PUSTAKA AKSARA BOROBUDUR - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 12 Februari 2026

PUSTAKA AKSARA BOROBUDUR

 




Menelisik Spiritualitas dalam Kebinekaan: Refleksi 21 Tahun Ruwat Rawat Borobudur sebagai Pusaka dan Pustaka Bangsa

 

(Oleh: Sucoro)

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena di tahun 2023 ini, gerakan Ruwat Rawat Borobudur (RRB) bukan hanya berhasil melampaui angka dua dekade, melainkan telah berevolusi menjadi sebuah platform intelektual yang disegani. Tahun ke-21 ini menjadi sangat istimewa karena RRB mendapatkan kehormatan besar untuk diteliti secara mendalam oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran para peneliti ini bukan sekadar menjadi evaluator, melainkan saksi atas sub-tema penting yang kami usung: "50 Tahun Kebangkitan Nilai Spiritualitas Borobudur Sebagai Pusaka Budaya Bangsa."

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah realisasi gagasan yang telah tertunda selama empat tahun, yaitu "Kompetisi Opini – Kongres Borobudur". Bertempat di Balkondes Ngargogondo pada Agustus 2023, forum ini menjadi ruang bagi masyarakat, akademisi, dan pecinta budaya untuk mencurahkan pikiran mereka. Borobudur tidak lagi boleh dipandang sebagai monumen mati atau sekadar tumpukan batu tanpa makna. Melalui buku ketujuh ini, "Pustaka Aksara Borobudur", kami mendokumentasikan bagaimana dimensi spiritualitas, budaya, dan pariwisata dijalin menjadi satu untuk menumbuhkan rasa handarbeni (memiliki) yang berdaulat. Kami berharap catatan ini menjadi kompas bagi para pengambil kebijakan untuk mengelola Borobudur dengan hati, bukan sekadar hitungan angka kunjungan.

 

Bagian II: Prolog – Borobudur sebagai Mandala Kehidupan

(Oleh: Prof. Dr. M. Baiquni, MA – Guru Besar Geografi UGM)

Candi Borobudur adalah sebuah karya agung yang berdiri megah di atas lembah pegunungan purba (Intermountain basin). Ia adalah inovasi arsitektur, institusi sosial, sekaligus inspirasi spiritual yang lahir dari "laku" batin para leluhur. Secara geografis, posisi Borobudur adalah sebuah pilihan sadar yang menyimpan Aksara Bermakna—sebuah kompas kehidupan yang disebut dalam tradisi Jawa sebagai "Kiblat Papat Limo Pancer".

1.      Wetan (Timur – Economy): Di sinilah fajar menyingsing di atas Gunung Merapi dan Merapi. Arah ini melambangkan harapan dan fungsi ekonomi; tempat pasar dan aktivitas manusia dimulai untuk kemakmuran.

2.      Kulon (Barat – Wellbeing): Di bawah bayang-bayang Menoreh saat matahari tenggelam, kita diajak untuk hening dan wening. Ini adalah arah syukur, tempat manusia mencari kedamaian dan kebahagiaan batin setelah lelah bekerja.

3.      Lor (Utara – Nature): Kesuburan tanah dari Sindoro dan Sumbing yang dialiri sungai-sungai melambangkan kemandirian pangan dan pengobatan alami (jamu), simbol harmoni manusia dengan alam.

4.      Kidul (Selatan – Social): Bentangan permukiman tempat tatanan sosial dijaga dan dikembangkan dalam semangat gotong royong.

5.      Pancer (Pusat – Borobudur): Borobudur adalah titik temu. Ia memiliki gaya Sentripetal yang menarik energi batin manusia ke dalam pusat spiritual, sekaligus memiliki gaya Sentrifugal yang memancarkan cahaya kesejahteraan pariwisata ke desa-desa di sekelilingnya.

Ruwat Rawat Borobudur selama 21 tahun telah menjadi wadah unik yang mempertemukan masyarakat akar rumput, pejabat pusat, hingga mahasiswa untuk "meruwat" harmoni ini.

 

Bagian III: Sosok Pak Coro – Antara Nama, Nasib, dan Laku Bersahaja

Di balik kemegahan narasi Borobudur, ada sosok Sucoro. Lahir pada 28 September 1951 dari pasangan Setrowikromo dan Suwarsini, namanya mengandung makna filosofis: "Su" (baik) dan "Coro" (cara/reka). Namanya adalah doa agar ia selalu menemukan "cara-cara baik" dalam hidup. Meski dikenal publik sebagai penggagas RRB, di kesehariannya ia tetaplah Pak Coro sang loper koran yang bersahaja.

Pendidikan formalnya mungkin hanya di Sekolah Rakyat (SR), namun ia adalah lulusan terbaik dari Guru Kehidupan. Ia belajar dari siapa saja, kapan saja, dan tentang apa saja. Laku hidupnya mencerminkan petikan tembang Mijil: "Dedalane guno lawan sekti, kudu andhap asor"—jalan kegunaan dan kesaktian haruslah dijalani dengan rendah hati. Di usia senjanya, Pak Coro kini fokus pada regenerasi di Brayat Panangkaran, memastikan bahwa api kedaulatan budaya ini tidak akan padam di tangan generasi muda.

 

Bagian IV: Epilog – Resistensi Spiritualitas di Tengah Arus Kapitalisme

(Oleh: DR. Riwanto Tirtosudarmo – Peneliti Sosial)

Nama Sucoro tidak akan pernah bisa dipisahkan dari sejarah Ruwat Rawat Borobudur. Perjalanan ini adalah sebuah narasi panjang tentang resistensi. Sejak awal 1980-an, ketika rezim otoriter Orde Baru dan UNESCO mulai melakukan restorasi besar-besaran, Sucoro menjadi saksi bagaimana penduduk lokal digusur demi kepentingan proyek nasional yang dibungkus label "warisan dunia".

Pengalaman pahit penggusuran tersebut tidak membuat Sucoro menyerah. Ia justru merumuskan sebuah bentuk perlawanan yang sangat halus namun kuat: Resistensi Budaya. Ia menolak Borobudur dimaknai hanya sebagai paket pariwisata untuk mendatangkan devisa. Baginya, Borobudur adalah bagian dari Dunia Batin Orang Jawa (Kejawen)—sebuah spiritualitas yang akarnya jauh melampaui kedatangan agama-agama besar.

Spiritualitas Kejawen ini ibarat tanah yang gembur dan subur. Ia mampu membesarkan biji tanaman apa pun menjadi pohon yang rindang, seperti pohon Bodhi tempat pencerahan ditemukan. Melalui kolaborasi dengan BRIN dalam buku ini, perlawanan Sucoro kini telah masuk ke dalam dokumentasi akademik yang sah. Ini adalah bukti bahwa suara rakyat dari "luar pagar" kini telah menjadi "aksara" yang bermakna bagi dunia.

 

Kesimpulan: Jejak Langkah Menuju Peradaban Baru

Buku "Pustaka Aksara Borobudur" ini bukan hanya dokumentasi kegiatan tahunan, melainkan sebuah prasasti modern. Dari buku pertama hingga ketujuh, kita melihat sebuah evolusi pemikiran:

·         Dari perlawanan terhadap penggusuran (Buku 1-2).

·         Menuju pembangunan harmoni dan imajinasi peradaban (Buku 3-4).

·         Hingga penggalian nalar dan spiritualitas yang mendalam (Buku 5-7).

Selamat membaca untaian kata yang lahir dari tindakan nyata, bukan sekadar teori di atas meja.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar