Menelisik Spiritualitas dalam
Kebinekaan: Refleksi 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur sebagai Pusaka dan Pustaka
Bangsa
(Oleh: Sucoro)
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena di tahun 2023 ini, gerakan Ruwat Rawat Borobudur (RRB)
bukan hanya berhasil melampaui angka dua dekade, melainkan telah berevolusi
menjadi sebuah platform intelektual yang disegani. Tahun ke-21 ini menjadi
sangat istimewa karena RRB mendapatkan kehormatan besar untuk diteliti secara
mendalam oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran para
peneliti ini bukan sekadar menjadi evaluator, melainkan saksi atas sub-tema
penting yang kami usung: "50 Tahun Kebangkitan Nilai Spiritualitas
Borobudur Sebagai Pusaka Budaya Bangsa."
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah
realisasi gagasan yang telah tertunda selama empat tahun, yaitu "Kompetisi
Opini – Kongres Borobudur". Bertempat di Balkondes Ngargogondo pada
Agustus 2023, forum ini menjadi ruang bagi masyarakat, akademisi, dan pecinta
budaya untuk mencurahkan pikiran mereka. Borobudur tidak lagi boleh dipandang
sebagai monumen mati atau sekadar tumpukan batu tanpa makna. Melalui buku
ketujuh ini, "Pustaka Aksara Borobudur", kami
mendokumentasikan bagaimana dimensi spiritualitas, budaya, dan pariwisata
dijalin menjadi satu untuk menumbuhkan rasa handarbeni (memiliki) yang
berdaulat. Kami berharap catatan ini menjadi kompas bagi para pengambil
kebijakan untuk mengelola Borobudur dengan hati, bukan sekadar hitungan angka
kunjungan.
Bagian II: Prolog – Borobudur
sebagai Mandala Kehidupan
(Oleh: Prof. Dr. M. Baiquni, MA – Guru Besar Geografi
UGM)
Candi Borobudur adalah sebuah karya agung yang berdiri
megah di atas lembah pegunungan purba (Intermountain basin). Ia adalah
inovasi arsitektur, institusi sosial, sekaligus inspirasi spiritual yang lahir
dari "laku" batin para leluhur. Secara geografis, posisi Borobudur
adalah sebuah pilihan sadar yang menyimpan Aksara Bermakna—sebuah kompas
kehidupan yang disebut dalam tradisi Jawa sebagai "Kiblat Papat Limo
Pancer".
1.
Wetan (Timur – Economy): Di sinilah fajar menyingsing di atas Gunung Merapi dan Merapi. Arah
ini melambangkan harapan dan fungsi ekonomi; tempat pasar dan aktivitas manusia
dimulai untuk kemakmuran.
2.
Kulon (Barat – Wellbeing): Di bawah bayang-bayang Menoreh saat matahari tenggelam, kita diajak
untuk hening dan wening. Ini adalah arah syukur, tempat manusia
mencari kedamaian dan kebahagiaan batin setelah lelah bekerja.
3.
Lor (Utara – Nature): Kesuburan tanah dari Sindoro dan Sumbing yang dialiri sungai-sungai
melambangkan kemandirian pangan dan pengobatan alami (jamu), simbol harmoni
manusia dengan alam.
4.
Kidul (Selatan – Social): Bentangan permukiman tempat tatanan sosial dijaga dan dikembangkan
dalam semangat gotong royong.
5.
Pancer (Pusat – Borobudur): Borobudur adalah titik temu. Ia memiliki gaya Sentripetal
yang menarik energi batin manusia ke dalam pusat spiritual, sekaligus memiliki
gaya Sentrifugal yang memancarkan cahaya kesejahteraan pariwisata ke
desa-desa di sekelilingnya.
Ruwat Rawat Borobudur selama 21 tahun telah menjadi wadah
unik yang mempertemukan masyarakat akar rumput, pejabat pusat, hingga mahasiswa
untuk "meruwat" harmoni ini.
Bagian III: Sosok Pak Coro –
Antara Nama, Nasib, dan Laku Bersahaja
Di balik kemegahan narasi Borobudur, ada sosok Sucoro.
Lahir pada 28 September 1951 dari pasangan Setrowikromo dan Suwarsini, namanya
mengandung makna filosofis: "Su" (baik) dan "Coro"
(cara/reka). Namanya adalah doa agar ia selalu menemukan "cara-cara
baik" dalam hidup. Meski dikenal publik sebagai penggagas RRB, di
kesehariannya ia tetaplah Pak Coro sang loper koran yang bersahaja.
Pendidikan formalnya mungkin hanya di Sekolah Rakyat (SR),
namun ia adalah lulusan terbaik dari Guru Kehidupan. Ia belajar dari siapa
saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Laku hidupnya mencerminkan petikan
tembang Mijil: "Dedalane guno lawan sekti, kudu andhap asor"—jalan
kegunaan dan kesaktian haruslah dijalani dengan rendah hati. Di usia senjanya,
Pak Coro kini fokus pada regenerasi di Brayat Panangkaran, memastikan
bahwa api kedaulatan budaya ini tidak akan padam di tangan generasi muda.
Bagian IV: Epilog – Resistensi
Spiritualitas di Tengah Arus Kapitalisme
(Oleh: DR. Riwanto Tirtosudarmo – Peneliti Sosial)
Nama Sucoro tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah
Ruwat Rawat Borobudur. Perjalanan ini adalah sebuah narasi panjang tentang
resistensi. Sejak awal 1980-an, ketika rezim otoriter Orde Baru dan UNESCO
mulai melakukan restorasi besar-besaran, Sucoro menjadi saksi bagaimana
penduduk lokal digusur demi kepentingan proyek nasional yang dibungkus label
"warisan dunia".
Pengalaman pahit penggusuran tersebut tidak membuat Sucoro
menyerah. Ia justru merumuskan sebuah bentuk perlawanan yang sangat halus namun
kuat: Resistensi Budaya. Ia menolak Borobudur dimaknai hanya sebagai
paket pariwisata untuk mendatangkan devisa. Baginya, Borobudur adalah bagian
dari Dunia Batin Orang Jawa (Kejawen)—sebuah spiritualitas yang akarnya
jauh melampaui kedatangan agama-agama besar.
Spiritualitas Kejawen ini ibarat tanah yang gembur dan
subur. Ia mampu membesarkan biji tanaman apa pun menjadi pohon yang rindang,
seperti pohon Bodhi tempat pencerahan ditemukan. Melalui kolaborasi dengan BRIN
dalam buku ini, perlawanan Sucoro kini telah masuk ke dalam dokumentasi
akademik yang sah. Ini adalah bukti bahwa suara rakyat dari "luar
pagar" kini telah menjadi "aksara" yang bermakna bagi dunia.
Kesimpulan: Jejak Langkah
Menuju Peradaban Baru
Buku "Pustaka Aksara Borobudur" ini bukan
hanya dokumentasi kegiatan tahunan, melainkan sebuah prasasti modern. Dari buku
pertama hingga ketujuh, kita melihat sebuah evolusi pemikiran:
·
Dari perlawanan terhadap
penggusuran (Buku 1-2).
·
Menuju pembangunan harmoni dan
imajinasi peradaban (Buku 3-4).
·
Hingga penggalian nalar dan
spiritualitas yang mendalam (Buku 5-7).
Selamat membaca untaian kata yang lahir dari tindakan
nyata, bukan sekadar teori di atas meja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar