Mengapa kita harus belajar dari punggung? Karena
punggung adalah bagian tubuh yang paling bersih dari nafsu keserakahan. Berbeda
dengan mata yang selalu ingin memiliki apa yang dilihat, atau mulut yang tak pernah
puas mengecap rasa dan bersuara lantang, punggung tidak memiliki keinginan
untuk menguasai. Namun, jika kita sadar, dari punggung itulah kita dapat
berdiri tegak. Kita mempunyai kekuatan semua itu dari "punggung".
Punggung adalah simbol ketulusan yang murni.
Di tengah dunia yang penuh dengan ambisi
panggung, perebutan pengakuan, perebutan eksistensi, hingga perebutan
"cuan", punggung mengajarkan kita tentang pengabdian tanpa pamrih.
Demikian pula kerusakan pada Borobudur, baik
secara fisik maupun nilai spiritualnya, bermula dari nafsu manusia yang hanya
ingin memandang dan memiliki. Nafsu untuk mengeksploitasi demi materi, nafsu
untuk menonjolkan diri di depan kamera, hingga nafsu kekuasaan. Kita lupa: Sebenarnya
untuk apa dulu Borobudur dibangun? Untuk keheningankah? Atau cukup menjadi
simbol kedamaian?
Fakta yang ada menunjukkan bahwa sejak awal
pergeseran fungsinya, Borobudur terus dilanda persoalan dan kegaduhan. Jadi,
kegaduhan dan kekeruhan itu bukan hanya terjadi saat ini. Bahkan, muncul
fenomena "mancing di air keruh" di tengah persoalan, yang
ujungnya meminjam bahasa pemersatu "untuk kebersamaan" demi menutupi
kepentingan pribadi. Kita membutuhkan sosok yang mampu menjernihkan persoalan bukan
yang pandai bersilat lidah di depan panggung, melainkan sosok yang memiliki "Mentalitas
Punggung". Sosok yang mau menopang tanpa pamrih, yang berani berdiri
di belakang untuk memastikan kebenaran tetap tegak, dan mampu meredam kegaduhan
dengan keheningan nuraninya.
Sadar diri berawal dari hati. Sebab, di dalam
hatilah tempat bersemayamnya kejujuran yang selaras dengan punggung. Jika hati
telah dikuasai oleh ambisi, maka punggung akan dipaksa menanggung beban
kebohongan. Namun, jika hati memiliki kesadaran, ia akan menghargai punggung
sebagai fondasi pengabdian. Kita perlu menjernihkan hati agar tidak lagi
terjebak dalam bahasa pemersatu yang semu. Jangan sampai kalimat "untuk
kebersamaan" hanya menjadi jaring yang ditebar untuk memancing di air
yang sengaja dikeruhkan.
Borobudur tidak butuh lebih banyak orang yang
ingin "memiliki". Borobudur butuh lebih banyak orang yang mau
"menjaga". Menjaga bukan berarti menguasai. Menjaga adalah kesediaan
untuk menjadi bagian dari tulang punggung peradaban; yang kuat namun tidak
kasar, yang menopang namun tidak menekan, dan yang memberi kekuatan namun tidak
meminta imbalan.
Maka, marilah kita kembali ke titik nol. Memasuki
Mandala Suci ini dengan punggung yang tunduk dalam sujud syukur, bukan dengan
dada yang membusung karena nafsu duniawi. Jika kita menengok kembali pada relief
dan batu-batu yang membisu itu, kita akan menemukan jawaban bahwa Borobudur
tidak dibangun untuk kebisingan tepuk tangan, apalagi untuk hiruk-pikuk
eksploitasi. Ia dibangun sebagai Monumen Keheningan. Sebuah kompas
spiritual agar manusia mampu menundukkan punggungnya dalam sujud dan
penghormatan, bukan membusungkan dada dalam kesombongan.
Kesadaran dari falsafah punggung ini membawa kita
pada satu titik balik: Ruwat Rawat Borobudur adalah upaya mengembalikan
Borobudur pada fungsi aslinya sebagai simbol kedamaian. Kita harus berani
bertanya pada diri sendiri:
·
Apakah kita merawat Borobudur karena mencintai
akarnya, atau hanya ingin memanen buahnya?
·
Apakah kita menjaga Mandala Suci ini agar ia
tetap "hidup", atau sekadar menjadikannya komoditas yang kita peras
hingga kering?
Belajar dari punggung berarti belajar untuk
merelakan eksistensi demi esensi. Kita harus rela tidak terlihat, asal
nilai-nilai luhur Borobudur tetap tegak. Kita harus rela tidak memimpin di
depan, asal napas spiritualitasnya tidak terputus.
24 tahun perjalanan Ruwat Rawat Borobudur
adalah perjalanan "menjadi punggung". Menjadi penyangga yang
kokoh di tengah badai modernitas dan keserakahan. Karena hanya dengan punggung
yang tulus, kita bisa memastikan bahwa Borobudur tetap menjadi tempat di mana
manusia bisa menemukan kembali jati dirinya yang paling murni: dalam
keheningan, dalam kedamaian, dan dalam pengabdian yang tanpa pamrih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar