Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, 28 Mei 2026 — Dalam
rangka memperingati 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, kegiatan
rutin Bincang Sekolah Kehidupan edisi ke-15 berlangsung hangat, meriah,
dan penuh makna pada Kamis (28/5), bertempat di Pendopo Kampung Seni Borobudur.
Mengangkat tema “Borobudur dalam Logika Angka”, forum ini menjadi ruang
dialog yang tidak hanya membahas nilai sejarah dan spiritual Borobudur, tetapi
juga menyentuh persoalan ekonomi masyarakat, kepedulian lingkungan, hingga
harmoni sosial yang tumbuh di sekitar kawasan candi.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga
12.00 WIB ini dipandu langsung oleh Sucoro Setrodiharjo selaku penggagas
Komunitas Brayat Panangkaran Borobudur. Sebanyak 71 peserta hadir dari
berbagai latar belakang, mulai dari unsur pendidikan, komunitas sosial,
akademisi, hingga pegiat budaya.
Para narasumber berasal dari berbagai institusi dan
komunitas, di antaranya Sekolah Tinggi Agama Buddha Wonogiri, Kementerian Agama
melalui Bimas Buddha Temanggung, Komunitas Bank Sampah Mertoyudan, SMK Pratama
Salaman, serta para pemikir dan pegiat budaya seperti Novita Siswayanti
(BRIN), Sapto Nugroho (Brayat Panangkaran Borobudur),Farra Respai dari
Komunitas Topeng Ireng, Gepeng Dwijakongko Angkringan Malem Minggon, Ariyadi (Pelukis), dan Dhesta dari Universitas
Mercu Buana Yogyakarta.
Waisak:
Lebih dari Sekadar Perayaan
Salah satu pembahasan utama dalam forum ini adalah
pemaknaan Hari Raya Waisak yang setiap tahun menjadikan Borobudur sebagai pusat
perhatian dunia. Dalam diskusi ditegaskan bahwa Waisak bukan sekadar perayaan
seremonial atau keramaian tahunan, melainkan momentum suci yang memperingati tiga
peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha, yakni kelahiran, pencapaian
pencerahan sempurna, dan wafat (parinibbana).
Diskusi juga menggarisbawahi bahwa pemahaman
mendalam tentang makna Waisak masih menjadi tantangan, baik di kalangan
masyarakat sekitar kawasan Borobudur maupun para pelajar. Banyak yang masih
melihat Waisak hanya sebatas peristiwa wisata atau festival budaya.
Salah satu pembahasan menarik muncul ketika
membicarakan prosesi Kirab Abhiseka dari Candi Mendut menuju Borobudur.
Di mata sebagian masyarakat, prosesi tersebut sering dipahami sebagai pawai
budaya biasa. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh salah satu narasumber,
perjalanan tersebut sejatinya merupakan bagian dari ritual ibadah itu sendiri.
Para bhikkhu yang berjalan sambil melantunkan doa
sepanjang perjalanan memperlihatkan bahwa sembahyang tidak hanya dilakukan
dalam posisi duduk diam di ruang ibadah, tetapi juga dapat dijalankan melalui
langkah-langkah perjalanan yang sarat rasa syukur, kesadaran, dan doa bagi
kehidupan.
Logika
Angka: Ketika Spiritualitas Bertemu Ekonomi
Tema “Borobudur dalam Logika Angka” juga
mengajak peserta melihat Waisak dari perspektif lain, yakni melalui angka-angka
kehadiran manusia dan dampaknya terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.
Keramaian Waisak dipandang bukan sekadar lonjakan
jumlah pengunjung, melainkan juga peluang ekonomi yang nyata bagi warga
sekitar. Desta dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta menyoroti kecerdasan
masyarakat lokal dalam menangkap peluang tersebut, salah satunya melalui
inovasi produk dan minuman khas yang menjadi incaran para pengunjung saat perayaan
berlangsung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai spiritual dan
nilai ekonomi tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan
beriringan selama tetap menjaga penghormatan terhadap kesucian ruang dan makna
perayaan itu sendiri.
Kepedulian
Lingkungan: Dari Sampah Menjadi Energi Kehidupan
Pembahasan lain yang tidak kalah penting datang
dari Komunitas Bank Sampah Mertoyudan. Mereka memaparkan berbagai inovasi
pengelolaan sampah yang selama ini sering dipandang sebagai masalah, namun
ternyata menyimpan nilai ekonomi dan energi yang besar.
Berbagai limbah diolah menjadi produk yang memiliki
manfaat baru, mulai dari kerajinan, lilin, hingga produk ramah lingkungan.
Gagasan ini dinilai sangat relevan dengan momentum Waisak, terutama ketika
kawasan Borobudur dipadati ribuan orang dan menghasilkan volume sampah yang
meningkat.
Diskusi mengajak semua pihak untuk memandang Waisak
bukan hanya sebagai perayaan spiritual, tetapi juga sebagai momentum membangun
kesadaran ekologis bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan
merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap ruang suci dan warisan
budaya dunia.
Keprihatinan serupa juga disampaikan oleh Kepala
Sekolah SMK Pratama Salaman, Bapak Joko, yang menilai bahwa potensi
pengelolaan lingkungan di kawasan Borobudur masih belum dimanfaatkan secara
maksimal.
“Ini bukan semata tanggung jawab umat Buddha saja,
tetapi tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa Borobudur
bukan hanya milik satu kelompok, melainkan warisan bersama yang membutuhkan
keterlibatan lintas masyarakat untuk merawat keberlanjutannya.
Harmoni
dalam Perbedaan: Borobudur sebagai Ruang Hidup Bersama
Salah satu pembahasan paling mendalam dalam Bincang
Sekolah Kehidupan kali ini menyentuh kehidupan sosial masyarakat sekitar
Borobudur yang mayoritas beragama Islam, namun hidup berdampingan dengan
aktivitas spiritual umat Buddha.
Diskusi menegaskan bahwa perbedaan keyakinan
bukanlah sumber pertentangan, melainkan kekayaan sosial yang justru menjadi
kekuatan utama kawasan Borobudur. Cara pandang terhadap spiritualitas boleh
berbeda, begitu pula kepentingan sosial dan ekonomi yang tumbuh di sekitar
kawasan, namun semua itu dapat berjalan bersama dalam semangat saling
menghormati.
Borobudur dipahami sebagai ruang hidup bersama:
tempat umat Buddha menjalankan ibadah dan menjaga kesucian spiritual, sekaligus
ruang kehidupan masyarakat sekitar untuk tumbuh secara ekonomi dan sosial.
Narasi yang dibangun bukan tentang benturan identitas, melainkan tentang saling
percaya, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam keberagaman.
Diskusi semakin kaya melalui pandangan dari
narasumber lain, termasuk perwakilan Kementerian Agama, Fauzian, serta Mbak
Desi, yang memperluas perspektif mengenai kebijakan, kehidupan sosial, pendidikan,
dan kebudayaan.Disela-sela perbincangan Sucoro selaku pembawa acara membagikan
sejumlah buku karyanya, serta mengajak paserta untuk menulis opini Borobudur
yang akan diseleksi pada bl Agustus mendatang
Di akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat bahwa Borobudur
bukan sekadar bangunan candi, melainkan ruang kehidupan yang menyimpan
berjuta makna: sejarah, spiritualitas, ekonomi, lingkungan, hingga keberagaman
sosial. Semua itu perlu terus dirawat, ditafsirkan, dan diwariskan agar tetap
relevan bagi generasi masa depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar