BELAJAR KESABARAN DARI FALSAFAH PUNGGUNG - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Jumat, 06 Maret 2026

BELAJAR KESABARAN DARI FALSAFAH PUNGGUNG

 

Mengapa kita harus belajar dari punggung? Karena punggung adalah bagian tubuh yang paling bersih dari nafsu keserakahan. Berbeda dengan mata yang selalu ingin memiliki apa yang dilihat, atau mulut yang tak pernah puas mengecap rasa dan bersuara lantang, punggung tidak memiliki keinginan untuk menguasai. Namun, jika kita sadar, dari punggung itulah kita dapat berdiri tegak. Kita mempunyai kekuatan semua itu dari "punggung". Punggung adalah simbol ketulusan yang murni.

Di tengah dunia yang penuh dengan ambisi panggung, perebutan pengakuan, perebutan eksistensi, hingga perebutan "cuan", punggung mengajarkan kita tentang pengabdian tanpa pamrih.

Demikian pula kerusakan pada Borobudur, baik secara fisik maupun nilai spiritualnya, bermula dari nafsu manusia yang hanya ingin memandang dan memiliki. Nafsu untuk mengeksploitasi demi materi, nafsu untuk menonjolkan diri di depan kamera, hingga nafsu kekuasaan. Kita lupa: Sebenarnya untuk apa dulu Borobudur dibangun? Untuk keheningankah? Atau cukup menjadi simbol kedamaian?

Fakta yang ada menunjukkan bahwa sejak awal pergeseran fungsinya, Borobudur terus dilanda persoalan dan kegaduhan. Jadi, kegaduhan dan kekeruhan itu bukan hanya terjadi saat ini. Bahkan, muncul fenomena "mancing di air keruh" di tengah persoalan, yang ujungnya meminjam bahasa pemersatu "untuk kebersamaan" demi menutupi kepentingan pribadi. Kita membutuhkan sosok yang mampu menjernihkan persoalan bukan yang pandai bersilat lidah di depan panggung, melainkan sosok yang memiliki "Mentalitas Punggung". Sosok yang mau menopang tanpa pamrih, yang berani berdiri di belakang untuk memastikan kebenaran tetap tegak, dan mampu meredam kegaduhan dengan keheningan nuraninya.

Sadar diri berawal dari hati. Sebab, di dalam hatilah tempat bersemayamnya kejujuran yang selaras dengan punggung. Jika hati telah dikuasai oleh ambisi, maka punggung akan dipaksa menanggung beban kebohongan. Namun, jika hati memiliki kesadaran, ia akan menghargai punggung sebagai fondasi pengabdian. Kita perlu menjernihkan hati agar tidak lagi terjebak dalam bahasa pemersatu yang semu. Jangan sampai kalimat "untuk kebersamaan" hanya menjadi jaring yang ditebar untuk memancing di air yang sengaja dikeruhkan.

Borobudur tidak butuh lebih banyak orang yang ingin "memiliki". Borobudur butuh lebih banyak orang yang mau "menjaga". Menjaga bukan berarti menguasai. Menjaga adalah kesediaan untuk menjadi bagian dari tulang punggung peradaban; yang kuat namun tidak kasar, yang menopang namun tidak menekan, dan yang memberi kekuatan namun tidak meminta imbalan.

Maka, marilah kita kembali ke titik nol. Memasuki Mandala Suci ini dengan punggung yang tunduk dalam sujud syukur, bukan dengan dada yang membusung karena nafsu duniawi. Jika kita menengok kembali pada relief dan batu-batu yang membisu itu, kita akan menemukan jawaban bahwa Borobudur tidak dibangun untuk kebisingan tepuk tangan, apalagi untuk hiruk-pikuk eksploitasi. Ia dibangun sebagai Monumen Keheningan. Sebuah kompas spiritual agar manusia mampu menundukkan punggungnya dalam sujud dan penghormatan, bukan membusungkan dada dalam kesombongan.

Kesadaran dari falsafah punggung ini membawa kita pada satu titik balik: Ruwat Rawat Borobudur adalah upaya mengembalikan Borobudur pada fungsi aslinya sebagai simbol kedamaian. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri:

·         Apakah kita merawat Borobudur karena mencintai akarnya, atau hanya ingin memanen buahnya?

·         Apakah kita menjaga Mandala Suci ini agar ia tetap "hidup", atau sekadar menjadikannya komoditas yang kita peras hingga kering?

Belajar dari punggung berarti belajar untuk merelakan eksistensi demi esensi. Kita harus rela tidak terlihat, asal nilai-nilai luhur Borobudur tetap tegak. Kita harus rela tidak memimpin di depan, asal napas spiritualitasnya tidak terputus.

24 tahun perjalanan Ruwat Rawat Borobudur adalah perjalanan "menjadi punggung". Menjadi penyangga yang kokoh di tengah badai modernitas dan keserakahan. Karena hanya dengan punggung yang tulus, kita bisa memastikan bahwa Borobudur tetap menjadi tempat di mana manusia bisa menemukan kembali jati dirinya yang paling murni: dalam keheningan, dalam kedamaian, dan dalam pengabdian yang tanpa pamrih.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar