Membaca Prasasti Sosial, Mengasah Logika
Kemanusiaan, dan Menggugat Nalar Materialisme di Kawasan Borobudur
Bagian I: Pengantar – Transformasi Ekosistem dan
Adaptasi Kolektif
(Oleh:
Sucoro)
Keberadaan
Candi Borobudur sebagai artefak pusaka budaya bukan sekadar monumen masa lalu,
melainkan jantung yang mengaliri denyut kehidupan masyarakat lintas zaman.
Sejak abad ke-8 Masehi, peradaban di lembah ini telah tumbuh menjadi pusat
penghidupan yang mencakup seluruh aspek: geografi, demografi, hingga
spiritualitas. Namun, sejarah mencatat pergeseran besar ketika kebijakan pusat
memutuskan Borobudur sebagai kawasan industri pariwisata pasca-pemugaran tahap
kedua tahun 1980-an.
Secara
pribadi dan kolektif, kami sempat menolak. Bukan karena anti-kemajuan,
melainkan karena kebijakan tersebut datang tanpa persiapan konsep pemberdayaan
yang matang. Mengubah pola penghidupan petani menjadi pelayan pariwisata tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Ketika kapitalisme industri masuk, ia sering
kali memotong akar inspirasi kebudayaan masyarakat dan menganggap alam serta
tradisi hanya sebagai komoditas atau barang dagangan.
Buku
keenam ini, "Ajar Kanthi Nalar" (Belajar dengan Nalar), adalah
hasil penelitian lapangan, wawancara mendalam, dan rangkuman diskusi atas
"prasasti-prasasti sosial" yang tersisa di Borobudur. Selama 20 tahun
gerakan Ruwat Rawat Borobudur, kami mencatat bahwa hasil finansial dari
industri ini belum cukup untuk memperbaiki kerusakan sistem hubungan antara
Manusia, Alam, dan Tuhan. Melalui dukungan peneliti BRIN dan kawan-kawan
pemandu wisata, buku ini hadir untuk menganalisis dinamika kultural secara
holistik dan mengajak kita semua kembali "belajar" dengan logika yang
jernih.
Bagian II: Prolog – Memaknai Borobudur dengan Nalar
dan Hati
(Oleh:
Daud Aris Tanudirjo)
Isu
rencana kenaikan tiket naik ke candi dengan dalih pelestarian baru-baru ini
telah menghentak kesadaran kita. Mengapa pengurangan kunjungan harus berujung
pada kompensasi harga yang selangit? Jawabannya menyedihkan: karena Borobudur
masih dipandang sebagai tambang keuntungan finansial semata. Inilah nalar
materialisme yang jauh dari pesan luhur Karmawibhangga—pesan tentang
melepaskan keterikatan nafsu keduniawian demi pencerahan jiwa.
Di
tengah ironi ini, muncul judul yang menghenyakkan: "Ajar Kanthi
Nalar". Ternyata, justru komunitas akar rumput yang sering tersisihkan
itulah yang mampu menangkap hakikat Borobudur yang sebenarnya: sebagai tempat
mendidik nalar. Dalam dunia arkeologi modern, gerakan ini disebut Arkeologi
Komunitas—sebuah upaya dekolonisasi atas tafsir warisan budaya yang selama
ini didominasi oleh otoritas "mapan" atau Authorized Heritage
Discourse (AHD).
Warisan
budaya bukanlah sekadar benda mati; ia adalah proses pemberian makna yang
dinamis. Kebenaran tidak boleh dimonopoli oleh para ahli. Pemaknaan masyarakat,
meski kadang dianggap othak-athik gathuk, adalah ekspresi penghayatan
yang jujur terhadap pengalaman hidup mereka. Borobudur adalah tempat kita semua
saling asah dan asuh. Seperti lakon Sudhana dalam relief Gandawyuha,
kita harus terus belajar untuk mencapai pencerahan. Sudah saatnya pengelola
"memberdayakan diri" dengan belajar dari kejernihan nalar masyarakat
lokal.
Bagian III: Epilog – Belajar Secara Rasional di
Tengah Hiruk-Pikuk Identitas
(Oleh:
Idham Bachtiar Setiadi)
Dua
puluh tahun lalu, melalui Sacred Bridge Foundation, kami melakukan
pemetaan budaya yang mengungkap peran sentral Guru dalam hubungan
masyarakat dengan Borobudur. Namun, visi pendidikan ini sering kali tenggelam
oleh hiruk-pikuk kepentingan sesaat. Kita sering terjebak dalam Identity
Thinking—sibuk mengklasifikasi siapa yang paling berhak atau paling asli,
hingga kita lupa pada kesamaan kita sebagai manusia.
Borobudur
adalah candi, desa, kecamatan, sekaligus warisan dunia. Jika kita ingin
mengembalikan kemanusiaan ke dalam Borobudur, kita harus menghindari strategi
yang memecah belah. Strategi yang benar adalah memusatkan perhatian pada apa
yang sama-sama kita miliki: bumi ini, air tanahnya, dan keberlangsungan hidupnya.
Belajar
secara rasional bukan berarti merasionalkan keanekaragaman, melainkan
menghargai perbedaan dalam kerangka besar kebajikan (virtue). Mari kita
gunakan Borobudur bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai alat kritik
untuk memperbaiki cara kita mengelola alam—mulai dari masalah air tanah hingga
kepadatan penduduk. Gunakan nilai budaya untuk membiayai pemahaman (Use
Cultural Currencies to Fund Understanding). Mari kita belajar dengan nalar
yang jernih, agar kita tidak sekadar menjadi penonton di tengah perubahan dunia
yang kian kompleks.
