Menyisir Jejak Tradisi, Menelisik Kebermanfaatan
Nilai Spiritual, dan Merawat Marwah Kitab Kehidupan yang Terpahat
Bagian I: Inspirasi di Balik Bhumi dan Karma
(Sebuah
Refleksi oleh Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera)
Candi
Borobudur tidak pernah berdiri di tengah kesunyian hutan belantara yang
terasing atau ruang hampa yang sunyi. Sejak fajar pembangunannya 1.200 tahun
silam, ia tumbuh, tegak, dan bernapas di tengah-tengah denyut nadi pemukiman
manusia. Borobudur adalah sebuah puncak peradaban yang hidup bersama
masyarakatnya, meskipun sejarah mencatat adanya masa-masa kelam di mana ia
sempat tenggelam dalam pelukan tanah, tertimbun abu vulkanik, dan seolah
dilupakan oleh waktu.
Sebagai
objek fisik, Borobudur sejatinya adalah benda mati, namun ia memiliki beribu
makna yang tak terbatas. Hal ini terjadi karena pikiran manusialah yang
memaknainya—dan pikiran itu tidak pernah mengenal titik henti. Pemerintah
melihatnya sebagai aset negara; sejarahwan dan arkeolog membacanya sebagai
teka-teki masa lalu; budayawan menjadikannya cermin identitas; sementara pelaku
wisata memandangnya sebagai mesin ekonomi. Bahkan politisi pun punya sudut
pandang tersendiri. Namun, melalui buku "Bumikarma Borobudur"
karya Bapak Sucoro ini, kita diajak menyelami sisi yang sering luput dari nalar
arus utama: peristiwa-peristiwa batin dan sosial yang terjadi karena
keberadaan Borobudur dan bagaimana masyarakat sekitarnya memaknai kehadiran
"Raksasa Batu" ini dalam ritual dan keseharian.
Judul
Bumikarma menyimpan filosofi yang sangat dalam dan personal. Dalam
bahasa Sanskerta, Bhumi berarti tempat atau lokasi pijakan, sementara Karma
adalah perbuatan—baik maupun buruk—yang dilakukan dengan kehendak. Borobudur
bukan sekadar tumpukan andesit, melainkan inspirasi abadi bagi setiap jiwa
untuk menanam "karma baik": kasih sayang, kepedulian, pengorbanan,
kejujuran, dan ketulusan hati. Buku ini mengingatkan kita bahwa perubahan nasib
tidak akan datang dari luar untuk mengubah diri kita secara ajaib. Kita sendirilah
yang harus mengubah diri sendiri melalui tindakan nyata. Borobudur hanyalah
kompas spiritual, sebuah inspirasi visual yang menegaskan bahwa hanya perbuatan
baiklah yang mampu meningkatkan kualitas hidup kita bersama.
Bagian II: Pergulatan di Kaki Raksasa Batu
Antara Idealitas dan Realitas
Pergulatan
adalah bagian tak terpisahkan dari proses kehidupan; sebuah perjuangan panjang
yang tidak pernah mengenal kata usai. Selama manusia masih berani bermimpi dan
menyimpan harapan, pergulatan antara hidup dan mati, antara idealitas dan
realitas, serta antara substansi dan absurditas akan terus terjadi. Bagi saya,
yang lahir dan menghirup napas di bawah bayang-bayang Candi Borobudur,
pergulatan ini adalah pertarungan batin antara menjaga kesucian warisan leluhur
dengan menghadapi realitas industri pariwisata yang kian pragmatis dan serba
instan.
Nenek
moyang kita adalah jenius yang melampaui zamannya. Mereka menuliskan sebuah
"Kitab Kehidupan" yang mahabesar bukan di atas lembaran papirus atau
kain, melainkan dipahat pada 2.672 panel relief yang jika dibentangkan secara
linier akan mencapai panjang 6 kilometer. Melalui tradisi Pradaksina
(berjalan searah jarum jam), kita diajak membaca nasib manusia. Zaman boleh
berubah, sejarah boleh dipolitisasi, bahkan hukum negara bisa dipermainkan demi
kepentingan sekejap. Namun, hukum sebab-akibat yang terpahat pada relief Karmawibhangga
di kaki candi tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh siapa pun; ia tetap
teguh menyuarakan bahwa kebaikan dan keburukan akan selalu menemui balasannya
sendiri.
Borobudur: Warisan Budaya atau Sekadar Warisan
Harta?
Kini,
Borobudur telah menjadi magnet pariwisata internasional yang mendatangkan
jutaan pasang kaki. Namun, bagi saya, kemegahan itu membawa aroma kegelisahan.
Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana warga Kenayan, Ngaran,
Gendingan, dan Sabrangrowo yang dulu rela mengorbankan tanah, rumah, dan
kenangan masa kecil mereka demi pembangunan Taman Wisata, kini justru sering
terabaikan di pinggiran kemajuan. Sejak "Bedhol Dusun" tahun 1983,
kesejahteraan yang dijanjikan seolah menjadi "dongeng sebelum tidur"
yang tak kunjung menjadi nyata.
Saya
merasa pedih melihat Borobudur kini cenderung dipandang sebagai "Warisan
Harta"—sebuah komoditas yang diperebutkan nilai ekonominya oleh
berbagai lembaga setingkat menteri hingga organisasi internasional. Nilai-nilai
spiritualitasnya seringkali hanya menjadi bungkus kosmetik bagi aspek
komersialisasi. Stagnasi ini menciptakan sikap apatis dan masa bodoh di
kalangan masyarakat. Padahal, peran masyarakat dalam memberi ruh pada candi ini
sangatlah konkret, namun sayangnya seringkali mereka hanya dijadikan instrumen
legalisasi kebijakan kekuasaan semata.
Panggilan Jiwa: Sedekah dan Ruwat Rawat
Melalui
lembaga kecil Warung Info Jagad Cleguk, saya memilih jalan sunyi yang
mungkin dianggap tidak rasional: jalan "Panggilan Jiwa". Saya
melakukan dokumentasi mandiri, menyelenggarakan Sekolah Lapangan, hingga
menggelar ritual Ruwat Rawat Borobudur sebagai bentuk
"sedekah" kepada leluhur dan alam. Saya tidak butuh legitimasi atau
pengakuan formal dari birokrasi. Bagi saya, keikhlasan adalah satu-satunya mata
uang yang berlaku dalam melestarikan tradisi.
Saya
belajar arti kelestarian sejati dari orang-orang sederhana seperti Pak
Sudiharjo, Pak Walju, Mbah Mad, dan kawan-kawan lainnya. Mereka adalah
pelestari tanpa panggung. Saat Borobudur tertutup debu vulkanik Merapi maupun
Kelud, mereka bergerak sebagai sukarelawan, menyikat batu-batu suci itu dengan
peluh sendiri tanpa meminta bayaran atau sertifikat. Mereka menjaga tradisi
dalam diam, tanpa spanduk "Pelestari Budaya" di depan rumahnya.
Keikhlasan mereka itulah "ruh" asli Borobudur yang harus kita rawat
agar tidak mati ditelan monopoli yang eksploitatif.
Bagian III: Harapan untuk Masa Depan
Borobudur
yang dibangun di atas punden berundak oleh Wangsa Syailendra bukanlah sebuah
"proyek komersial" untuk mengejar profit. Ia adalah Monumen
Persembahan Suci yang lahir dari ketulusan, pengabdian, serta wujud darma
manusia kepada Sang Maha Agung.
Harapan
saya melalui buku ini sederhana namun mendalam: Mari kita tempatkan kembali
Borobudur pada posisinya yang fitrah sebagai pusat tatanan Mandala—sebuah
ruang di mana keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan dijaga. Jangan
biarkan warisan suci ini hancur secara fisik dan nilai karena nafsu komersial
yang tak terkendali. Mari kita jadikan Borobudur sebagai sumber ilmu
pengetahuan dan peradaban, agar ia benar-benar dihormati sebagai Pusaka Dunia,
bukan sekadar objek jualan.
Borobudur
tetaplah Borobudur. Ia telah menyatu dengan tanah dan darah masyarakatnya
melampaui sekat agama, suku, dan kepentingan politik. Adalah tugas kita bersama
untuk menjaganya agar tetap selaras dengan napas tradisi masyarakat setempat.
Karena pada akhirnya, Borobudur bukan hanya milik masa lalu, ia adalah rumah
bagi masa depan kita semua.
Salam
Sejahtera,
Borobudurku,
Borobudurmu, Borobudur Kita. Lestarikan Borobudur!
