DARI LUAR PAGAR TAMAN BOROBUDUR

Ruwat Rawat Borobudur
0

 


Menyingkap Sejarah yang Terpinggirkan, Menjaga Marwah yang Terlupakan

Bagian I: Perlawanan Terhadap Desakralisasi (Prolog)

Bagi peneliti seperti Riwanto Tirtosudarmo, mengenal Sucoro adalah kunci untuk memahami "apa-apa yang hidup di seputar Borobudur". Sucoro bukan sekadar pengamat; ia adalah bagian organik dari candi itu sendiri. Lahir pada tahun 1952, rumah orang tuanya dahulu berdiri tepat di bawah pohon beringin yang kini menjadi pintu masuk utama di dalam "pagar dalam" kawasan candi. Kedekatan fisik ini membentuk ikatan batin yang tak terputus dengan apa yang masyarakat lokal sebut sebagai "Mbah Budur".

Namun, perjalanan sejarah membawa luka. Proses pemugaran besar-besaran yang dilakukan negara secara perlahan melakukan desakralisasi. Borobudur yang semula merupakan pusat kehidupan spiritual warga, perlahan "dimuseumkan" dan dipagari besi. Masyarakat yang semula menjadi bagian dari napas candi, tiba-tiba dipisahkan, bahkan harus membeli tiket untuk sekadar menjumpai warisan leluhurnya sendiri. Di sinilah Sucoro berdiri sebagai sosok kritis—seorang cultural broker yang mampu "keluar masuk" pagar, melakukan resistensi terhadap pengambilalihan kedaulatan budaya rakyat oleh kepentingan negara dan industri pariwisata.

Bagian II: Nama adalah Doa dan Cara (Otobiografi)

Nama Sucoro bukanlah pemberian sembarangan. Sang ayah, Setrowikromo, melalui laku tirakat dan puasa, memberikan nama yang bermakna "Cara yang Baik" atau "Rekayasa untuk Kebaikan". Nama ini terbukti menjadi identitas yang kuat. Meski hidup sederhana sebagai agen koran dan loper koran—hingga dikenal sebagai "Pak Coro Koran"—ia tetap membawa kecerdasan (kesaktian) dalam bersikap.

Lahir dari rahim seorang simbok di Dusun Ngabean dan putra seorang seniman Ketoprak Tobong, Sucoro tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan budaya agraris. Ia menjadi saksi bagaimana dahulu benih padi bukan sekadar benda ekonomi, melainkan media pengikat sosial antarwarga. Namun, ia juga merekam dengan pahit bagaimana martabat petani perlahan terkikis oleh mahalnya pupuk dan gagal panen, hingga satu per satu lahan pertanian di sekitar candi dijual dan berubah menjadi beton pariwisata.

Sejak kecil, Sucoro telah menunjukkan jati diri yang berbeda. Di saat teman-teman sekolahnya menyanyikan lagu modern, ia justru dengan teguh melantunkan tembang Dhandhanggula—sebuah perlambang awal bahwa sepanjang hidupnya, ia akan tetap memegang teguh tradisi meskipun dunia di sekitarnya bergerak menuju pragmatisme yang dingin.

Bagian III: Di Seberang Pagar yang Menentukan (Epilog)

Sutanto Mendut memberikan catatan tajam bahwa selama ini dunia melihat Borobudur hanya melalui tiga lensa sempit: ekonomi industri, kebanggaan arkeologis yang semu, dan domplengan citra politik. Borobudur sering kali hanya dijadikan "jaket bagus" atau ikon untuk menutupi kebangkrutan karakter bangsa yang sedang amburadul. Di tengah hiruk-pikuk pariwisata yang hanya meneriakkan kata "duit... duit... duit...", ada narasi yang tersembunyi (hidden history).

Narasi itu adalah sejarah orang-orang kecil; para pedagang, buruh, dan penduduk lokal yang dipinggirkan. Di sinilah peran penting Sucoro. Melalui lembaga Warung Info Jagad Cleguk, ia menjaga arus informasi dan menjaga kedaulatan warga. Ia menolak rencana pembangunan mal yang akan merusak ekosistem budaya dan tetap konsisten menggelar ritual "Ruwatan" sebagai bentuk pembersihan batin kawasan.

Simpulan: Warisan untuk Masa Depan

Buku ini bukan sekadar biografi seorang tokoh bernama Sucoro. Ini adalah dokumen perlawanan rakyat terhadap upaya "pemuseuman" budaya. Melalui gerakan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati Borobudur tidak terletak pada kerasnya batu andesit, melainkan pada kelembutan doa dan tradisi masyarakatnya.

Buku ini mengajak kita untuk menoleh ke "seberang pagar", tempat di mana spiritualitas desa masih berdenyut, tempat di mana "Mbah Budur" tetap dijaga marwahnya agar tidak sekadar menjadi fosil pariwisata, melainkan tetap menjadi cahaya bagi peradaban yang beradab.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default