BUMI KARMA BOROBUDUR

Ruwat Rawat Borobudur
0

 



Menyisir Jejak Tradisi, Menelisik Kebermanfaatan Nilai Spiritual, dan Merawat Marwah Kitab Kehidupan yang Terpahat

Bagian I: Inspirasi di Balik Bhumi dan Karma

(Sebuah Refleksi oleh Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera)

Candi Borobudur tidak pernah berdiri di tengah kesunyian hutan belantara yang terasing atau ruang hampa yang sunyi. Sejak fajar pembangunannya 1.200 tahun silam, ia tumbuh, tegak, dan bernapas di tengah-tengah denyut nadi pemukiman manusia. Borobudur adalah sebuah puncak peradaban yang hidup bersama masyarakatnya, meskipun sejarah mencatat adanya masa-masa kelam di mana ia sempat tenggelam dalam pelukan tanah, tertimbun abu vulkanik, dan seolah dilupakan oleh waktu.

Sebagai objek fisik, Borobudur sejatinya adalah benda mati, namun ia memiliki beribu makna yang tak terbatas. Hal ini terjadi karena pikiran manusialah yang memaknainya—dan pikiran itu tidak pernah mengenal titik henti. Pemerintah melihatnya sebagai aset negara; sejarahwan dan arkeolog membacanya sebagai teka-teki masa lalu; budayawan menjadikannya cermin identitas; sementara pelaku wisata memandangnya sebagai mesin ekonomi. Bahkan politisi pun punya sudut pandang tersendiri. Namun, melalui buku "Bumikarma Borobudur" karya Bapak Sucoro ini, kita diajak menyelami sisi yang sering luput dari nalar arus utama: peristiwa-peristiwa batin dan sosial yang terjadi karena keberadaan Borobudur dan bagaimana masyarakat sekitarnya memaknai kehadiran "Raksasa Batu" ini dalam ritual dan keseharian.

Judul Bumikarma menyimpan filosofi yang sangat dalam dan personal. Dalam bahasa Sanskerta, Bhumi berarti tempat atau lokasi pijakan, sementara Karma adalah perbuatan—baik maupun buruk—yang dilakukan dengan kehendak. Borobudur bukan sekadar tumpukan andesit, melainkan inspirasi abadi bagi setiap jiwa untuk menanam "karma baik": kasih sayang, kepedulian, pengorbanan, kejujuran, dan ketulusan hati. Buku ini mengingatkan kita bahwa perubahan nasib tidak akan datang dari luar untuk mengubah diri kita secara ajaib. Kita sendirilah yang harus mengubah diri sendiri melalui tindakan nyata. Borobudur hanyalah kompas spiritual, sebuah inspirasi visual yang menegaskan bahwa hanya perbuatan baiklah yang mampu meningkatkan kualitas hidup kita bersama.

Bagian II: Pergulatan di Kaki Raksasa Batu

Antara Idealitas dan Realitas

Pergulatan adalah bagian tak terpisahkan dari proses kehidupan; sebuah perjuangan panjang yang tidak pernah mengenal kata usai. Selama manusia masih berani bermimpi dan menyimpan harapan, pergulatan antara hidup dan mati, antara idealitas dan realitas, serta antara substansi dan absurditas akan terus terjadi. Bagi saya, yang lahir dan menghirup napas di bawah bayang-bayang Candi Borobudur, pergulatan ini adalah pertarungan batin antara menjaga kesucian warisan leluhur dengan menghadapi realitas industri pariwisata yang kian pragmatis dan serba instan.

Nenek moyang kita adalah jenius yang melampaui zamannya. Mereka menuliskan sebuah "Kitab Kehidupan" yang mahabesar bukan di atas lembaran papirus atau kain, melainkan dipahat pada 2.672 panel relief yang jika dibentangkan secara linier akan mencapai panjang 6 kilometer. Melalui tradisi Pradaksina (berjalan searah jarum jam), kita diajak membaca nasib manusia. Zaman boleh berubah, sejarah boleh dipolitisasi, bahkan hukum negara bisa dipermainkan demi kepentingan sekejap. Namun, hukum sebab-akibat yang terpahat pada relief Karmawibhangga di kaki candi tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh siapa pun; ia tetap teguh menyuarakan bahwa kebaikan dan keburukan akan selalu menemui balasannya sendiri.

Borobudur: Warisan Budaya atau Sekadar Warisan Harta?

Kini, Borobudur telah menjadi magnet pariwisata internasional yang mendatangkan jutaan pasang kaki. Namun, bagi saya, kemegahan itu membawa aroma kegelisahan. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana warga Kenayan, Ngaran, Gendingan, dan Sabrangrowo yang dulu rela mengorbankan tanah, rumah, dan kenangan masa kecil mereka demi pembangunan Taman Wisata, kini justru sering terabaikan di pinggiran kemajuan. Sejak "Bedhol Dusun" tahun 1983, kesejahteraan yang dijanjikan seolah menjadi "dongeng sebelum tidur" yang tak kunjung menjadi nyata.

Saya merasa pedih melihat Borobudur kini cenderung dipandang sebagai "Warisan Harta"—sebuah komoditas yang diperebutkan nilai ekonominya oleh berbagai lembaga setingkat menteri hingga organisasi internasional. Nilai-nilai spiritualitasnya seringkali hanya menjadi bungkus kosmetik bagi aspek komersialisasi. Stagnasi ini menciptakan sikap apatis dan masa bodoh di kalangan masyarakat. Padahal, peran masyarakat dalam memberi ruh pada candi ini sangatlah konkret, namun sayangnya seringkali mereka hanya dijadikan instrumen legalisasi kebijakan kekuasaan semata.

Panggilan Jiwa: Sedekah dan Ruwat Rawat

Melalui lembaga kecil Warung Info Jagad Cleguk, saya memilih jalan sunyi yang mungkin dianggap tidak rasional: jalan "Panggilan Jiwa". Saya melakukan dokumentasi mandiri, menyelenggarakan Sekolah Lapangan, hingga menggelar ritual Ruwat Rawat Borobudur sebagai bentuk "sedekah" kepada leluhur dan alam. Saya tidak butuh legitimasi atau pengakuan formal dari birokrasi. Bagi saya, keikhlasan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku dalam melestarikan tradisi.

Saya belajar arti kelestarian sejati dari orang-orang sederhana seperti Pak Sudiharjo, Pak Walju, Mbah Mad, dan kawan-kawan lainnya. Mereka adalah pelestari tanpa panggung. Saat Borobudur tertutup debu vulkanik Merapi maupun Kelud, mereka bergerak sebagai sukarelawan, menyikat batu-batu suci itu dengan peluh sendiri tanpa meminta bayaran atau sertifikat. Mereka menjaga tradisi dalam diam, tanpa spanduk "Pelestari Budaya" di depan rumahnya. Keikhlasan mereka itulah "ruh" asli Borobudur yang harus kita rawat agar tidak mati ditelan monopoli yang eksploitatif.

Bagian III: Harapan untuk Masa Depan

Borobudur yang dibangun di atas punden berundak oleh Wangsa Syailendra bukanlah sebuah "proyek komersial" untuk mengejar profit. Ia adalah Monumen Persembahan Suci yang lahir dari ketulusan, pengabdian, serta wujud darma manusia kepada Sang Maha Agung.

Harapan saya melalui buku ini sederhana namun mendalam: Mari kita tempatkan kembali Borobudur pada posisinya yang fitrah sebagai pusat tatanan Mandala—sebuah ruang di mana keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan dijaga. Jangan biarkan warisan suci ini hancur secara fisik dan nilai karena nafsu komersial yang tak terkendali. Mari kita jadikan Borobudur sebagai sumber ilmu pengetahuan dan peradaban, agar ia benar-benar dihormati sebagai Pusaka Dunia, bukan sekadar objek jualan.

Borobudur tetaplah Borobudur. Ia telah menyatu dengan tanah dan darah masyarakatnya melampaui sekat agama, suku, dan kepentingan politik. Adalah tugas kita bersama untuk menjaganya agar tetap selaras dengan napas tradisi masyarakat setempat. Karena pada akhirnya, Borobudur bukan hanya milik masa lalu, ia adalah rumah bagi masa depan kita semua.

Salam Sejahtera,

Borobudurku, Borobudurmu, Borobudur Kita. Lestarikan Borobudur!

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default