, sehingga kesenian desa mereka mampu tampil maksimal di panggung festival.

Sinergi dan Kemandirian Desa

Perjalanan 20 tahun RRB juga diwarnai dengan sinergi bersama pemerintah, meski sering kali RRB ditinggalkan setelah ide-idenya mulai berjalan. Namun, fokus utama RRB tetap pada pemberdayaan masyarakat dusun dan desa melalui prinsip "Dari, Oleh, dan Untuk Desa".

Salah satu contoh nyata adalah lahirnya Pasar Tiban Nerangan di Dusun Nerangan, Desa Mangunrejo. Melalui diskusi intensif, RRB membantu masyarakat menggali potensi alam pegunungan Sumbing yang indah. Di Pasar Tiban ini, warga berjualan makanan tradisional khas berbahan singkong dan sagu dengan pakaian Jawa di stand bambu yang ikonik. Dampaknya luar biasa; muncul inisiatif warga untuk mengelola potensi Kali Tangsi dan "Ikan Dewa" menjadi objek wisata alam yang mandiri.

Harapan untuk Sebuah Sinergi

Selama dua dekade, Ruwat Rawat Borobudur telah membuktikan bahwa cinta tanah air dimulai dengan membumikan nilai spiritualitas di tingkat akar rumput. Borobudur, yang berdiri teguh di tengah lima gunung, harus menjadi poros yang menggerakkan kemajuan desa-desa di sekelilingnya.

Hanya ada satu kata kunci untuk masa depan: SINERGI. Sebagai inisiatif masyarakat yang memiliki cita-cita luhur, Ruwat Rawat Borobudur membutuhkan dukungan nyata—baik moral maupun materiil—dari pemerintah. Kolaborasi yang setara dan jujur adalah kunci agar Nilai Spiritualitas dan Pemajuan Kebudayaan tetap menjadi jati diri bangsa yang menyejahterakan rakyatnya.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default