Bincang Sekolah Kehidupan ke-16 Angkat Imajinasi Spiritual Borobudur Lintas Seni dan Keilmuan - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 28 Mei 2026

Bincang Sekolah Kehidupan ke-16 Angkat Imajinasi Spiritual Borobudur Lintas Seni dan Keilmuan

Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur, 29 Mei 2026 – Ruang dialog publik Bincang Sekolah Kehidupan kembali digelar pada edisi ke-16 dengan mengangkat tema “Imajinasi Spiritual Borobudur Dalam  Logika Angka, dan Makna di Balik Warisan Semesta”, Jumat (29/5/2026), pukul 08.00–12.00 WIB di Kampoeng Seni Borobudur. Forum ini menjadi ruang perjumpaan antara seni, spiritualitas, pengetahuan lokal, dan perspektif akademik untuk membaca kembali Borobudur sebagai sumber inspirasi kehidupan.

Pada edisi kali ini, dua pelukis asal Semarang, Asep Loe dan Herman Serta Pelukis asal Magelang Widoyo , hadir sebagai narasumber utama. Keduanya akan membagikan pengalaman kreatif sekaligus refleksi spiritual dalam memaknai Borobudur melalui karya seni rupa. Bagi para seniman, Borobudur bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang inspirasi yang terus hidup, melahirkan imajinasi dan tafsir baru dalam bahasa visual.

Diskusi akan semakin diperkaya melalui kehadiran pembahas lintas keilmuan dari Universitas Tidar Magelang , yang akan menghadirkan perspektif dari berbagai bidang ilmu dalam membaca spiritualitas Borobudur mulai dari seni, budaya, pendidikan, pertanian, ekonomi, hingga pariwisata. Kehadiran akademisi kampus diharapkan mampu menjembatani dialog antara pengetahuan masyarakat, praktik seni, dan kajian ilmiah tentang Borobudur sebagai ruang hidup yang terus berkembang.

Selain membahas seni dan spiritualitas, forum ini juga akan menyentuh pengetahuan lokal seperti Pranoto Mangso, yang memperlihatkan keterhubungan antara alam, pertanian, ritme kehidupan masyarakat, dan nilai spiritual yang tumbuh di sekitar kawasan Borobudur. Pada saat yang sama, diskusi juga akan mengulas tantangan menjaga makna spiritual Borobudur di tengah arus pariwisata dan dinamika ekonomi kawasan.

Acara ini akan dipandu oleh Sucoro Setrodiharjo sebagai moderator, sekaligus penggerak ruang dialog Sekolah Kehidupan. Turut hadir pula Novita Siswayanti dari Kelompok Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, yang selama ini aktif melakukan kajian mengenai masyarakat dan kebudayaan di sekitar Borobudur.

Melalui Bincang Sekolah Kehidupan edisi ke-16, penyelenggara berharap lahir ruang pembelajaran bersama yang mempertemukan pengalaman artistik, pengetahuan akademik, serta kebijaksanaan lokal dalam satu meja dialog. Sebab, Borobudur bukan hanya warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi kehidupan yang terus diwariskan dan dimaknai lintas generasi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar