Bincang
Sekolah Kehidupan Hadirkan Tiga Ibu Rumah Tangga Kreatif dan Perspektif BRIN
tentang Pendidikan Lingkungan untuk Pewarisan Borobudur kepada Anak Bangsa
Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, Magelang – Persoalan sampah kini menjadi tantangan besar di
berbagai kawasan, termasuk kawasan strategis warisan budaya dunia seperti
Borobudur. Namun, di tengah persoalan tersebut, tumbuh berbagai inisiatif
kreatif masyarakat yang mengubah cara pandang terhadap sampah: dari sesuatu
yang dibuang menjadi sumber pembelajaran, kreativitas, dan kebermanfaatan.
Semangat inilah yang akan menjadi salah satu perhatian dalam Borobudur
Dalam Logika Angka ,Bincang Sekolah Kehidupan ke-17 Tahun 2026, bagian dari
rangkaian 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, dengan tema besar “Membuka Jalan Masa
Depan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa.” Forum ini tidak hanya
menghadirkan diskusi tentang budaya dan masa depan pengelolaan Borobudur,
tetapi juga merefleksikan pentingnya keseimbangan antara pelestarian warisan
budaya, lingkungan hidup, dan pendidikan generasi muda.
Persoalan tersebut akan dipaparkan secara gamblang dalam “Gelar Borobudur
Dalam Logika Angka” – Bincang Sekolah Kehidupan yang diselenggarakan pada 28–30
Mei 2026 di Kampoeng Seni Borobudur. Forum ini menjadi ruang dialog lintas
pengetahuan untuk membahas berbagai tantangan masa depan Borobudur, termasuk
pengelolaan lingkungan, pendidikan masyarakat, pewarisan budaya, serta
keseimbangan antara spiritualitas, pariwisata, dan keberlanjutan kawasan.
Dalam forum tersebut, tiga ibu rumah tangga kreatif, yakni Ari Yuliani,
Dayumia Wulandari, dan Purwanti, akan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan
sampah berbasis pemberdayaan masyarakat dan pendidikan lingkungan.
Ari Yuliani, pembimbing kelompok ibu rumah tangga kreatif, menjelaskan
bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan
pembuangan semata, tetapi harus dibangun melalui perubahan cara pandang
masyarakat terhadap limbah.
“Ketika masyarakat mulai melihat sampah sebagai sumber manfaat, maka akan
lahir kreativitas, ekonomi keluarga, sekaligus pendidikan lingkungan,” ujarnya.
Salah satu gagasan menarik yang berkembang dari pengalaman lapangan
Dayumia Wulandari dan Purwanti adalah konsep Eco Engine, yaitu sistem atau
metode pengolahan sampah ramah lingkungan yang mengubah limbah organik maupun
anorganik menjadi barang yang kembali memiliki nilai guna. Dalam pendekatan
ini, sampah tidak berhenti sebagai sesuatu yang dibuang, melainkan dipandang
sebagai bahan baku baru yang dapat dimanfaatkan kembali.
Berbagai praktik sederhana telah dilakukan, mulai dari pengolahan minyak
goreng bekas (jelantah) menjadi sabun, pemanfaatan limbah organik
sebagai media budidaya jamur tiram, hingga pengolahan kardus bekas menjadi
karya seni dan media kreatif. Kardus yang semula dianggap sampah dapat
dihancurkan menjadi bubur kertas, lalu dibentuk menjadi relief, patung, hingga
karya visual bernilai edukatif.
Pendekatan tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan nilai spiritualitas
Borobudur yang mengajarkan keseimbangan hidup, kesadaran, dan penghormatan
terhadap alam. Karena itu, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sekadar
persoalan kebersihan, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan pewarisan
nilai kehidupan.
Dalam rangkaian Bincang Sekolah Kehidupan, perspektif ilmiah juga akan
diperkuat oleh Novita Siswayanti dari BRIN, yang akan memberikan pandangan
mengenai pentingnya penguatan pengetahuan, riset, serta pendidikan lingkungan
dalam menjaga keberlanjutan kawasan warisan budaya. Keterhubungan antara ilmu
pengetahuan, kebudayaan, dan partisipasi masyarakat dipandang penting untuk
membangun masa depan Borobudur yang lebih berkelanjutan.
Dalam perspektif Sekolah Kehidupan, pembelajaran seperti ini menjadi
penting diwariskan kepada anak-anak dan generasi muda di kawasan Borobudur.
Pewarisan Borobudur tidak cukup hanya mengenalkan candi sebagai bangunan
monumental, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan yang diwariskan leluhur:
menjaga keseimbangan antara manusia, budaya, dan alam.
Selama lebih dari dua dekade, gerakan Ruwat Rawat Borobudur yang
diinisiasi Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur terus menghadirkan ruang
pewarisan pengetahuan melalui buku, dialog kebudayaan, Sekolah Kehidupan,
hingga ruang partisipasi masyarakat. Kini, isu lingkungan dan pengelolaan
sampah juga menjadi bagian penting dari percakapan tentang masa depan
Borobudur.
Sebab, merawat Borobudur tidak hanya menjaga batunya tetap berdiri,
tetapi juga memastikan nilai-nilai kehidupannya tetap tumbuh dalam perilaku
masyarakat. Dari pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, hingga kesadaran
spiritual, semuanya menjadi bagian dari jalan panjang pewarisan Borobudur untuk
anak bangsa.
“Borobudur akan tetap hidup ketika nilai-nilainya diwariskan dalam cara
hidup masyarakat yang menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar