ECO ENZYM , SAMPAH, DAN MASA DEPAN BOROBUDUR - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 25 Mei 2026

ECO ENZYM , SAMPAH, DAN MASA DEPAN BOROBUDUR

Bincang Sekolah Kehidupan Hadirkan Tiga Ibu Rumah Tangga Kreatif dan Perspektif BRIN tentang Pendidikan Lingkungan untuk Pewarisan Borobudur kepada Anak Bangsa

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur, Magelang – Persoalan sampah kini menjadi tantangan besar di berbagai kawasan, termasuk kawasan strategis warisan budaya dunia seperti Borobudur. Namun, di tengah persoalan tersebut, tumbuh berbagai inisiatif kreatif masyarakat yang mengubah cara pandang terhadap sampah: dari sesuatu yang dibuang menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan kebermanfaatan.

Semangat inilah yang akan menjadi salah satu perhatian dalam Borobudur Dalam Logika Angka ,Bincang Sekolah Kehidupan ke-17 Tahun 2026, bagian dari rangkaian 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, dengan tema besar “Membuka Jalan Masa Depan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa.” Forum ini tidak hanya menghadirkan diskusi tentang budaya dan masa depan pengelolaan Borobudur, tetapi juga merefleksikan pentingnya keseimbangan antara pelestarian warisan budaya, lingkungan hidup, dan pendidikan generasi muda.

Persoalan tersebut akan dipaparkan secara gamblang dalam “Gelar Borobudur Dalam Logika Angka” – Bincang Sekolah Kehidupan yang diselenggarakan pada 28–30 Mei 2026 di Kampoeng Seni Borobudur. Forum ini menjadi ruang dialog lintas pengetahuan untuk membahas berbagai tantangan masa depan Borobudur, termasuk pengelolaan lingkungan, pendidikan masyarakat, pewarisan budaya, serta keseimbangan antara spiritualitas, pariwisata, dan keberlanjutan kawasan.

Dalam forum tersebut, tiga ibu rumah tangga kreatif, yakni Ari Yuliani, Dayumia Wulandari, dan Purwanti, akan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat dan pendidikan lingkungan.

Ari Yuliani, pembimbing kelompok ibu rumah tangga kreatif, menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan pembuangan semata, tetapi harus dibangun melalui perubahan cara pandang masyarakat terhadap limbah.

“Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sumber manfaat, maka akan lahir kreativitas, ekonomi keluarga, sekaligus pendidikan lingkungan,” ujarnya.

Salah satu gagasan menarik yang berkembang dari pengalaman lapangan Dayumia Wulandari dan Purwanti adalah konsep Eco Engine, yaitu sistem atau metode pengolahan sampah ramah lingkungan yang mengubah limbah organik maupun anorganik menjadi barang yang kembali memiliki nilai guna. Dalam pendekatan ini, sampah tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibuang, melainkan dipandang sebagai bahan baku baru yang dapat dimanfaatkan kembali.

Berbagai praktik sederhana telah dilakukan, mulai dari pengolahan minyak goreng bekas (jelantah) menjadi sabun, pemanfaatan limbah organik sebagai media budidaya jamur tiram, hingga pengolahan kardus bekas menjadi karya seni dan media kreatif. Kardus yang semula dianggap sampah dapat dihancurkan menjadi bubur kertas, lalu dibentuk menjadi relief, patung, hingga karya visual bernilai edukatif.

Pendekatan tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan nilai spiritualitas Borobudur yang mengajarkan keseimbangan hidup, kesadaran, dan penghormatan terhadap alam. Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sekadar persoalan kebersihan, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan pewarisan nilai kehidupan.

Dalam rangkaian Bincang Sekolah Kehidupan, perspektif ilmiah juga akan diperkuat oleh Novita Siswayanti dari BRIN, yang akan memberikan pandangan mengenai pentingnya penguatan pengetahuan, riset, serta pendidikan lingkungan dalam menjaga keberlanjutan kawasan warisan budaya. Keterhubungan antara ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan partisipasi masyarakat dipandang penting untuk membangun masa depan Borobudur yang lebih berkelanjutan.

Dalam perspektif Sekolah Kehidupan, pembelajaran seperti ini menjadi penting diwariskan kepada anak-anak dan generasi muda di kawasan Borobudur. Pewarisan Borobudur tidak cukup hanya mengenalkan candi sebagai bangunan monumental, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan yang diwariskan leluhur: menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.

Selama lebih dari dua dekade, gerakan Ruwat Rawat Borobudur yang diinisiasi Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur terus menghadirkan ruang pewarisan pengetahuan melalui buku, dialog kebudayaan, Sekolah Kehidupan, hingga ruang partisipasi masyarakat. Kini, isu lingkungan dan pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dari percakapan tentang masa depan Borobudur.

Sebab, merawat Borobudur tidak hanya menjaga batunya tetap berdiri, tetapi juga memastikan nilai-nilai kehidupannya tetap tumbuh dalam perilaku masyarakat. Dari pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, hingga kesadaran spiritual, semuanya menjadi bagian dari jalan panjang pewarisan Borobudur untuk anak bangsa.

“Borobudur akan tetap hidup ketika nilai-nilainya diwariskan dalam cara hidup masyarakat yang menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.”

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

 

Bottom of Form

 


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar