Belajar dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, hingga Laku Raden Mas Panji Sosrokartono - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Jumat, 01 Mei 2026

Belajar dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, hingga Laku Raden Mas Panji Sosrokartono

Memayu Hayuning Borobudur: Merawat Mandala, Menjaga Kesadaran

Dalam Webinar Sekolah Kehidupan Ke 11 Th 2026 Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Dalam perjalanan panjang peradaban Nusantara, ada warisan yang tidak hanya berdiri sebagai batu, tetapi sebagai penjaga makna. Salah satunya adalah Candi Borobudur sebuah mahakarya yang selama berabad-abad tidak sekadar menjadi simbol kejayaan masa lalu, melainkan juga cermin perjalanan batin manusia.

Borobudur, yang secara filosofis dikenal sebagai Bhumisambhara Budhara Gunung Himpunan Kebajikan dari Sepuluh Tingkatan Bodhisattva dibangun bukan hanya sebagai monumen fisik. Ia adalah mandala, sebuah ruang suci yang menyusun ulang kesadaran manusia dari dunia hasrat menuju pencerahan. Setiap relief, setiap undakan, dan setiap stupa menjadi bahasa sunyi yang mengajak manusia untuk memahami dirinya sendiri.

Namun, seiring waktu, cara kita memandang Borobudur mengalami pergeseran. Ia kerap ditempatkan semata sebagai destinasi wisata, bahkan tidak jarang direduksi menjadi komoditas ekonomi. Dalam perspektif ini, Borobudur seakan ditarik turun ke ranah Kamadhatu alam hasrat, tempat segala sesuatu diukur dari keuntungan dan angka kunjungan.

Padahal, jika hanya berhenti pada itu, kita sedang perlahan melupakan ruh terdalam yang menjadikan Borobudur hidup sebagai warisan peradaban.

Ruwat Rawat Borobudur: Gerakan dari Hati Nurani

Di tengah arus perubahan tersebut, lahirlah sebuah gerakan yang tidak selalu riuh, tetapi konsisten dalam laku: Ruwat Rawat Borobudur.

Gerakan ini tumbuh dari masyarakat, berakar dari rasa memiliki, dan bergerak atas dasar ikatan batin terhadap Borobudur. Berawal dari semangat gotong royong pasca restorasi besar, gerakan ini tidak hanya berbicara tentang menjaga batu, tetapi juga merawat makna.

Selama 24 tahun perjalanannya, Ruwat Rawat Borobudur telah menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, budaya, dan kesadaran kolektif. Ritual, doa, dan laku budaya menjadi medium untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan warisan leluhur.

Namun, memasuki usia ke-24, tumbuh kesadaran baru: bahwa menjaga Borobudur tidak cukup hanya dengan laku budaya perlu pula ruang pemikiran, ruang dialog, dan ruang perumusan arah masa depan.

Webinar sebagai Ruang Dialektika Kesadaran

Dalam konteks itulah diselenggarakan Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 Tahun 2026.

Webinar ini tidak sekadar forum diskusi biasa, melainkan dirancang sebagai ruang dialektika kesadaran, tempat nilai-nilai lama dan realitas modern dipertemukan secara jujur dan terbuka.

Dalam tradisi Jawa, kebijaksanaan tidak selalu hadir dalam bentuk teori. Ia sering hadir melalui simbol dan laku. Sosok seperti Semar Badranaya bukan sekadar tokoh pewayangan, tetapi representasi suara hati nurani yang sederhana, jujur, dan mendalam.

Demikian pula Sabdo Palon dimaknai sebagai penjaga keseimbangan nilai, pengingat agar manusia tidak tercerabut dari akar kebijaksanaan leluhurnya.

Sementara itu, pemikiran Raden Mas Panji Sosrokartono menghadirkan dimensi lain bahwa pembangunan sejati tidak dimulai dari luar, melainkan dari dalam diri manusia. Laku, kesadaran, dan kejernihan batin menjadi fondasi utama perubahan.

Ketiga poros ini simbol, wangsit, dan laku menjadi benang merah untuk membaca kembali Borobudur, bukan sebagai objek, tetapi sebagai arsitektur kesadaran.

Borobudur dan Pergeseran Paradigma

Salah satu isu penting yang diangkat dalam webinar ini adalah pergeseran paradigma dalam pengelolaan Borobudur.

Di satu sisi, kebutuhan konservasi menuntut pembatasan. Di sisi lain, kepentingan ekonomi mendorong keterbukaan akses. Di tengah itu, masyarakat lokal kerap berada pada posisi yang belum sepenuhnya dilibatkan sebagai subjek utama.

Ketegangan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan cara pandang.

Jika Borobudur hanya dilihat sebagai objek wisata, maka solusi yang muncul akan cenderung ekonomis. Namun jika ia dipahami sebagai mandala sebagai pusat nilai dan kesadaran maka pendekatannya harus lebih utuh, lebih dalam, dan lebih berimbang.

Memayu Hayuning Bawana: Jalan Tengah yang Dilupakan

Dalam khazanah kearifan Jawa, terdapat satu konsep penting: Memayu Hayuning Bawana—memperindah dan menjaga harmoni dunia.

Konsep ini bukan sekadar filosofi, tetapi panduan hidup. Dalam konteks Borobudur, ia mengajarkan bahwa pengelolaan harus menjaga keseimbangan antara:

  • konservasi fisik, agar warisan tetap lestari,
  • pemaknaan spiritual, agar nilai tidak hilang, dan
  • peran masyarakat lokal, sebagai penjaga harmoni (pager mangkok).

Ketika salah satu unsur ini diabaikan, keseimbangan akan terganggu. Dan ketika keseimbangan terganggu, yang hilang bukan hanya fungsi, tetapi juga makna.

Wangsit (Pepeling) sebagai Kesadaran Kultural

Dalam tradisi Jawa, istilah wangsit kerap disalahpahami sebagai sesuatu yang mistis. Padahal, dalam pengertian yang lebih dalam, wangsit adalah kesadaran kultural yang lahir dari perenungan panjang.

Ia bukan suara dari luar, melainkan gema dari dalam yang hadir ketika manusia mulai mendengarkan dengan jernih.

Dalam konteks Borobudur, berkembang pemahaman bahwa jika pusaka besar ini dikelola tanpa kebijaksanaan, maka ia berpotensi kehilangan ruh-nya. Dampaknya tidak hanya pada situs, tetapi juga pada keseimbangan sosial, budaya, bahkan ekologis.

Ini bukan ancaman, melainkan pengingat.

Menuju Tata Kelola yang Berkesadaran

Melalui webinar ini, diharapkan lahir bukan hanya wacana, tetapi juga arah.

Sebuah arah yang mampu:

  • mengembalikan Borobudur sebagai pusat peradaban dan pembelajaran,
  • menjembatani kebijakan modern dengan nilai-nilai leluhur, serta
  • mendorong lahirnya model pariwisata yang lebih berkualitas dan bermakna.

Lebih dari itu, webinar ini adalah ajakan untuk melihat Borobudur dengan cara yang berbeda tidak hanya dengan mata, tetapi dengan kesadaran.

Borobudur sebagai Cahaya

Mengelola Borobudur bukan sekadar pekerjaan administratif. Ia adalah laku prihatin, sebuah tanggung jawab batin untuk menjaga pusaka peradaban.

Sebagaimana pesan yang hidup dalam tradisi, kejayaan tidak lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari kemampuan manusia untuk kembali pada jati dirinya menghormati alam, menghargai leluhur, dan menjaga keseimbangan.

Borobudur, dalam maknanya yang paling dalam, bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cahaya untuk masa depan.

Dan tugas kita hari ini bukan sekadar merawat batunya, tetapi menjaga agar cahaya itu tetap menyala.

Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti.
Segala keras hati dan angkara murka akan luluh oleh kelembutan dan kasih sayang.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar