Sekolah
Kehidupan ke-18 Tahun 2026 Hadirkan Ruang Dialog Mencari Keseimbangan
Pelestarian, Perlindungan, dan Pemanfaatan Borobudur
Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, Magelang —
Penyelenggaraan Sekolah Kehidupan ke-18 Tahun 2026 dalam rangkaian 24
Tahun Ruwat Rawat Borobudur mendapat perhatian dan dukungan dari LestraGP,
sebuah lembaga non-pemerintah yang bergerak dalam penguatan demokrasi,
pendidikan kewarganegaraan, dan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama ini
ditindaklanjuti melalui penyelenggaraan seminar sebagai ruang dialog bersama
guna membangun arah masa depan pewarisan nilai-nilai Borobudur kepada generasi
penerus bangsa.
Mengangkat tema “Membuka Jalan Masa Depan
Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa” dengan subtema “Mencari
Keseimbangan antara Pelestarian, Perlindungan, dan Pemanfaatan Borobudur
melalui Kesadaran Spiritual”, forum ini diharapkan menjadi ruang refleksi
sekaligus musyawarah lintas perspektif dalam memandang masa depan Borobudur
secara lebih utuh.
Ketua Panitia 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro
Setrodiharjo, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya
memperkuat pewarisan nilai-nilai Borobudur kepada anak bangsa, tidak hanya
dalam aspek fisik dan kebendaan, tetapi juga pada dimensi spiritualitas,
kebudayaan, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Daniel Hakiki mengatakan seminar ini
direncanakan menghadirkan sejumlah profesor lintas disiplin ilmu, tokoh agama
dan kepercayaan, masyarakat Borobudur, serta diharapkan dapat dihadiri oleh
Menteri Kebudayaan guna memperkaya dialog mengenai masa depan Borobudur.
Bagi Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, Borobudur tidak
sekadar dipahami sebagai candi, destinasi wisata, maupun warisan budaya dunia.
Lebih dari itu, Borobudur dipandang sebagai ruang peradaban yang lahir dari
perjumpaan spiritualitas, kebudayaan, alam, dan kehidupan masyarakat yang
tumbuh bersama selama berabad-abad.
Karena itu, masa depan Borobudur dinilai tidak
cukup hanya bertumpu pada konservasi fisik ataupun pengembangan pariwisata
semata. Diperlukan keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, pemanfaatan,
penguatan nilai spiritual, serta kesejahteraan masyarakat di kawasan sekitar
Borobudur.
Selama kurang lebih empat dekade pengelolaan
kawasan, berbagai capaian penting telah terbangun dalam aspek konservasi dan
pengembangan pariwisata. Namun demikian, sejumlah dinamika masih menjadi
perhatian bersama, mulai dari penguatan fungsi spiritual Borobudur, tata kelola
kawasan, kesejahteraan masyarakat, hingga arah pewarisan nilai-nilai Borobudur
kepada generasi mendatang.
Berbagai kebijakan pengelolaan kawasan menunjukkan
bahwa Borobudur membutuhkan ruang dialog yang inklusif, terbuka, dan berbasis
musyawarah. Ruang tersebut menjadi penting untuk mempertemukan perspektif
kebudayaan, spiritualitas, konservasi, kebijakan publik, pariwisata, serta
aspirasi masyarakat agar tercipta titik keseimbangan yang berkeadilan dan
berkelanjutan.
Dalam semangat 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat
Borobudur, Sekolah Kehidupan ke-18 Tahun 2026 dihadirkan sebagai ruang
pemikiran bersama guna merumuskan arah baru keseimbangan antara pelestarian,
perlindungan, dan pemanfaatan Borobudur melalui kesadaran spiritual.
Harapannya, Borobudur tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga tetap hidup
sebagai sumber nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan yang diwariskan kepada
anak bangsa.
Kegiatan ini akan diselenggarakan secara daring dan luring (hybrid)
pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 4 Juni 2026
Waktu : Pukul 09.00 WIB – selesai
Tempat : Kantor LestraGP, Jl. Sumbing No. 1, Gajahmungkur, Semarang,
serta melalui Zoom Meeting.
Melalui forum ini, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur
berharap lahir gagasan, pemikiran, dan langkah bersama yang mampu memperkuat
masa depan pewarisan Borobudur—bukan hanya sebagai warisan dunia, melainkan
juga sebagai warisan hidup untuk anak bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar