Oleh
: Sucoro Setrodiharjo
Candi
Borobudur, warisan budaya dunia yang menjadi kebanggaan bangsa
Indonesia, saat ini berada di persimpangan jalan. Di balik kemegahan susunan
batu yang telah berdiri lebih dari seribu tahun, tersimpan berbagai persoalan
yang memunculkan kekhawatiran baik dari sisi arah pengembangan pariwisata
maupun dampaknya terhadap kehidupan masyarakat yang menggantungkan nasib di
kawasan ini.
Menyikapi
kondisi tersebut, Brayat Panangkaran melalui gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur hadir bukan sekadar
acara seremonial, melainkan sebagai gerakan berbasis hati nurani. Gerakan ini
berangkat dari kesadaran pribadi yang kemudian tumbuh menjadi kesadaran
kolektif, sebagai wujud ikatan batin dan kesetiaan terhadap Borobudur. Berawal
dari inisiatif personal yang mendapatkan dukungan masyarakat secara gotong
royong pascarestorasi kedua, warga secara sukarela mengawal kelestarian candi
melalui pentas seni dan upacara tradisi yang berfungsi menjaga nilai-nilai
spiritual, demi terwujudnya keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan
pemanfaatan Borobudur.
Seiring
waktu, hingga memasuki usia ke-24 tahun, gerakan ini berkembang semakin
mandiri. Fokusnya tidak hanya pada kegiatan budaya, tetapi juga pada penguatan
pengetahuan melalui diskusi, kajian, serta penerbitan buku sebagai dokumentasi
dan warisan pengalaman panjang dalam mengawal perawatan situs warisan dunia tersebut.
Berbagai
catatan dan pengamatan dari pengamat maupun pelaku usaha lokal menunjukkan
kondisi yang jauh dari harapan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa setiap
rencana perubahan harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak terutama
masyarakat kecil yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem
Borobudur.
Kunjungan Menurun, Target Jauh dari Kenyataan
Salah
satu indikator yang paling nyata adalah penurunan jumlah pengunjung ke kawasan
candi utama. Pemerintah daerah menetapkan target 4.000 pengunjung pada periode
Lebaran, dengan kuota kunjungan yang ditingkatkan dari 1.200 menjadi 4.000
orang per hari. Namun pada kenyataannya, saat puncak kunjungan, jumlah
pengunjung hanya mencapai sekitar 1.800 orang per hari.
Angka
ini tidak hanya jauh dari target, tetapi juga menunjukkan penurunan signifikan
dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan sejumlah pertanyaan:
apakah dipengaruhi oleh situasi ekonomi global, perubahan minat wisatawan, atau
justru strategi pengelolaan dan branding yang belum tepat sasaran? Semua
kemungkinan ini memerlukan kajian yang mendalam dan tidak dapat disimpulkan
secara sepihak.
Menariknya,
di tengah penurunan kunjungan ke candi utama, sektor usaha pendukung justru
menunjukkan geliat. Wisata berbasis komunitas seperti jasa sewa mobil VW
mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi wisata kawasan
masih kuat, namun distribusi manfaatnya belum merata. Ada faktor-faktor
tertentu yang membuat wisatawan enggan masuk ke area inti candi.
Sejumlah
keluhan pengunjung turut memperkuat hal tersebut. Jarak tempuh dari area parkir
ke pintu masuk yang cukup jauh, keharusan berganti transportasi, harga tiket
yang relatif mahal, serta pembatasan durasi kunjungan hanya satu jam, menjadi
pertimbangan serius bagi wisatawan. Dalam konteks wisata budaya, waktu yang
singkat tentu tidak cukup untuk memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam
Borobudur.
Masyarakat Lokal yang Terpinggirkan
Di
balik angka statistik kunjungan, terdapat realitas yang lebih mendalam adalah nasib ribuan masyarakat lokal. Selama ini
telah menempatkan sektor pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi warga
sekitar Borobudur. Namun berbagai kebijakan pengelolaan justru semakin
menyempitkan ruang usaha mereka.
Di
kawasan Kampung Seni, misalnya, masih banyak warga yang belum memperoleh
penghidupan layak, meskipun berada di dekat salah satu destinasi wisata
terbesar di Indonesia. Hal serupa terjadi di Jalan Medang Kamulan, di mana para
pedagang mengalami penurunan pendapatan drastis akibat relokasi. Bagi mereka,
perpindahan lokasi bukan sekadar perubahan tempat, melainkan juga hilangnya
jaringan pelanggan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Kebijakan
satu pintu akses utama bagi wisatawan juga membawa dampak signifikan.
Masyarakat yang sebelumnya dapat memanfaatkan arus kunjungan kini kehilangan
kesempatan tersebut. Ruang ekonomi semakin terbatas, sementara manfaat
pariwisata terasa semakin terpusat pada kelompok tertentu.
Lebih
jauh, kelompok yang kerap dianggap mewakili masyarakat dalam forum kebijakan
sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Perspektif
yang dominan cenderung makro, sementara suara mayoritas warga yang terdampak
langsung justru kurang terakomodasi.
Rencana Pemasangan Chattra dan Tantangan ke Depan
Di
tengah situasi yang belum stabil, muncul rencana pemasangan chattra di puncak Borobudur. Rencana ini
memunculkan beragam respons dan kekhawatiran, terutama terkait dampaknya
terhadap masyarakat lokal.
Setiap
bentuk pengembangan baik berbasis nilai keagamaan, budaya, maupun strategi
pemasaran perlu dipertimbangkan secara menyeluruh. Aspek sosial dan ekonomi
harus menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar simbolik atau konseptual.
Sebagian
pihak mengkhawatirkan bahwa penonjolan aspek keagamaan tertentu dalam pengelolaan
dan promosi dapat memengaruhi minat kunjungan. Kekhawatiran ini lebih dilandasi
pertimbangan ekonomi daripada ideologis: ketika jumlah wisatawan menurun, maka
masyarakat kecil yang pertama kali merasakan dampaknya.
Potensi
resistensi terhadap rencana ini juga mulai terlihat. Meskipun jumlahnya tidak
besar, kelompok yang kritis umumnya memiliki kemampuan komunikasi dan jejaring
yang kuat, sehingga suaranya lebih terdengar. Penolakan yang muncul pun lebih
banyak dipicu oleh kekhawatiran terhadap dampak ekonomi jangka panjang.
Di
sisi lain, bagi kelompok yang mengatasnamakan masyarakat dan merasa memiliki
legitimasi karena kedekatannya dengan kebijakan maupun kekuasaan, sehingga
cenderung mempertahankan posisi yang ada dan kurang membuka ruang dialog terhadap
suara kritis. Sementara itu, tidak sedikit pula masyarakat yang memilih diam bukan
karena tidak peduli, tetapi karena terdesak keadaan, sehingga perlahan
mengalihkan sumber penghidupannya ke sektor lain demi bertahan hidup.
Situasi
ini bahkan telah menarik perhatian Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yang turun langsung meninjau
kondisi di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan Borobudur telah
melampaui isu pariwisata, dan menyentuh aspek hak asasi manusia khususnya hak
masyarakat untuk memperoleh penghidupan yang layak.
Sangat
disayangkan apabila warisan budaya yang seharusnya menjadi sumber kedamaian dan
kesejahteraan justru memicu kegaduhan. Tanpa perbaikan pendekatan dalam
pengelolaan, kondisi ini berpotensi berlarut-larut dan merusak citra Borobudur
sebagai destinasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Penutup
Borobudur
adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Pengembangannya harus memberikan manfaat
yang adil bagi semua lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir pihak. Setiap
rencana termasuk pemasangan chattra perlu
disusun melalui kajian mendalam, dialog terbuka, dan pelibatan aktif masyarakat
lokal sebagai pemangku kepentingan utama.
Keberhasilan
pengelolaan pariwisata tidak semata diukur dari jumlah pengunjung atau
pendapatan, tetapi dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh rakyat kecil.
Ketika keseimbangan ini terwujud, maka Borobudur tidak hanya akan tetap berdiri
megah sebagai warisan dunia, tetapi juga hidup sebagai sumber kesejahteraan
bersama.
Tulisan ini disusun berdasarkan catatan dan
pengamatan yang disampaikan oleh narasumber, sebagai bahan refleksi dan
pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar